Jambi, ruangenergi.com-Provinsi Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) kini memegang peran yang makin strategis dalam menjaga produksi minyak nasional. Bukan hanya sebagai daerah penghasil migas, tetapi juga menjadi “penopang napas” produksi minyak di Blok Rokan, salah satu tulang punggung lifting minyak Indonesia.

Hal itu ditegaskan Kepala Perwakilan SKK Migas Sumbagsel, Bambang Dwi Djanuarto, dalam wawancara khusus bersama ruangenergi.com di sela kunjungannya ke Provinsi Jambi, Senin (18/5/2026).
Menurut Bambang, banyak pihak selama ini hanya melihat produksi minyak di Blok Rokan dari sisi lapangan minyaknya saja. Padahal, ada “darah energi” lain yang membuat produksi minyak di sana tetap bertahan tinggi, yakni pasokan gas dari wilayah Sumbagsel.
“Kenapa saya bilang Sumbagsel adalah penopang utama produksi minyak ke depan? Karena Blok Rokan untuk produksi minyaknya perlu gas. Kalau gas di Sumbagsel kurang, produksi minyak Rokan bisa turun,” ujar Bambang.
Gas dari Sumbagsel digunakan untuk mendukung proses steam flood atau injeksi uap panas di lapangan minyak Rokan. Teknologi ini dipakai untuk “melumerkan” minyak yang kental agar lebih mudah diproduksikan ke permukaan.
Bambang menjelaskan, kebutuhan gas untuk steam flood terus meningkat setiap tahun. Karena itu, SKK Migas Sumbagsel kini fokus menjaga bahkan menaikkan produksi gas demi menopang ketahanan energi nasional.
“Produksi gas di Sumbagsel harus naik. Mereka selalu minta alokasi lebih tinggi setiap tahun karena memang dibutuhkan untuk meningkatkan produksi minyak,” katanya.
Bambang juga mengungkapkan bahwa hubungan antara Sumbagsel dan Blok Rokan sangat erat. Bahkan, ketika terjadi gangguan distribusi gas melalui pipa transmisi TGI beberapa waktu lalu, dampaknya langsung terasa terhadap produksi minyak di Rokan.
“Ketika pipa TGI bermasalah dan gas dari Sumbagsel tidak bisa mengalir ke Rokan, produksinya mereka turun,” ungkapnya.
Karena itu, SKK Migas menilai stabilitas pasokan gas dari Sumbagsel kini bukan sekadar isu regional, melainkan bagian penting dari strategi menjaga produksi minyak nasional.
Untuk menjaga keberlanjutan pasokan gas, sejumlah proyek baru tengah dipersiapkan di wilayah Sumbagsel. Salah satu yang paling menjanjikan adalah pengembangan Lapangan Sakakemang milik Medco.
Selain itu, ada pula peningkatan produksi di Corridor milik Medco dan proyek Petrochina di wilayah Jabung yang diproyeksikan memperkuat pasokan gas kawasan ini.
“Dari Medco Sakakemang akan nambah. Kemudian ada juga project di Corridor block, peningkatan produksi gas, lalu project Petrochina di Jabung,” kata Bambang.
Ia menyebut potensi gas Sumbagsel sebenarnya masih sangat besar. Bahkan, menurutnya sejumlah temuan migas di wilayah ini sudah masuk kategori “giant” dalam ukuran tertentu.
“Temuan-temuan di atas 50 juta barel sudah banyak. Sakakemang sendiri potensinya besar, hanya saja yang tersertifikasi baru sebagian karena perlu pengeboran lanjutan,” jelasnya.
Di sisi lain, Bambang menekankan bahwa peningkatan produksi migas Sumbagsel sangat bergantung pada agresivitas pengeboran.
Jika beberapa tahun lalu jumlah sumur yang dibor di Sumsel masih di bawah 100 sumur per tahun, kini jumlahnya melonjak signifikan.
“Tahun ini saja sekitar 123 titik sumur akan digali di Sumsel. Dengan peningkatan ngebor, real faktanya produksi memang naik,” ujarnya.
Menurutnya, pola pengeboran yang makin masif juga didukung sistem kontrak jangka panjang dan efisiensi mobilisasi rig antarlapangan.
Menariknya, di tengah kekhawatiran dunia usaha terhadap kenaikan harga BBM industri, SKK Migas menyebut aktivitas pengeboran migas sejauh ini belum terganggu.
Meski biaya energi bisa mencapai hampir 30 persen dari total biaya pengeboran, perusahaan migas dinilai masih mampu menjaga operasi karena melihat peluang harga minyak yang membaik.
“Belum ada perusahaan pengeboran yang menyampaikan force majeure karena tidak sanggup membeli bahan bakar,” kata Bambang.
Bahkan, sejumlah KKKS justru memilih mempercepat pengeboran agar tidak kehilangan momentum ketika harga minyak global kembali menguat.


