PGN Garap Stranded Gas Sengeti, Tambah Nafas Baru Ketahanan Energi RI

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Di tengah tantangan pasokan energi domestik yang makin ketat, PT Perusahaan Gas Negara Tbk kembali menyiapkan langkah strategis. Perusahaan pelat merah itu bersiap “membangunkan” gas yang selama ini terjebak alias stranded gas di Lapangan Sengeti untuk diubah menjadi sumber energi berkelanjutan bagi industri dan pembangkit listrik nasional.

Langkah ini bukan sekadar soal menambah pasokan, tetapi juga menjadi simbol bagaimana sumber daya yang sebelumnya dianggap kurang ekonomis kini bisa menjadi solusi penting bagi ketahanan energi Indonesia.

PGN menargetkan potensi pasokan sekitar 5 MMSCFD (Million Standard Cubic Feet per Day) dari Lapangan Sengeti. Gas tersebut direncanakan mulai mengalir paling cepat pada kuartal IV 2028 melalui jaringan distribusi gas bumi PGN yang telah terintegrasi secara nasional.

Dengan pengalaman panjang serta penguasaan lebih dari 95 persen infrastruktur gas bumi hilir nasional, PGN dinilai punya posisi strategis untuk menjembatani tantangan teknis maupun komersial dalam monetisasi lapangan-lapangan gas marjinal.

Corporate Secretary PGN, Fajriyah Usman, menegaskan bahwa pemanfaatan stranded gas menjadi salah satu strategi utama perusahaan untuk memastikan pasokan gas domestik tetap terjaga di tengah dinamika kebutuhan energi nasional.

“Gas dari Lapangan Sengeti akan menambah pasokan gas pipa. PGN memastikan kesiapan infrastruktur maupun komersial sesuai standar dan ketentuan yang berlaku,” ujar Fajriyah.

Lebih dari itu, proyek ini juga membuka peluang bisnis baru bagi PGN melalui pengembangan fasilitas processing gas di lapangan tersebut. Artinya, bukan hanya gasnya yang dimanfaatkan, tetapi juga rantai nilai tambahnya ikut dibangun.

Efek domino dari proyek Sengeti diperkirakan cukup besar. Selain berpotensi menambah penerimaan negara, langkah ini juga bisa menjadi pemicu bagi pengembangan lapangan gas lain yang selama ini belum tersentuh karena faktor keekonomian.

Di sisi lain, upaya ini sejalan dengan target pemerintah untuk meningkatkan lifting gas bumi nasional, sekaligus memperkuat daya tarik investasi di sektor hulu migas.

Bagi PGN, Sengeti menjadi bukti bahwa masa depan energi Indonesia tidak selalu harus datang dari lapangan baru berkapasitas besar. Kadang, jawabannya justru ada pada sumber-sumber yang selama ini dianggap “tertinggal”, namun dengan inovasi dan kolaborasi, bisa diubah menjadi energi yang menggerakkan negeri.