Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Ketegangan geopolitik global dan ancaman krisis energi membuat isu ketahanan energi bukan lagi sekadar jargon industri. Indonesia pun dihadapkan pada tantangan besar: bagaimana memenuhi kebutuhan energi nasional di tengah ketidakpastian dunia.
Hal itu ditegaskan Executive Director Indonesia Petroleum Association, Marjolijn Wajong, dalam konferensi pers menjelang pelaksanaan IPA Convex 2026. Menurutnya, momentum saat ini menjadi pengingat keras bahwa Indonesia tidak bisa terus bergantung pada energi impor.
“Sekarang baru terasa betapa pentingnya kita bisa memenuhi kebutuhan energi sendiri atau paling tidak meminimalkan ketergantungan dari negara lain,” ujarnya.
Marjolijn mengungkapkan Indonesia masih memiliki potensi migas yang sangat besar. Sedikitnya terdapat 50 cekungan migas yang belum dieksplorasi di seluruh Indonesia. Namun tantangannya tidak ringan.
Sebagian besar cekungan tersebut berada di wilayah laut dalam, kawasan timur Indonesia yang minim infrastruktur, atau area dengan kompleksitas teknis tinggi yang membutuhkan teknologi canggih dan investasi besar.
Karena itu, IPA menilai Indonesia membutuhkan kebijakan yang konsisten agar mampu bersaing menarik investasi global di sektor hulu migas.
“Investor migas selalu membandingkan iklim investasi antarnegara. Mereka akan memilih negara yang paling menguntungkan dan paling mudah,” kata Marjolijn.
IPA mencatat ada tiga faktor utama yang perlu diperbaiki pemerintah untuk meningkatkan daya saing investasi migas nasional.
Pertama, kepastian hukum. Menurut Marjolijn, kontrak migas memiliki jangka waktu sangat panjang, bisa mencapai 30 hingga 50 tahun. Karena itu investor membutuhkan jaminan bahwa aturan yang disepakati tidak berubah sepihak di tengah jalan.
Kedua, percepatan proses produksi. Investor membutuhkan proses perizinan dan pengembangan yang cepat agar pengembalian investasi tidak terlalu lama. Ketiga, skema fiskal yang fleksibel untuk membantu keekonomian proyek-proyek migas yang berada di wilayah sulit dan berisiko tinggi.
Menurut IPA, target produksi nasional 1 juta barel minyak per hari dan 12 BSCFD gas hanya bisa dicapai melalui penemuan lapangan-lapangan baru hasil eksplorasi masif.
“Kalau mau naik produksinya, harus ada lapangan-lapangan baru dan itu didapat dari eksplorasi,” tegasnya.
Semangat memperkuat ketahanan energi itulah yang menjadi benang merah penyelenggaraan IPA Convex 2026.
Ketua Panitia IPA Convex 2026, Teresita Listyani, mengatakan tahun ini menjadi momen spesial karena merupakan penyelenggaraan ke-50 sejak pertama kali digelar.
Mengusung tema “50 Years of Energy Partnership: Shaping the Next Era for Advancing Growth”, ajang tahunan industri migas terbesar di Asia Tenggara itu akan berlangsung pada 20–22 Mei 2026 di ICE BSD City.
Menurut Teresita, IPA Convex kini bukan sekadar pameran industri migas, tetapi telah berkembang menjadi platform dialog strategis yang mempertemukan pemerintah, investor, pelaku industri, akademisi, hingga generasi muda.
“Ini forum untuk showcasing perkembangan teknologi, policy, dan seluruh ekosistem industri migas,” ujarnya.
Tahun ini, IPA Convex juga tampil lebih global. Sejumlah CEO perusahaan energi regional hingga internasional dipastikan hadir, termasuk pimpinan Petronas, Mubadala Energy, dan MedcoEnergi.
Selain membahas investasi dan eksplorasi, isu transisi energi hingga penerapan AI dalam industri migas juga menjadi sorotan utama.
IPA bahkan menyiapkan sesi khusus bertajuk “Energy Transition at the Crossroad: Urgency, Reality and the Road Ahead” yang akan membahas apakah transisi energi masih relevan di tengah ancaman krisis energi global.
Tak hanya itu, zona khusus AI dan digitalisasi juga disiapkan untuk memperlihatkan bagaimana teknologi menjadi kunci peningkatan efisiensi industri hulu migas masa depan.
Bagi IPA, refleksi 50 tahun industri migas Indonesia bukan sekadar nostalgia.
“Saya selalu bilang refleksi tanpa aksi itu namanya nostalgia,” kata Teresita.
Karena itu, IPA Convex 2026 diharapkan menjadi panggung lahirnya gagasan baru untuk memastikan Indonesia tetap mampu menjaga ketahanan energinya di tengah dunia yang makin tidak pasti.


