Wow Paten! Rig Duyung Lolos dari Hormuz, Gas 111 MMSCFD Siap Mengalir ke Batam

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com – Kabar baik datang dari proyek pengembangan Lapangan Duyung di Laut Natuna. Jack-up rig yang akan digunakan untuk pengeboran sumur pengembangan lapangan tersebut berhasil melewati salah satu jalur pelayaran paling kritis di dunia, Selat Hormuz.

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto melaporkan perkembangan tersebut pada Rabu (16/9/2026). Ia menyebut jack-up rig milik Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) PT WNEL telah melewati kawasan Selat Hormuz dengan metode wet tow.

“Alhamdulillah, jackup rig untuk ngebor sumur pengembangan Lapangan Duyung, Laut Natuna oleh K3S PT WNEL sudah bisa melewati daerah kritis Selat Hormuz,” kata Djoko, seperti diceritakan kepada ruangenergi.com

Setelah melewati kawasan tersebut, rig dijadwalkan singgah di Fujairah, Uni Emirat Arab, untuk menunggu kapal yang akan mengangkutnya menuju Batam.

Djoko berharap perjalanan menuju Indonesia dapat berlangsung aman dan lancar.

“Mohon doa, insya Allah besok akan berangkat menuju Batam,” ujarnya.

Pergerakan rig ini menjadi bagian penting dari rangkaian pengembangan Lapangan Duyung. Setelah tiba di Indonesia, rig akan digunakan untuk mendukung kegiatan pengeboran sumur pengembangan di lapangan yang berada di Laut Natuna tersebut.

Yang menarik, produksi gas dari Lapangan Duyung nantinya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Djoko menyebut Lapangan Duyung ditargetkan menghasilkan gas sebesar 111 MMSCFD yang akan dialirkan untuk pasar domestik melalui infrastruktur pipa WNTS-Batam.

“Adapun Lapangan Duyung nanti akan memproduksi gas 111 MMSCFD untuk dalam negeri, melalui pipa WNTS-Batam yang insya Allah bulan ini selesai pembangunannya dan akan segera commissioning,” jelasnya.

Dengan demikian, kedatangan rig bukan sekadar soal mobilisasi peralatan pengeboran. Di balik perjalanan panjang dari kawasan Timur Tengah menuju Indonesia, terdapat target yang lebih besar: membawa tambahan pasokan gas dari Natuna untuk memperkuat kebutuhan energi domestik.

Di sisi lain, penyelesaian pembangunan pipa WNTS-Batam menjadi mata rantai penting agar gas dari Lapangan Duyung dapat segera terserap di dalam negeri.

SKK Migas berharap pembangunan hingga tahap commissioning berjalan sesuai rencana. Jika seluruh rangkaian berjalan lancar, produksi gas Duyung sebesar 111 MMSCFD akan memiliki jalur infrastruktur untuk masuk ke sistem pasokan gas domestik.

Perjalanan jack-up rig yang berhasil melewati Selat Hormuz juga menunjukkan bahwa proyek migas tidak hanya menghadapi tantangan teknis di lapangan, tetapi juga tantangan logistik dan geopolitik global.

Bagi SKK Migas dan WNEL, kini perhatian tertuju pada tahapan berikutnya: membawa rig dengan selamat ke Batam, menyelesaikan pengeboran, serta memastikan infrastruktur WNTS-Batam siap menerima pasokan gas dari Duyung.

“Semoga lancar, aman dan selamat,” kata Djoko.

Di akhir laporannya, Djoko menegaskan semangat SKK Migas dan WNEL untuk terus mendorong peningkatan produksi migas nasional.

“Bersama kita: Doa & BISA. Lifting naik: BISA BISA BISA,” tutupnya.