Ramuan ‘Semar’ Bawa Berkah, Produksi Minyak KSO Meruap Sukses Meroket 20 Persen!

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Upaya Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) dalam mendongkrak lifting (produksi siap jual) minyak nasional kembali membuahkan hasil manis. Penerapan teknologi Chemical Enhanced Oil Recovery (C-EOR) yang diberi nama “Semar” di wilayah Kerja Sama Operasi (KSO) Meruap sukses mencatatkan tren kenaikan produksi yang signifikan.

Kabar menggembirakan ini disampaikan langsung oleh Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, kepada ruangenergi.com pada Rabu (16/9/2026). Ia mengungkapkan rasa syukurnya atas keberhasilan taktik injeksi bahan kimia tersebut dalam melawan laju penurunan produksi alamiah.

“Alhamdulillah, C-EOR Semar yang diterapkan di KSO Meruap berhasil menaikkan produksi minyak rata-rata kurang lebih 20% dari base line,” ungkap Djoko dengan nada penuh optimisme.

Lebih lanjut, Djoko menjelaskan bahwa lonjakan produksi tersebut merupakan buah manis dari proses injeksi chemical Semar yang telah dilaksanakan secara intensif selama empat bulan, terhitung sejak Februari hingga Juni 2026. Hasil pantauan selama periode tersebut membuktikan bahwa formula ‘Semar’ benar-benar efektif menguras sisa minyak yang ada di perut bumi KSO Meruap.

Melihat tren yang sangat menjanjikan ini, SKK Migas berkomitmen untuk tidak berhenti sampai di sini. Djoko berharap agar inovasi teknologi peningkat produksi ini bisa diterapkan secara berkelanjutan.

“Mohon dukungan dan doanya, Insya Allah program EOR injeksi chemical Semar ini akan terus berlanjut. Aamiin YRA,” tambahnya.

Di akhir pesannya, Djoko menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dan kembali menggemakan semangat juang insan hulu migas Tanah Air untuk terus mengejar target produksi nasional.

“Terima kasih. Bersama kita Doa & BISA. Lifting Naik: BISA BISA BISA!” pungkasnya penuh semangat.

Keberhasilan C-EOR Semar di KSO Meruap ini diharapkan dapat menjadi angin segar sekaligus role model (percontohan) bagi lapangan-lapangan mature (tua) lainnya di Indonesia agar mampu kembali berproduksi secara maksimal.