Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com— Program pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt peak (GWp) bukan sekadar proyek energi bersih biasa. Program ini kini dipandang sebagai salah satu tulang punggung untuk mendukung agenda strategis Presiden Prabowo Subianto dalam mendorong kemandirian energi, industrialisasi nasional, dan pertumbuhan ekonomi hijau.
Pelaksana Tugas Ketua Umum Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI), Norman Ginting, menilai proyek raksasa ini harus dimaknai lebih luas dari sekadar pembangunan pembangkit. Menurutnya, PLTS 100 GWp adalah peluang emas untuk membangun ekosistem industri surya nasional yang mampu menopang visi besar pemerintahan Prabowo: swasembada energi dan penguatan industri dalam negeri.
Dalam peta besar pemerintahan Prabowo, ketahanan energi menjadi salah satu prioritas utama. Pengembangan energi baru terbarukan, termasuk PLTS skala besar, dinilai sejalan dengan target mengurangi ketergantungan impor energi fosil sekaligus memperkuat daya tahan ekonomi nasional.
Norman mengingatkan, bila proyek ini hanya berakhir pada impor panel surya dan komponen utama dari luar negeri, Indonesia memang akan mendapat listrik hijau, tetapi kehilangan peluang besar dalam penciptaan nilai tambah ekonomi.
“Indonesia tidak boleh hanya menjadi tempat pemasangan panel. Indonesia harus menjadi pusat produksi, integrasi teknologi, pengembangan software, hingga basis ekspor energi surya kawasan,” tegas Norman dalam artikelnya.
Saat ini, Indonesia sudah memiliki kapasitas produksi modul surya sekitar 10,9 GW per tahun. Namun kemampuan industri nasional masih dominan di level hilir. Sementara komponen strategis seperti polysilicon, wafer, solar cell efisiensi tinggi, inverter utility-scale, dan battery energy storage system (BESS) masih banyak bergantung pada impor.
Jika dirancang dengan pendekatan industrialisasi, proyek PLTS 100 GWp dapat menjadi katalis lahirnya industri hijau baru—mulai dari manufaktur panel, inverter, baterai, smart grid, hingga pusat data hijau. Efek dominonya akan besar: penciptaan ribuan lapangan kerja, peningkatan investasi, transfer teknologi, dan lahirnya pemain nasional baru di sektor energi masa depan.
Lebih jauh, proyek ini juga dapat menjadi instrumen penting dalam mendukung hilirisasi mineral yang menjadi andalan Prabowo, terutama nikel, tembaga, dan bauksit, yang sangat relevan untuk rantai pasok baterai dan teknologi penyimpanan energi.
Norman menilai momentum ini harus dikunci melalui peta jalan industri PLTS-BESS nasional, kepastian pipeline proyek tahunan, desain tender yang pro-industri, penguatan TKDN, dan kolaborasi global-lokal yang nyata.
Dengan begitu, program PLTS 100 GWp tidak hanya menjadi proyek transisi energi, tetapi juga mesin baru industrialisasi nasional yang menopang visi besar Presiden Prabowo: Indonesia yang berdaulat energi, kuat secara industri, dan mampu menjadi pemain utama ekonomi hijau dunia.


