Balikpapan, Kaltim, ruangenergi.com-Di tengah tekanan industri migas yang kian dinamis—dari volatilitas harga energi global, tuntutan efisiensi, hingga agenda transisi energi—ada satu hal yang tak pernah kehilangan relevansinya: inovasi.
Dan tahun ini, inovasi itu kembali menemukan panggungnya.
PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI), ujung tombak Subholding Upstream Pertamina di Regional 3 Kalimantan, pulang membawa kebanggaan dari ajang bergengsi Annual Pertamina Quality Award (APQA) 2026. Penghargaan yang menjadi “barometer kualitas” tertinggi di lingkungan Pertamina itu bukan sekadar trofi, tetapi penanda bahwa daya saing perusahaan energi hari ini dibangun dari keberanian untuk berubah.
Pada malam penganugerahan yang digelar 15 Juni 2026, Grup PHI sukses menyabet dua Special Recognition Award. PHI meraih The 3rd Best Entity in Success Innovation Category Achievement, sementara anak usahanya, PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM), keluar sebagai The Winner of Sustainability Excellence for Operation Unit in Upstream Category.
Bagi Direktur Utama PHI, Sunaryanto, capaian ini lebih dari sekadar pengakuan formal.
“Ini adalah hasil kerja keras, kolaborasi, dan komitmen seluruh pekerja dalam menghadirkan inovasi yang memberi nilai tambah bagi perusahaan sekaligus mendukung keberlanjutan operasi dan ketahanan energi nasional,” ujarnya.
Pernyataan itu terasa relevan jika melihat medan operasi PHI. Mengelola blok-blok migas di Kalimantan bukan pekerjaan sederhana. Dari Zona 8, Zona 9, hingga Zona 10, setiap sumur, setiap lapangan, membawa tantangan geologi, teknis, hingga keekonomian yang berbeda.
Namun justru di situlah kreativitas diuji.
Tahun ini, lima gugus inovasi PHI mencatatkan prestasi di kategori Continuous Improvement Program (CIP). Tiga di antaranya menyabet predikat Platinum—EnerSwap, Phylots, dan New Concept—sementara dua lainnya, Felisa dan Jumbo, meraih Gold.
Nama-nama itu mungkin terdengar teknis. Tapi di baliknya, ada cerita besar tentang bagaimana perusahaan migas modern bekerja.
Ada kecerdasan buatan yang dipakai untuk membaca potensi bawah permukaan lebih akurat. Ada pembenahan tata kelola hidrokarbon agar produksi lebih tertata. Ada efisiensi pengeboran untuk memangkas biaya dan waktu. Ada juga upaya “menghidupkan kembali” cadangan minyak yang sebelumnya dianggap kurang ekonomis.
Dengan kata lain, inovasi bukan lagi sekadar proyek sampingan. Ia menjadi napas utama bisnis.
Di industri hulu migas, setiap efisiensi satu persen bisa berarti jutaan dolar. Setiap tambahan produksi bisa menjadi penopang energi nasional.
Itulah sebabnya PHI terus mendorong lahirnya ekosistem inovasi di internal perusahaan. Menurut Sunaryanto, setiap pekerja harus punya ruang untuk menciptakan solusi, karena masa depan energi tak bisa hanya bergantung pada metode lama.
Langkah itu terbukti berbuah.
Sepanjang 2025, PHI mencatatkan produksi sebesar 58 ribu barel minyak per hari (MBOPD) dan 630 MMSCFD gas, angka yang menegaskan perannya sebagai salah satu tulang punggung produksi migas nasional.
Bersama SKK Migas, PHI menjalankan operasi dengan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG)—mencoba menjaga keseimbangan antara produksi, keselamatan, efisiensi, dan tanggung jawab lingkungan.
Di tengah peta energi Indonesia yang terus berubah, kisah PHI di APQA 2026 memberi satu pesan sederhana: bahwa keberlanjutan bukan hanya soal menjaga bumi, tetapi juga menjaga keberanian untuk terus menemukan cara baru.
Dan dari Kalimantan, inovasi itu terus menyala—mengalir bersama minyak dan gas, untuk Indonesia.


