Satya Hangga: ANG Bisa Jadi Solusi Baru Kurangi Defisit LPG dan Hemat APBN

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com — Tenaga Ahli Menteri ESDM, Satya Hangga Yudha Widya Putra, mengatakan kepada Ruangenergi.com bahwa Indonesia saat ini masih mengalami defisit LPG yang cukup besar dan bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan nasional.

“Indonesia mengimpor sekitar 75 persen kebutuhan LPG nasional atau sekitar 6,91 juta metrik ton per tahun, sementara produksi domestik hanya sekitar 1,97 juta metrik ton,” ujarnya.

Menurut Satya, pemerintah sebenarnya telah menyiapkan berbagai alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap LPG impor. Beberapa di antaranya adalah penggunaan CNG, kompor listrik, DME, hingga pembangunan jaringan gas rumah tangga (jargas).

Namun demikian, ia menilai masih ada satu potensi energi yang belum banyak dikembangkan secara serius di Indonesia, yakni Adsorbed Natural Gas (ANG).

ANG merupakan teknologi penyimpanan gas alam berbasis metana dengan tekanan relatif rendah, yakni sekitar 40 bar atau sekitar 500 psi. Tekanan tersebut dinilai tidak jauh berbeda dengan LPG yang selama ini digunakan masyarakat.

“Berbeda dengan CNG yang membutuhkan tekanan sangat tinggi sekitar 200 bar dan tabung yang lebih besar, ANG menawarkan sistem penyimpanan yang lebih aman, efisien, dan kompak,” kata Satya.

Ia menjelaskan, pada teknologi ANG, gas alam disimpan dengan cara “menempel” pada pori-pori material adsorben pada suhu ruang. Teknologi ini memungkinkan penyimpanan energi yang lebih praktis sekaligus meningkatkan aspek keselamatan dalam distribusi dan penggunaan rumah tangga.

Satya menilai pengembangan ANG berpotensi menjadi pelengkap berbagai program substitusi LPG yang sudah berjalan. Selain memanfaatkan cadangan gas domestik, teknologi ini juga diyakini dapat membantu menekan beban subsidi energi nasional.

“Apabila ANG dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga, ini akan membantu penghematan APBN karena harga produknya cukup kompetitif,” jelasnya.

Ia menambahkan, pengembangan ANG juga membuka peluang hilirisasi gas bumi nasional sekaligus memperkuat ketahanan energi domestik di tengah volatilitas harga energi global.

Dengan tingginya impor LPG dan terus meningkatnya kebutuhan energi rumah tangga, teknologi ANG dinilai dapat menjadi salah satu opsi strategis baru dalam transisi energi Indonesia menuju pemanfaatan energi yang lebih efisien dan berbasis sumber daya dalam negeri.