Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com – Di tengah gejolak geopolitik dunia yang terus mengguncang pasar energi, Direktur Utama PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) Ahmad Yani justru mengajak publik mengalihkan pandangan ke dalam negeri. Bukan ke ladang minyak atau terminal LNG, melainkan ke perut bumi Indonesia yang menyimpan salah satu harta karun energi terbesar di dunia: panas bumi.
Baginya, ketahanan energi bukan lagi sekadar persoalan pasokan listrik atau bahan bakar. Ketahanan energi telah menjadi bagian dari kedaulatan bangsa.
“Selat Hormuz yang bergejolak memberi pelajaran bahwa kita tidak bisa terus bergantung pada energi dari luar. Indonesia memiliki kekuatan sendiri, yaitu geothermal,” ujarnya dalam pemaparan kinerja semester pertama 2026.
Pernyataan itu bukan tanpa alasan. Indonesia saat ini menyimpan sekitar 43 persen potensi panas bumi dunia, menjadikannya negara dengan cadangan geothermal terbesar di planet ini. Potensi tersebut dinilai sebagai modal strategis untuk mewujudkan swasembada energi sekaligus mempercepat transisi menuju energi bersih.
Bagi Ahmad Yani, geothermal memiliki keunggulan yang sulit ditandingi sumber energi terbarukan lainnya. Panas bumi mampu menghasilkan listrik selama 24 jam sehari, tujuh hari seminggu, dengan tingkat keandalan (capacity factor) di atas 90 persen. Karakteristik ini menjadikannya base load green energy, fondasi yang dapat menopang pembangkit listrik tenaga surya, angin, maupun hidro yang sifat produksinya bergantung pada cuaca.
Ambisi Indonesia tidak berhenti pada pemanfaatan cadangan panas bumi. Pemerintah menargetkan Indonesia menjadi produsen listrik panas bumi terbesar di dunia pada 2030.
PGE menjadi salah satu ujung tombak mewujudkan target tersebut.
Perusahaan menargetkan kapasitas terpasang meningkat dari 727 megawatt saat ini menjadi 1 gigawatt pada 2028, kemudian terus bertumbuh hingga 1,8 gigawatt pada 2034. Di balik target itu, PGE mengaku telah memiliki pipeline proyek yang siap dikembangkan dengan total potensi sekitar 3 gigawatt.
Tahun 2026 juga menjadi momen bersejarah bagi industri panas bumi nasional.
Tepat satu abad lalu, pada 1926, sumur panas bumi pertama di Kamojang, Garut, berhasil dibor dan mengeluarkan uap dari perut bumi. Uap tersebut masih terus menyembur hingga kini, menjadi saksi awal perjalanan geothermal Indonesia.
Menurut Ahmad Yani, peringatan 100 tahun geothermal Indonesia bukan sekadar mengenang sejarah, melainkan momentum untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia siap menjadi pemimpin global dalam pengembangan energi panas bumi.
“Ini bukan hanya historical milestone, tetapi juga momentum untuk memperlihatkan masa depan Indonesia sebagai pemimpin geothermal dunia,” katanya.
PGE juga mulai mengubah cara pandang terhadap bisnis panas bumi.
Jika selama ini geothermal identik dengan pembangkit listrik, kini perusahaan mengembangkan berbagai produk turunan bernilai tambah.
Salah satunya adalah green hydrogen yang tengah diuji coba di Lapangan Ulubelu, Lampung. Pilot project tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada November 2026 dengan kapasitas awal sekitar 100 kilogram per hari. Hidrogen hijau ini diproyeksikan menjadi salah satu sumber energi masa depan seiring meningkatnya kebutuhan global terhadap bahan bakar rendah karbon.
Selain itu, PGE juga menyiapkan pasokan energi bersih bagi green data center, mengembangkan teknologi Flow2Max yang telah dipasarkan ke enam negara, hingga menjajaki peluang mineral extraction dari fluida panas bumi. Seluruh inovasi tersebut dirancang untuk menciptakan sumber pendapatan baru di luar bisnis pembangkitan listrik.
Bagi Ahmad Yani, keberhasilan geothermal tidak hanya diukur dari jumlah megawatt yang dihasilkan.
Energi panas bumi, menurutnya, harus memberikan dampak berkelanjutan dalam tiga aspek sekaligus, yakni ketahanan energi, perlindungan lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat.
Contohnya dapat dilihat di Kamojang, tempat PGE telah beroperasi lebih dari empat dekade. Kehadiran perusahaan tidak hanya memasok listrik bersih, tetapi juga mendorong pendidikan, kewirausahaan, hingga penguatan ekonomi masyarakat sekitar. Komitmen tersebut tercermin dari raihan 15 kali PROPER Emas, penghargaan tertinggi pemerintah di bidang pengelolaan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.
Di tengah persaingan global pada sektor minyak dan gas yang semakin ketat, Ahmad Yani melihat geothermal sebagai peluang Indonesia untuk tampil sebagai pemimpin dunia.
Jika Indonesia sulit menjadi produsen minyak terbesar, panas bumi menawarkan panggung yang berbeda. Dengan cadangan terbesar, dukungan kebijakan pemerintah, dan strategi ekspansi yang agresif, geothermal berpotensi menjadi identitas baru Indonesia dalam peta energi global.
“Potensinya ada, teknologinya berkembang, dan sekarang saatnya Indonesia memimpin,” menjadi pesan kuat yang ingin disampaikan PGE.
Seratus tahun setelah uap pertama menyembur dari Kamojang, geothermal tak lagi sekadar cerita tentang panas dari perut bumi. Ia telah berubah menjadi simbol harapan bahwa masa depan ketahanan energi Indonesia bisa dibangun dari kekuatan yang selama ini tersimpan jauh di bawah kaki sendiri.


