Bisnis PDC Makin Menggurita, Revenue Rp2,8 Triliun dan Mulai Ekspansi ke Irak

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Indramayu, Jawa Barat, ruangenergi.com– PT Patra Drilling Contractor (PDC) menunjukkan pertumbuhan bisnis yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Dari perusahaan dengan pendapatan di bawah Rp900 miliar pada 2019, PDC kini telah membukukan pendapatan sekitar Rp2,8 triliun.

Direktur Utama PT Patra Drilling Contractor (PDC) Hery Lesmana mengatakan, pertumbuhan pendapatan tersebut juga diikuti peningkatan profitabilitas dan efisiensi operasional perusahaan.

“2019 revenue kami masih di bawah Rp900 miliar. Tapi tahun lalu sudah tercatat Rp2,8 triliun,” ujar Hery kepada redaktur RuangEnergi.com M. Utar, Jumat (25/9/2026).

Menurut Hery, pada 2025 PDC berhasil mencatatkan laba hingga Rp143 miliar. Perusahaan pun masih membidik kinerja positif pada tahun berjalan.

Untuk 2026, PDC menargetkan pendapatan pada kisaran yang tidak jauh berbeda dari tahun sebelumnya, yakni di atas Rp2,8 triliun.

Hery mengakui, perjalanan mengejar target tahun ini tidak mudah. Salah satu tantangan datang dari aktivitas pengeboran yang dilakukan perusahaan induk bisnis drilling, Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI).

“Di awal tahun beberapa kegiatan pengeboran masih menunggu persiapan lokasi dan perizinan. Namun sekarang sepertinya sudah mulai berjalan kembali. Mudah-mudahan sampai akhir tahun masih bisa kita kejar,” katanya.

Di tengah tantangan tersebut, PDC tidak hanya mengandalkan satu lini bisnis. Sejumlah unit usaha terus dikembangkan untuk memperkuat sumber pendapatan perusahaan.

Hery menyebut beberapa bisnis yang menjadi fokus PDC antara lain food logging service, manpower service, heavy transport equipment, hingga bisnis marine.

Divisi marine, misalnya, kini mengembangkan layanan penyediaan oil boom, yakni peralatan yang digunakan untuk mengantisipasi dan menanggulangi potensi tumpahan minyak.

Menurut Hery, layanan tersebut telah berjalan di sejumlah wilayah, termasuk OSES dan lingkungan Pertamina Patra Niaga.

“Ini bukan karena ada kasus tumpahan minyak. Setiap perusahaan oil and gas, termasuk Pertamina, memang perlu menyiapkan equipment yang ready apabila terjadi insiden tumpahan minyak,” jelasnya.

Dengan demikian, bisnis oil boom yang dikembangkan PDC lebih diarahkan pada aspek kesiapsiagaan dan mitigasi, sehingga peralatan dapat segera digunakan ketika terjadi keadaan darurat.

Garap EPC dan Trading

PDC juga mulai memperluas sayap bisnis melalui pengembangan divisi Engineering, Procurement and Construction (EPC) serta trading.

Untuk bisnis trading, PDC selama ini menyediakan kebutuhan yang mendukung kegiatan konstruksi dan proyek, antara lain casing dan tubing, serta berbagai kebutuhan technical production.

Hery mengatakan, sebelumnya aktivitas tersebut lebih banyak menjadi bagian pendukung proyek internal. Ke depan, PDC ingin mengubahnya menjadi lini bisnis yang dapat melayani pelanggan eksternal.

“Jadi tidak cuma fokus ke proyek kami, tapi kami juga jualan ke customer,” ujarnya.

Strategi tersebut menjadi bagian dari upaya PDC memperluas sumber pendapatan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap proyek internal grup.

Saat ini, bisnis PDC masih cukup kuat ditopang ekosistem Pertamina. Hery memperkirakan sekitar 50 persen pasar PDC berasal dari PDSI, sekitar 30 persen dari entitas Pertamina lainnya, sementara porsi non-Pertamina berada di kisaran 10–20 persen.

Namun, komposisi tersebut sekaligus menunjukkan ruang ekspansi yang masih terbuka.

“Masih luas. Jadi kemungkinan PDC berkembang masih besar,” kata Hery.

Peluang itu akan dimanfaatkan melalui pengembangan lini usaha, perluasan pelanggan, serta pemanfaatan teknologi digital.

Hery menilai digitalisasi bukan lagi sekadar pilihan, tetapi telah menjadi instrumen penting untuk mempercepat pertumbuhan bisnis.

PDC mulai memanfaatkan kanal digital seperti website dan marketplace untuk memperluas pemasaran. Di sisi internal, digitalisasi juga digunakan untuk meningkatkan monitoring dan efisiensi operasional.

Salah satu contohnya adalah pemantauan heavy equipment secara digital.

“Digitalisasi mau tidak mau memang kita terapkan untuk mendukung bisnis kita,” tegasnya.

Strategi tersebut diharapkan dapat membuat pengelolaan aset lebih efektif sekaligus membantu perusahaan mengambil keputusan bisnis secara lebih cepat.

Di sisi keberlanjutan, PDC juga mulai memperkuat penerapan Environmental, Social and Governance (ESG) melalui sejumlah program yang bersentuhan langsung dengan masyarakat dan lingkungan.

Salah satunya adalah program Tempe Santan. Selain itu, terdapat program Malika di Sumatra yang mengolah limbah minyak jelantah dari kegiatan katering perusahaan.

Minyak jelantah tersebut tidak langsung dibuang, tetapi dikumpulkan dan diolah kembali menjadi produk seperti sabun dan lilin melalui kerja sama dengan masyarakat sekitar.

“Limbah-limbah yang masih bisa dimanfaatkan kembali seperti minyak jelantah justru menjadi CSR kami. Kami bekerja sama dengan masyarakat setempat dan mengajari mereka untuk menjadikan satu produk lain,” kata Hery.

PDC juga memastikan limbah dari setiap unit bisnis tidak dibuang sembarangan ke lingkungan. Untuk limbah tertentu, perusahaan menggandeng pihak ketiga yang memiliki kompetensi dalam pengelolaan limbah.

Untuk 2026, anggaran ESG PDC disebut mencapai sekitar Rp700 juta, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di kisaran Rp400 juta–Rp500 juta.

Dari sisi kontribusi pendapatan, manpower service menjadi salah satu mesin utama bisnis PDC.

Hery mengatakan PDC merupakan salah satu pemasok terbesar tenaga kerja untuk PDSI. Selain manpower, food logging service dan heavy transport equipment juga menjadi kontributor penting terhadap pendapatan perusahaan.

Komposisi tersebut menunjukkan bahwa bisnis PDC tidak hanya bertumpu pada jasa pengeboran, tetapi semakin berkembang menjadi perusahaan jasa penunjang energi dengan portofolio yang lebih beragam.

Mulai Menginjak Pasar Irak

Langkah ekspansi PDC bahkan mulai bergerak ke luar negeri.

Hery mengungkapkan PDC telah mulai mendukung kegiatan Pertamina Hulu Energi (PHE) di Irak melalui YIEP.

Salah satu bentuk dukungan yang telah berjalan adalah penyediaan engineering services.

“Yang saya tahu mulai tahun ini sudah ada. Misalnya untuk engineering services, kami ada kontrak dengan YIEP,” ungkapnya.

Ke depan, PDC melihat peluang untuk memperluas dukungan di Irak, termasuk penyediaan manpower serta kebutuhan alat pelindung diri (APD) dan perlengkapan keselamatan kerja lainnya.

Ekspansi ini menjadi sinyal bahwa PDC mulai membawa kemampuan jasa penunjang energi Indonesia ke pasar internasional.

Dengan pertumbuhan revenue dari di bawah Rp900 miliar pada 2019 menjadi Rp2,8 triliun pada 2025, ditambah diversifikasi bisnis, digitalisasi, penguatan ESG dan ekspansi ke luar negeri, PDC kini tengah memasuki fase baru: bukan sekadar tumbuh, tetapi memperlebar medan bisnisnya.