Dari Bumi untuk Kedaulatan Negeri: Kisah Emas di Balik Pesta Pernikahan

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Tangerang Selatan, Banten, ruangenergi.com — Kilau gelang dan cincin emas di balik etalase Toko Emas Palapa, Ciledug, Tangerang, sore itu menarik perhatian Ibu Feni Fenta.

Ia datang dengan satu tujuan sederhana: memilih gelang dan cincin emas untuk persiapan pesta pernikahan putri gadisnya.

Satu per satu perhiasan diamatinya. Gelang emas dicoba, cincin dipandangi. Sesekali matanya berpindah dari satu model ke model lainnya.

Namun, di tengah suasana toko emas yang hangat dan penuh kilauan itu, ingatan Feni tiba-tiba melompat jauh.

Ke Papua.

Ke Pegunungan Sudirman.

Ke Grasberg.

Ia teringat cerita suaminya yang pernah melakukan liputan ke kawasan tambang Freeport Indonesia pada 2002.

Cerita itu sudah lebih dari dua dekade berlalu. Tetapi rupanya belum hilang dari ingatan.

Ketika melihat emas di hadapannya, Feni kembali teringat bagaimana para pekerja tambang harus berjuang menuju lokasi kerja di kawasan pertambangan dengan menggunakan bus khusus yang telah dimodifikasi untuk mampu menaklukkan medan dan ketinggian di area operasi Freeport.

“Kalau melihat emas seperti ini, saya jadi ingat cerita suami waktu liputan ke Grasberg,” ujar Feni.

Dari sebuah toko emas di Ciledug, pikirannya seakan melakukan perjalanan ribuan kilometer menuju jantung Pegunungan Sudirman.

Bagi kebanyakan orang, emas mungkin hanya terlihat sebagai perhiasan.

Kilauannya hadir di etalase toko. Kemudian berubah menjadi gelang, cincin, kalung atau perhiasan lain yang memiliki nilai ekonomi sekaligus emosional.

Tetapi sebelum sampai di etalase seperti yang dilihat Feni, emas terlebih dahulu melewati perjalanan panjang dari bumi.

Di Papua, PT Freeport Indonesia (PTFI) menambang bijih mineral yang mengandung tembaga, emas dan perak di kawasan mineral Grasberg, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua.

PTFI merupakan perusahaan tambang mineral yang terafiliasi dengan Freeport-McMoRan (FCX) dan Mining Industry Indonesia (MIND ID).

Bijih hasil penambangan kemudian diproses hingga menghasilkan konsentrat yang mengandung tembaga, emas dan perak.

Dengan demikian, emas yang menjadi bagian dari rantai industri tersebut tidak berdiri sendiri. Ia berada bersama mineral lain dalam bijih yang ditambang dan kemudian diproses menjadi konsentrat.

Konsentrat inilah yang kemudian menjadi bagian penting dalam perjalanan mineral dari kawasan tambang menuju fasilitas pengolahan dan pasar.

PTFI memasarkan konsentrat ke berbagai penjuru dunia, dengan sebagian penyaluran menuju industri pengolahan tembaga di dalam negeri, termasuk PT Smelting.

Cerita tentang Grasberg yang didengar Feni dari suaminya pada 2002 juga menggambarkan betapa ekstremnya medan pertambangan di kawasan tersebut.

Kawasan mineral Grasberg berada di dataran tinggi Pegunungan Sudirman. Lokasinya terpencil, jauh dari hiruk-pikuk kehidupan kota.

Dulu, nama Grasberg Open Pit begitu identik dengan operasi pertambangan terbuka.

Kini, kawasan mineral tersebut berada dalam fase perubahan besar. Aktivitas pertambangan bergerak menuju pengembangan tambang bawah tanah berskala besar.

Di antaranya terdapat Grasberg Block Cave (GBC) dan Deep Mill Level Zone (DMLZ), selain Big Gossan.

Peralihan dari tambang terbuka menuju tambang bawah tanah bukan sekadar perubahan metode.

Di baliknya terdapat teknologi, rekayasa, infrastruktur dan kerja manusia untuk mengambil cadangan mineral yang berada jauh di bawah permukaan bumi.

Cerita tentang bus khusus yang diceritakan suami Feni menjadi potongan kecil dari gambaran tersebut.

Para pekerja harus mencapai lokasi kerja di tengah kondisi geografis yang tidak biasa. Jalan menanjak, ketinggian dan medan pegunungan menjadi bagian dari keseharian operasi pertambangan.

Dari Konsentrat Menjadi Nilai

Ada jarak yang panjang antara bijih mineral di Papua dan cincin emas yang akhirnya dipilih Feni untuk putrinya.

Bijih ditambang.

Kemudian diproses.

Menghasilkan konsentrat yang mengandung tembaga, emas dan perak.

Selanjutnya mineral tersebut masuk ke dalam rantai pengolahan dan perdagangan.

Pada ujung perjalanan, emas dapat hadir dalam bentuk yang sangat berbeda dari wujud awalnya di dalam bumi.

Menjadi perhiasan.

Menjadi cincin yang akan melingkar di jari seorang pengantin.

Menjadi gelang yang mungkin diberikan seorang ibu kepada anak perempuannya sebagai tanda kasih dan kenangan.

Di titik itulah Feni kembali menatap perhiasan di depannya.

Cincin yang dipilihnya bukan lagi sekadar benda berkilau.

Di baliknya ada perjalanan panjang dari kawasan mineral di Papua.

Ada bumi yang menyimpan mineral.

Ada pekerja yang menambang.

Ada fasilitas pengolahan.

Ada konsentrat.

Ada rantai industri dan perdagangan.

Dan pada akhirnya, ada masyarakat yang menikmati nilai dari mineral tersebut dalam berbagai bentuk.

Dari Bumi untuk Kedaulatan Negeri

Kisah kecil Feni di Toko Emas Palapa menjadi gambaran sederhana tentang bagaimana kekayaan mineral Indonesia dapat hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Dari kawasan tambang Grasberg di Pegunungan Sudirman, mineral yang mengandung tembaga, emas dan perak diproses menjadi konsentrat.

Dari sana, perjalanan mineral berlanjut melewati rantai industri yang panjang.

Sementara di ujung lainnya, seorang ibu di Ciledug sedang memilih cincin dan gelang untuk hari bahagia putrinya.

Dua dunia yang tampak berjauhan itu ternyata terhubung oleh satu benda kecil: emas.

Bagi Feni, emas hari itu bukan hanya soal harga, kadar atau model perhiasan.

Kilau emas di etalase justru membangkitkan kembali cerita suaminya tentang Grasberg seperempat abad lalu—tentang perjalanan menuju ketinggian, tentang para pekerja tambang, dan tentang sebuah kawasan di Papua yang menyimpan salah satu kekayaan mineral penting Indonesia.

Cincin dan gelang itu akhirnya memiliki makna yang lebih panjang.

Dari perut bumi Papua, melalui proses pertambangan dan pengolahan konsentrat, kemudian bergerak dalam rantai industri hingga hadir dalam bentuk perhiasan.

Dari bumi untuk kehidupan.

Dari kekayaan mineral untuk nilai tambah.

Dan pada akhirnya, dari kekayaan alam Indonesia untuk kedaulatan negeri.