Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com– Prospek industri timah dunia dinilai masih sangat menjanjikan dalam beberapa tahun ke depan. Di tengah meningkatnya kebutuhan global untuk kendaraan listrik (electric vehicle/EV), panel surya, hingga pusat data (data center), PT Timah Tbk optimistis logam strategis ini akan tetap menjadi komoditas yang diburu pasar dunia.
Wakil Direktur Utama PT Timah Tbk Harry Budi Sidharta mengungkapkan bahwa Indonesia masih menjadi salah satu pemain utama dalam industri timah global. Menurutnya, cadangan timah nasional terkonsentrasi di jalur Bangka Belitung hingga Pulau Kundur, Kepulauan Riau, yang merupakan bagian dari sabuk timah dunia yang membentang hingga Myanmar dan China.
“Kalau bicara timah, faktor supply dan demand masih sangat kuat. Dari sisi permintaan, pertumbuhan kendaraan listrik, solar panel, dan data center menjadi pendorong utama. Sementara dari sisi pasokan, sejumlah negara produsen mulai menghadapi berbagai tantangan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, China telah menerapkan pembatasan ekspor tertentu, sementara Myanmar mulai menaikkan pajak pertambangan. Kondisi tersebut membuat pasar memperkirakan pasokan timah global akan semakin ketat, sehingga harga logam ini berpotensi bertahan pada level tinggi.
Saat ini harga timah dunia masih bergerak di kisaran US$50.000 per ton. Menurutnya, dalam jangka menengah harga berpeluang tetap bertahan di level tersebut atau hanya sedikit berada di bawahnya.
Untuk menjaga keberlanjutan produksi, PT Timah kini fokus memperkuat kegiatan eksplorasi guna menambah cadangan dan sumber daya mineral. Salah satu strategi yang tengah dievaluasi adalah pengembangan tambang laut dengan kedalaman yang lebih besar dibandingkan operasi saat ini.
Selain itu, perusahaan juga mulai mengarahkan eksplorasi ke tambang primer yang berada lebih dalam di bawah permukaan tanah. Berbeda dengan tambang aluvial yang selama ini menjadi andalan, tambang primer membutuhkan teknologi penambangan dan pengolahan yang lebih kompleks.
“Ke depan kita akan masuk lebih dalam, baik di laut maupun di darat. Teknologinya berbeda dan perlu kajian yang matang, termasuk teknologi pemisahan mineralnya,” katanya.
Meski demikian, pengembangan tambang primer secara masif diperkirakan baru akan dilakukan dalam satu hingga dua tahun mendatang setelah seluruh aspek teknis dan ekonominya rampung dievaluasi.
PT Timah saat ini memiliki Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) produksi sekitar 30 ribu ton per tahun. Namun pemegang saham mendorong perusahaan untuk kembali mencapai masa kejayaannya saat mampu memproduksi hingga 80 ribu ton timah per tahun.
Target tersebut bukan tanpa tantangan. Perseroan masih menghadapi berbagai kendala eksternal mulai dari perizinan, tumpang tindih kawasan dengan wilayah hutan maupun perikanan, hingga ketersediaan bijih timah sebagai bahan baku utama.
“Tantangan terbesar bukan kapasitas smelter, tetapi memastikan ketersediaan bijihnya,” ujarnya.
Saat ini kapasitas pengolahan smelter PT Timah mencapai sekitar 40 ribu ton per tahun, namun pemanfaatannya masih berada di kisaran 20 ribu ton karena keterbatasan pasokan bijih.
Bidik Myanmar dan Amerika Latin
Menyadari bahwa kebutuhan bahan baku akan terus meningkat, PT Timah mulai menjajaki peluang pasokan timah dari luar negeri. Salah satu negara yang menjadi perhatian adalah Myanmar, produsen besar bijih timah yang hingga kini belum memiliki kapasitas smelter memadai.
Perusahaan juga menerima sejumlah tawaran kerja sama dari kawasan Amerika Latin.
Namun, PT Timah menegaskan pendekatan yang dipilih bukanlah melakukan penambangan langsung di luar negeri, melainkan menjalin kemitraan dengan penambang lokal untuk memperoleh pasokan bijih yang kemudian diolah di Indonesia.
“Kalau bicara keberlanjutan bisnis, kita memang harus mulai melihat peluang di luar negeri. Tidak bisa hanya mengandalkan sumber daya domestik selamanya,” katanya.
Recycle Timah Jadi Peluang Baru
Selain eksplorasi dan ekspansi pasokan, PT Timah juga mulai melirik bisnis daur ulang atau recycle timah yang saat ini berkembang pesat di negara-negara maju.
Menurutnya, banyak perusahaan global kini mencari produk timah hasil daur ulang karena memiliki nilai tambah dari sisi lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG). Bahkan produk timah daur ulang dapat memperoleh harga premium dibandingkan timah konvensional.
“Kami melihat ini menarik. Jepang dan negara-negara maju banyak menanyakan kemampuan Indonesia dalam menghasilkan recycled tin. Margin bisnisnya juga cukup menarik,” ungkapnya.
PT Timah kini mulai mengkaji kemungkinan membangun ekosistem daur ulang timah dari limbah elektronik sebagai bagian dari strategi bisnis masa depan.
Di tengah tingginya harga komoditas dan penguatan dolar AS, manajemen menegaskan kinerja positif PT Timah bukan semata-mata karena faktor windfall profit.
Hingga Mei tahun ini, produksi perusahaan tercatat berada di atas target. Berbagai program efisiensi juga berhasil menekan biaya operasional, meskipun biaya perolehan bijih meningkat sekitar 15 persen akibat kenaikan ongkos penambangan dan energi.
“Kalau hanya mengandalkan harga, produksi tidak mungkin melampaui target. Yang terjadi saat ini adalah perbaikan fundamental bisnis dan peningkatan produktivitas,” tegasnya.
Dengan kombinasi harga timah yang masih tinggi, strategi eksplorasi agresif, pengembangan tambang laut dalam, hingga penjajakan pasokan luar negeri dan bisnis daur ulang, PT Timah optimistis dapat menjaga posisinya sebagai salah satu pemain penting dalam rantai pasok timah dunia.

