Balikpapan, Kaltim, ruangenergi.com-Di jantung rawa dan sungai tua Kalimantan Timur, Lapangan Handil kembali berdetak lebih kuat. Setelah lebih dari setengah abad menopang produksi migas nasional, lapangan legendaris milik PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) itu membuktikan satu hal: usia tua bukan alasan untuk kehilangan tenaga.
Di balik deru compressor dan pipa-pipa baja yang membentang di Central Processing Area (CPA) Handil, ratusan pekerja berjibaku siang malam dalam operasi besar yang nyaris tak terlihat publik. Planned shutdown atau penghentian operasi terencana yang berlangsung pada April 2026 menjadi momen penting bagi PHM untuk “meremajakan” salah satu tulang punggung produksi migas nasional.
Hasilnya langsung terasa. Produksi Lapangan Handil melonjak menjadi 15.020 barel minyak per hari (bopd), sekitar lima persen lebih tinggi dibanding sebelum penghentian operasi dilakukan.
Direktur Utama PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI), Sunaryanto, menyebut peningkatan itu lahir dari optimalisasi sistem proses dan compressor setelah perawatan fasilitas dilakukan secara menyeluruh.
“Peningkatan produksi itu didukung oleh kinerja sistem proses dan compressor yang lebih optimal setelah pelaksanaan perawatan fasilitas,” ujarnya.
Bagi industri hulu migas, angka lima persen bukan sekadar statistik. Di lapangan mature seperti Handil—yang telah memproduksi migas selama lebih dari 50 tahun—kenaikan produksi adalah hasil dari presisi teknis, investasi jangka panjang, dan disiplin keselamatan yang ketat.
Program Handil Rejuvenation sendiri telah dipersiapkan sejak 2023. Proyek itu mencakup revitalisasi sumur, penggantian fasilitas penunjang produksi, modernisasi sistem pengaman otomatis, hingga penggantian pipa utama berukuran 20 inci dan 16 inci sepanjang 350 meter.
Selama masa shutdown, PHM memanfaatkan momentum untuk melakukan perawatan empat compressor, delapan vessel, serta inspeksi pipa menggunakan teknologi Intelligent Pigging atau Inline Inspection (ILI). Sistem Distributed Control System (DCS) dan Fire & Gas (F&G) turut diretrofit agar standar keselamatan operasi tetap terjaga di tengah usia fasilitas yang menua.
Sunaryanto—yang akrab disapa Anto—menegaskan bahwa keberhasilan program ini bukan hanya soal tambahan produksi, tetapi juga tentang menjaga integritas aset strategis negara.
“Melalui Program Handil Rejuvenation dan berbagai kegiatan peningkatan keandalan fasilitas produksi, PHM terus menunjukkan komitmennya dalam menjaga integritas aset, meningkatkan keselamatan operasi, serta mendukung keberlanjutan produksi migas dan ketahanan energi nasional,” katanya.
Di lapangan, operasi rejuvenation berlangsung dalam skala besar dan penuh risiko. Hampir 1.000 personel terlibat dengan sistem kerja 24 jam non-stop. Sebanyak 242 izin kerja diterbitkan, termasuk 45 pekerjaan hot work naked flame (NFL) yang memiliki tingkat risiko tinggi.
General Manager PHM, Setyo Sapto Edi, mengatakan seluruh pekerjaan dijalankan dengan disiplin HSSE (Health, Safety, Security, and Environment) yang ketat.
“Kegiatan full shutdown yang kompleks tersebut melibatkan hampir 1.000 personel dengan operasi kerja 24 jam, penerbitan 242 izin kerja, pelaksanaan 45 hot work naked flame atau NFL, dan total 241.176 jam kerja atau man hours,” tuturnya.
Di tengah kompleksitas pekerjaan, PHM mencatat capaian penting: seluruh proyek selesai satu hari lebih cepat dari jadwal tanpa recordable injury. Bahkan realisasi kehilangan produksi lebih rendah dibanding estimasi awal.
Keberhasilan Handil Rejuvenation menjadi gambaran bagaimana lapangan-lapangan tua Indonesia masih memiliki masa depan. Di tengah tantangan penurunan alamiah produksi migas nasional, strategi menjaga keandalan fasilitas menjadi kunci mempertahankan pasokan energi domestik.
Semangat yang sama juga terlihat di Kalimantan Utara. Pemerintah Provinsi Kaltara menyatakan dukungan penuh terhadap rencana eksplorasi PHI Regional 3 Zona 10, termasuk pengeboran di kawasan Mangkupadi dan Wilayah Kerja Maratua.
Saat menerima audiensi jajaran PHI di Kantor Gubernur Kaltara, Zainal A. Paliwang menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk memperlancar investasi dan operasional sektor hulu migas.
“Kami menyambut baik rencana kegiatan PHI di Kaltara. Pemerintah daerah tentu mendukung penuh agar prosesnya berjalan lancar, termasuk hal-hal yang berkaitan dengan administrasi,” katanya.
Sementara itu, General Manager PHI Regional 3 Zona 10, Darmapala, menyampaikan bahwa salah satu agenda utama tahun ini adalah pengeboran eksplorasi di Wilayah Kerja Maratua yang dikelola PHE Lepas Pantai Bunyu.
Sinergi antara pemerintah daerah dan industri migas itu menunjukkan satu pesan besar: di tengah transisi energi global, Indonesia masih bertaruh pada kemampuan menjaga denyut lapangan-lapangan migasnya tetap hidup—dari Handil hingga Maratua.


