Sampang, Jawa Timur, ruangenergi.com– Upaya memperkuat ketahanan energi nasional kembali mendapat kabar positif. Kepala SKK Migas Djoko Siswanto melaporkan bahwa proses penyerahan kompensasi kepada nelayan terdampak di kawasan Selat Madura untuk mendukung pengembangan Lapangan Hidayah milik KKKS PC North Madura II Ltd. telah berlangsung lancar, aman, dan tertib.
Menurut Djoko, penyelesaian kompensasi tersebut menjadi salah satu tahapan penting agar proyek strategis hulu migas itu dapat terus bergerak sesuai jadwal menuju target produksi perdana (onstream) pada kuartal pertama 2027 dengan kapasitas mencapai 25.000 barel minyak per hari (BOPD).
“Alhamdulillah penyerahan kompensasi rumpon nelayan di Selat Madura berjalan lancar, aman dan tertib untuk Proyek Lapangan Hidayah Petronas 25.000 BOPD yang Insya Allah mohon doa dapat onstream pada kuartal pertama tahun 2027,” ujar Djoko Siswanto dalam laporannya, Rabu (29/7/2026), seperti diceritakan kepada ruangenergi.com
Penyerahan kompensasi dilakukan secara simbolis kepada nelayan yang terdampak kegiatan pre-lay survey, yakni survei awal yang menjadi bagian dari persiapan pemasangan jacket, topside, Floating Storage and Offloading (FSO), serta pengeboran sumur Lapangan Hidayah. Nilai kompensasi diberikan sesuai kesepakatan yang telah dicapai sebelumnya antara para pihak.
Kegiatan tersebut juga menunjukkan kuatnya sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, aparat keamanan, dan pelaku usaha hulu migas. Acara dihadiri oleh Danlanal Batuporon, Camat Banyuates, Kapolsek Banyuates, Danramil Banyuates, perwakilan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sampang, Penjabat Kepala Desa Banyuates, SKK Migas Jabanusa, perwakilan KKKS PC North Madura II Ltd., serta para nelayan dari Kecamatan Banyuates.
Penyelesaian aspek sosial melalui mekanisme musyawarah dan pemberian kompensasi kepada masyarakat terdampak dinilai menjadi fondasi penting agar pekerjaan konstruksi di lapangan dapat berjalan tanpa hambatan.
Lapangan Hidayah sendiri merupakan salah satu proyek strategis yang diharapkan memberikan tambahan produksi minyak nasional di tengah upaya pemerintah meningkatkan lifting migas. Dengan target produksi mencapai 25.000 BOPD, proyek ini akan menjadi kontribusi signifikan bagi pencapaian target produksi minyak nasional sekaligus memperkuat pasokan energi dalam negeri.
Bagi SKK Migas, keberhasilan menyelesaikan tahapan sosial ini membuktikan bahwa kolaborasi antara operator, pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat mampu menciptakan iklim investasi yang kondusif. Sinergi tersebut diharapkan menjadi modal penting untuk menjaga kelancaran pelaksanaan proyek hingga memasuki fase produksi pada awal 2027.
Djoko Siswanto pun menutup laporannya dengan optimisme bahwa semangat kebersamaan seluruh pemangku kepentingan akan terus menjadi pendorong peningkatan lifting migas nasional.
“Bersama Kita BISA. Lifting Naik, BISA… BISA… BISA,” tutupnya.


