Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com – Kabar menggembirakan kembali datang dari upaya peningkatan produksi migas nasional. Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, melaporkan bahwa PT Pertamina EP Asset 2 (PEP Zona 4) berhasil mencatatkan lonjakan produksi gas yang jauh melampaui target setelah menyelesaikan pekerjaan workover di Sumur L5A-309, Lapangan Limau, Sumatera Selatan.
Dalam laporan yang disampaikan pada Selasa (7/7/2026), Djoko mengungkapkan bahwa pekerjaan workover dimulai pada 29 Juni 2026 dan berhasil diselesaikan pada 4 Juli 2026, atau hanya dalam waktu lima hari. Durasi tersebut jauh lebih cepat dibandingkan rencana awal selama 10 hari.
Keberhasilan tersebut langsung membuahkan hasil. Berdasarkan uji produksi yang dilakukan pada 6 Juli 2026, Sumur L5A-309 mampu menghasilkan gas sebesar 4,8 juta kaki kubik per hari (MMSCFD), atau enam kali lipat dari target awal yang hanya 0,8 MMSCFD.
“Pada saat yang sama, sumur juga dapat langsung diproduksikan atau on production (PoP),” tulis Djoko dalam laporannya.
Pekerjaan workover dilakukan dengan strategi pindah lapisan produksi. Tim operasi menutup (plugging) lapisan TAF-W4, yang sebelumnya hanya menghasilkan minyak sekitar 2,6 barel per hari (BOPD) dengan kadar air sangat tinggi mencapai 98 persen water cut, sehingga dinilai sudah tidak lagi ekonomis.
Setelah lapisan lama diisolasi, tim kemudian membuka lapisan baru TAF-W3 melalui perforasi pada interval 1.594–1.600,5 meter measured depth (mMD). Keputusan teknis tersebut terbukti tepat karena lapisan baru langsung menghasilkan gas dalam jumlah signifikan.
Keberhasilan operasi juga tercermin dari sisi efisiensi. Pekerjaan menggunakan Rig PDSI #34.1 berkapasitas 350 HP selesai lebih cepat dari jadwal sekaligus menghemat biaya secara signifikan.
Total biaya yang dikeluarkan diperkirakan sebesar US$252.067,64, atau hanya 67,8 persen dari anggaran yang telah disetujui SKK Migas sebesar US$371.875. Artinya, proyek tidak hanya sukses meningkatkan produksi, tetapi juga menghasilkan penghematan anggaran yang cukup besar.
Capaian ini kembali menunjukkan bahwa strategi optimasi aset melalui workover masih menjadi salah satu cara paling efektif untuk meningkatkan produksi migas nasional. Dengan memanfaatkan sumur eksisting dan membuka potensi lapisan baru, tambahan pasokan gas dapat diperoleh lebih cepat, lebih murah, dan dengan risiko yang lebih rendah dibandingkan pengeboran sumur baru.
Menutup laporannya, Djoko Siswanto berharap produksi gas dari Sumur L5A-309 dapat bertahan dalam jangka panjang sehingga memberikan kontribusi nyata terhadap target lifting migas nasional.
“Semoga produksi gas dapat berlangsung lama. Bersama kita bisa. Lifting naik: Bisa! Bisa! Bisa!” pungkasnya penuh optimisme.


