Jakarta, ruangenergi.com-Indonesia tak hanya kaya nikel, tapi kini mulai melirik “harta karun” lain yang selama ini tersembunyi di balik aktivitas tambang: sulfur. Di tengah melonjaknya kebutuhan industri baterai kendaraan listrik dan makin panasnya tensi geopolitik global, sulfur mendadak menjadi komoditas strategis yang tak bisa dipandang sebelah mata.
MIND ID kini tengah memetakan peluang besar untuk memproduksi sulfur domestik dari by-product tambang tembaga dan emas. Langkah ini dinilai bisa menjadi jawaban atas ketergantungan Indonesia terhadap impor sulfur yang selama ini menjadi tulang punggung hilirisasi nikel.
Direktur Perencanaan Pengolahan Sumber Daya Mineral MIND ID, Budi Santoso, mengungkapkan bahwa pihaknya bersama anggota holding sedang aktif menginventarisasi potensi pemanfaatan residu tambang seperti iron oxide dan iron sulfate.
“By-product tembaga maupun emas itu ada iron oxide dan iron sulfate yang mestinya bisa kita proses, diolah, diekstrak untuk diambil sulfurnya maupun dijadikan asam sulfat,” ujar Budi dalam diskusi Mineral Kritis Indonesia di Jakarta.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi besar MIND ID untuk memperkuat rantai pasok industri mineral nasional, bukan hanya sebagai penambang, tetapi juga sebagai pemasok bahan pendukung hilirisasi.
Sulfur memegang peran vital dalam proses High Pressure Acid Leach (HPAL), teknologi utama dalam pengolahan bijih nikel limonit menjadi mixed hydroxide precipitate (MHP), bahan baku penting untuk baterai kendaraan listrik.
Skalanya pun tak main-main. Untuk menghasilkan satu ton MHP, dibutuhkan sekitar 11,7 ton sulfur.
Artinya, semakin banyak proyek HPAL dibangun di Indonesia, semakin besar pula kebutuhan sulfur nasional. Dan inilah yang kini menjadi alarm industri.
Saat ini, lebih dari 70 persen kebutuhan sulfur untuk pengolahan nikel masih dipenuhi lewat impor. Ironisnya, sekitar 75-80 persen pasokan itu berasal dari Timur Tengah—wilayah yang saat ini sedang dibayangi konflik geopolitik.
“Kondisi sekarang, ternyata di Indonesia 70 persen lebih kebutuhan sulfur nikel itu didapatkan melalui impor,” kata Budi.
Total impor sulfur nasional tercatat mencapai sekitar 5,3 juta ton per tahun.
Ketua Umum Forum Industri Nikel Indonesia, Arif Perdana Kusumah, menyebut harga sulfur melonjak drastis dalam waktu singkat.
“Harga sulfur hari ini itu 1.200. Pada bulan April tahun lalu harganya hanya 250 saja,” ujarnya.
Kenaikan tajam ini mendorong sejumlah pelaku industri untuk mulai mendiversifikasi sumber pasokan ke Kanada, Amerika Serikat, hingga Korea Selatan sebagai langkah mitigasi jangka pendek.
Namun dalam jangka panjang, pengembangan sulfur domestik dinilai jauh lebih strategis.
Selain sulfur, MIND ID juga mengakui masih ada tantangan lain dalam ekosistem baterai nasional, terutama ketergantungan terhadap litium.
Indonesia hingga kini masih harus mengimpor litium untuk baterai berbasis material tersebut. Karena itu, MIND ID mendorong percepatan riset baterai berbasis nikel, memanfaatkan keunggulan komparatif Indonesia sebagai pemilik cadangan nikel terbesar dunia.
“Karena kita punya nikel, mestinya riset baterai berbasis nikel harus lebih efisien dibandingkan litium,” ujar Budi.
Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal, menilai penguatan rantai pasok domestik adalah kunci agar manfaat hilirisasi tidak berhenti di level ekstraksi.
“Semakin panjang rantai nilai yang kita kuasai, semakin besar manfaat ekonomi yang bisa dipertahankan,” katanya.
Dengan pertumbuhan industri HPAL yang terus meningkat dan kebutuhan sulfur yang makin masif, langkah MIND ID mengembangkan sulfur dari limbah tambang bisa menjadi game changer bagi industri baterai nasional.
Jika berhasil, Indonesia tak hanya akan memperkuat hilirisasi nikel, tetapi juga mengurangi risiko harga global dan ketergantungan geopolitik—dua ancaman yang kini makin nyata di tengah transisi energi dunia.

