Astana, Khazakthan, ruangenergi.com-Semangat ekspansi global industri tambang nasional kini bukan lagi sekadar slogan. Dengan mengusung tema besar “MIND ID for Indonesia and the World!”, Holding Industri Pertambangan Indonesia, MIND ID, mengambil langkah strategis menuju panggung industri mineral dunia melalui kunjungan resmi ke Astana, Kazakhstan.
Dipimpin langsung Presiden Direktur Maroef Sjamsoeddin, delegasi MIND ID didampingi Duta Besar RI untuk Kazakhstan merangkap Tajikistan, Fadjroel Rachman, melakukan penjajakan kerja sama dengan sovereign wealth fund Kazakhstan, Samruk-Kazyna, serta raksasa tambang global Eurasian Resources Group (ERG).
Kunjungan ini bukan sekadar agenda diplomatik biasa. Di tengah persaingan global perebutan mineral kritis dan transisi energi hijau, Indonesia sedang memainkan strategi besar: memperkuat hilirisasi dan membangun rantai pasok industri mineral yang lebih mandiri.
Dalam pertemuan dengan ERG, kedua pihak menyepakati penjajakan kerja sama di tujuh sektor utama, mulai dari eksplorasi dan pengolahan mineral, strategi hilirisasi bauksit menjadi aluminium, hingga riset dan pengembangan, transfer teknologi, pemasaran, serta knowledge sharing. Langkah awal kolaborasi itu akan dimulai melalui penandatanganan Non-Disclosure Agreement (NDA).
Menurut Maroef, Kazakhstan dipandang sebagai mitra yang sangat strategis karena memiliki karakteristik industri yang mirip dengan Indonesia.
“Kunjungan ini adalah langkah konkret MIND ID dalam menjalankan mandat pemerintah untuk menjadi pemain global. Bersama ERG dan Samruk-Kazyna, kami melihat peluang besar dalam pengembangan rantai nilai bauxite-to-aluminium serta pengolahan mineral kritis lainnya,” ujar Maroef, dikutip dari website ASTANA.
Ia menegaskan bahwa sinergi tersebut bukan semata urusan bisnis, tetapi juga menyangkut penguasaan teknologi dan akses pasar global yang akan memperkuat agenda hilirisasi nasional.
Di sisi lain, Dubes RI Fadjroel Rachman menilai hubungan Indonesia–Kazakhstan kini memasuki fase baru yang lebih konkret dan berorientasi pada hasil ekonomi nyata.
Momentum itu diperkuat setelah penandatanganan Free Trade Agreement Indonesia–Eurasian Economic Union di St. Petersburg pada Desember 2025, serta Sidang Komisi Bersama Indonesia–Kazakhstan di Astana yang dipimpin Menko Perekonomian Airlangga Hartarto bersama Menteri Ekonomi Kazakhstan Serik Zhumangarin.
Menurut Fadjroel, Kazakhstan kini menjadi gerbang strategis Asia Tengah untuk sektor energi, mineral, dan pangan.
“Kehadiran langsung manajemen puncak MIND ID di sini menunjukkan keseriusan Indonesia dalam membangun kemitraan strategis yang saling menguntungkan,” tegasnya.
Kolaborasi ini juga diharapkan mempercepat penerapan teknologi ramah lingkungan dan efisiensi operasional di berbagai unit usaha MIND ID di Indonesia. Di saat bersamaan, kerja sama tersebut dinilai penting untuk menjaga keamanan pasokan bahan baku strategis demi menopang industri manufaktur nasional.
Tak hanya bicara tambang, kerja sama ekonomi Indonesia–Kazakhstan kini diproyeksikan melompat jauh lebih besar. Fadjroel menyebut nilai perdagangan potensial Indonesia dengan kawasan Eurasia bisa menembus USD10 miliar, sementara hubungan dagang bilateral Indonesia–Kazakhstan sendiri diperkirakan dapat mencapai USD2 miliar.
“Insya Allah berikutnya akan ada kunjungan kenegaraan Presiden Kazakhstan ke Indonesia,” pungkas Fadjroel.
Di tengah perubahan geopolitik dan perebutan sumber daya mineral dunia, langkah MIND ID ke Kazakhstan menjadi sinyal bahwa Indonesia tak lagi ingin sekadar menjadi pemasok bahan mentah. Indonesia sedang membangun posisi baru: pemain utama industri mineral global.

