Sorong, Papua, ruangenergi.com— Kabar menggembirakan datang dari Papua. PT Pertamina EP Asset 4 (PEPC Region 4 Zona 14, Sorong, Papua Barat) mencatat keberhasilan pengeboran sumur pengembangan Salawati (SLW)-F003.
Laporan Kepala SKK Migas Djoko Siswanto pada Minggu, 16 Agustus 2026, menyebutkan sumur SLW-F003 berhasil menjalani uji produksi pada 10 Agustus 2026 dengan capaian sementara 369 barel minyak per hari (BOPD).
Angka tersebut melampaui target produksi awal sebesar 283 BOPD, atau sekitar 30 persen lebih tinggi dari target.
Sumur yang sebelumnya direncanakan sebagai lokasi pengeboran SLW-F3X itu menghasilkan minyak dari lapisan Kais dengan dukungan artificial lift menggunakan Electric Submersible Pump (ESP).
47 Hari dari Tajak hingga Uji Produksi
Sumur SLW-F003 dibor secara directional dengan konfigurasi J-type menggunakan Rig PDSI #11.2/N80B-M. Pengeboran mencapai kedalaman akhir 2.080 meter measured depth (mMD) atau 2.061 meter true vertical depth (mTVD).
Yang menarik, seluruh rangkaian pekerjaan mulai dari pengeboran hingga uji produksi dapat diselesaikan hanya dalam 47 hari.
Tak hanya mengejar produksi, aspek keselamatan juga menjadi catatan penting. Hingga pelaksanaan uji produksi, kegiatan tersebut membukukan 88.440 safe man hours tanpa kecelakaan.
Capaian itu menjadi bukti bahwa percepatan operasi tetap berjalan seiring dengan penerapan prinsip Health, Safety, Security, and Environment (HSSE) serta operational excellence.
Harapan Lifting Papua Terus Menanjak
Keberhasilan SLW-F003 menjadi tambahan energi positif bagi pengembangan migas di Papua Barat. Sumur tersebut diharapkan segera masuk tahap produksi untuk memberikan kontribusi terhadap peningkatan lifting nasional.
SKK Migas dan Pertamina juga masih memiliki sejumlah agenda pekerjaan dalam program WP&B hingga akhir 2026, antara lain Enhanced Oil Recovery (EOR), stimulation, serta pemboran workover dan sumur-sumur berikutnya.
Harapannya, rangkaian kegiatan tersebut mampu menghasilkan tambahan migas yang bahkan melampaui target secara signifikan, sekaligus meminimalkan risiko unplanned shutdown.
“Mohon doa, Insya Allah segera diproduksikan,” demikian pesan Djoko Siswanto dalam laporan tersebut.
Dari Papua, optimisme baru kembali menyala. Sumur SLW-F003 membuktikan bahwa target produksi bisa dilampaui ketika teknologi, kecepatan operasi, keselamatan kerja, dan kolaborasi.


