Jakarta, ruangenergi.com — Di tengah derasnya arus transformasi energi dan perubahan dunia kerja yang semakin cepat, PT Pertamina (Persero) memilih satu cara sederhana namun berdampak besar untuk memperkuat kualitas sumber daya manusianya: membangun budaya membaca.
Menyambut Hari Buku Nasional, Pertamina menggelar kegiatan Pertamina MindFUEL: The Energy to Elevate sekaligus meluncurkan perpustakaan digital Tugu PertaLibs by Titik Baca di enam lokasi kerja Pertamina Group di wilayah Jabodetabek. Tak hanya itu, perusahaan energi nasional tersebut juga memperkenalkan Pertamina Book Club (BoomTalk@Works) serta komunitas agen literasi LiteraSquad di Grha Pertamina, Senin (25/5/2026).
Program ini menjadi bagian dari upaya Pertamina menanamkan budaya belajar mandiri di lingkungan kerja. Di era ketika pengetahuan berkembang begitu cepat, literasi dinilai bukan lagi sekadar kebiasaan membaca, melainkan kebutuhan strategis perusahaan.
Senior Vice President Pertamina Corporate University, Robby Rafid, mengatakan peningkatan literasi menjadi modal penting bagi pekerja untuk menghadapi tantangan industri yang terus berubah.
“Perusahaan saat ini menghadapi dinamika baru yang sangat cepat. Karena itu, membaca diharapkan menjadi energi baru bagi para perwira Pertamina,” ujar Robby.
Menurutnya, kehadiran perpustakaan digital membuat akses terhadap buku dan bahan pembelajaran menjadi semakin mudah. Pekerja kini dapat membaca kapan saja, termasuk di sela waktu bekerja maupun saat istirahat.
Langkah digitalisasi literasi ini juga menjadi bagian dari penguatan knowledge management perusahaan. VP Learning Development Pertamina Corporate University, Yulius Bulo, menjelaskan bahwa Pertamina terus mendokumentasikan berbagai aset pengetahuan perusahaan agar dapat diwariskan dan dipelajari oleh generasi pekerja berikutnya.
“Literasi tetap sangat penting di masa sekarang. Kami ingin seluruh pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki perusahaan dapat diakses lebih luas sebagai sarana belajar internal,” jelas Yulius.
Tak hanya menghadirkan fasilitas membaca, Pertamina juga membuka ruang diskusi publik melalui talkshow bertema “In This Economy: Does Literacy (Still) Matter?”. Diskusi tersebut mengajak peserta merefleksikan kembali pentingnya literasi di tengah tekanan ekonomi global dan dinamika transformasi energi.
Acara menghadirkan sejumlah pembicara inspiratif, di antaranya Co-Founder Du’Anyam sekaligus CEO Krealogi Hanna Keraf serta Ryan Adriandhy, sutradara film animasi JUMBO.
Sementara itu, VP Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, menilai pengelolaan pengetahuan menjadi faktor penting bagi perusahaan besar seperti Pertamina yang telah berdiri lebih dari enam dekade.
“Perjalanan panjang Pertamina melahirkan banyak inovasi dan pengalaman berharga. Pengetahuan para pekerja harus menjadi pengetahuan perusahaan yang bisa terus diwariskan,” kata Baron.
Ia menegaskan, aset pengetahuan yang besar tidak akan memiliki nilai jika sulit diakses. Karena itu, kehadiran Tugu PertaLibs diharapkan menjadi jembatan bagi tumbuhnya budaya literasi di lingkungan Pertamina Group.
“Semua organisasi besar memiliki aset pengetahuan. Tantangannya adalah bagaimana pengetahuan itu bisa dipelajari dan dimanfaatkan bersama. Untuk itulah Pertamina menghadirkan Tugu PertaLibs,” tutupnya.

