Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com— Proyek Floating Liquefied Natural Gas (FLNG) milik Genting Oil yang disiapkan untuk mengolah gas dari Lapangan Asap Kido Merah (AKM), Papua, memasuki tahap penting. Hingga Jumat (25/9/2026), pembangunan fasilitas terapung tersebut telah mencapai 85 persen.
Kabar perkembangan proyek tersebut disampaikan Kepala SKK Migas Djoko Siswanto dalam laporan Good News FLNG pada Jumat.
Djoko mengatakan, FLNG yang sebelumnya telah ditinjau oleh Menteri ESDM kini hampir menyelesaikan pembangunannya di Yard Wison Qidong, China.
Salah satu tahapan penting yang tengah dipersiapkan adalah komisioning FLNG di lokasi pembangunan. Untuk kebutuhan tersebut, LNG akan didatangkan ke galangan tempat FLNG saat ini menjalani pemasangan topside.
Strategi tersebut dilakukan agar apabila ditemukan kendala atau kegagalan operasi saat proses komisioning, perbaikan dapat langsung dilakukan di China.
Dengan begitu, ketika FLNG berlayar menuju perairan Papua tahun depan, fasilitas tersebut diharapkan sudah dalam kondisi siap beroperasi.
“Tujuannya agar supaya saat FLNG tiba di perairan Papua tahun depan, bisa langsung berproduksi,” kata Djoko dalam laporannya,seperti diceritakan kepada ruangenergi.com
Dari Gas AKM Menjadi LNG
FLNG tersebut nantinya akan menjadi fasilitas pengolahan gas dari Lapangan Asap Kido Merah (AKM) yang dioperasikan Genting Oil di Papua.
Konsep FLNG memungkinkan proses pengolahan gas menjadi LNG dilakukan di atas fasilitas terapung. Dengan demikian, gas dari lapangan produksi dapat diproses menjadi LNG tanpa harus seluruh fasilitas pengolahannya dibangun di darat.
Kehadiran fasilitas ini menjadi bagian penting dalam pengembangan sumber daya gas di kawasan Papua sekaligus mendukung peningkatan produksi dan lifting migas nasional.
Besarnya proyek ini tergambar dari ukuran fisiknya. Djoko menyebut panjang FLNG tersebut mencapai sekitar tiga kali panjang lapangan sepak bola.
Menurut laporan Kepala SKK Migas itu, fasilitas tersebut ditargetkan menjadi FLNG pertama dan terbesar di Indonesia, serta disebut sebagai FLNG terbesar ke-9 di dunia.
Besarnya fasilitas terapung ini sekaligus mencerminkan skala pengembangan Lapangan AKM yang membutuhkan teknologi dan infrastruktur pengolahan gas berskala besar.
Bagi SKK Migas dan Genting Oil, tahapan komisioning menjadi salah satu titik krusial sebelum fasilitas tersebut dikirim menuju Papua.
Jika seluruh proses pembangunan, pemasangan topside, pengujian dan komisioning berjalan sesuai rencana, FLNG diharapkan dapat tiba di perairan Papua pada 2027 dalam kondisi siap mendukung kegiatan produksi LNG.
Djoko pun menyampaikan harapan agar seluruh rangkaian pekerjaan berjalan lancar hingga fasilitas tersebut benar-benar beroperasi.
“Mohon doa, Insya Allah semua berjalan lancar, aman dan selamat hingga beroperasi kelak nanti,” ujar Djoko.
FLNG Genting Oil kini bukan sekadar proyek fasilitas terapung. Di Papua, fasilitas sepanjang tiga lapangan bola ini diproyeksikan menjadi salah satu simpul baru pengolahan gas Indonesia—mengubah gas dari Lapangan AKM menjadi LNG untuk memperkuat kontribusi Papua terhadap ketahanan energi nasional.


