Nyaris 4 Tahun Mati, Sumur SKW-17ST Sukowati Naik 1.025% di Atas Target

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Bojonegoro, Jawa Tengah, ruangenergi.com— Kabar baik kembali datang dari sektor hulu minyak dan gas bumi (migas). Sebuah sumur yang sempat terhenti produksinya selama hampir empat tahun kini berhasil dihidupkan kembali, bahkan mencatatkan produksi awal jauh melampaui target.

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menyampaikan kepada ruangenergi.com, Jumat (2/10/2026), keberhasilan tersebut dicapai PT Pertamina EP Asset 4 Zona 11 melalui kegiatan Well Intervention Sumur SKW-17ST di Lapangan Sukowati Pad B, Desa Ngampel, Bojonegoro, Jawa Timur.

“Alhamdulillah,” demikian laporan Good News yang disampaikan Djoko terkait keberhasilan reaktivasi sumur tersebut.

Yang menarik, hasil produksi awal Sumur SKW-17ST mencapai 810 barel minyak per hari (BOPD). Angka ini setara 1.025% dari target produksi yang hanya 79 BOPD.

Tak hanya minyak, sumur tersebut juga menghasilkan gas sebesar 0,425 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) dari Lapisan Tuban Reef pada interval 7.739–7.749 kaki measured depth (ftMD).

Dengan hasil tersebut, sumur dapat langsung diproduksikan atau POP ( Put on Production) langsung diproduksikan setelah pekerjaan selesai.

Djoko menuturkan, keberhasilan ini menjadi semakin menarik karena SKW-17ST bukanlah sumur yang sebelumnya masih aktif berproduksi.

Sumur tersebut telah mengalami shut-in sejak November 2022 akibat water cut mencapai 100%. Kondisi itu membuat sumur tidak lagi ekonomis untuk diproduksikan.

Tim Pertamina EP Zona 11 kemudian melakukan intervensi untuk mengembalikan potensi produksi sumur.

Rangkaian pekerjaan meliputi penutupan interval produksi eksisting, perbaikan bonding cement, perforasi interval produksi baru pada Lapisan Tuban Reef yang merupakan reservoir limestone, stimulasi matrix acidizing, hingga pemasangan electric submersible pump (ESP).

Hasilnya cukup signifikan. Setelah intervensi, water cut berhasil ditekan menjadi 66,38%.

Di saat yang sama, minyak kembali mengalir dengan initial production sebesar 810 BOPD.

Dari sisi operasional, pekerjaan well intervention SKW-17ST menggunakan Rig NYT#24 berkapasitas 550 HP.

Seluruh kegiatan berhasil diselesaikan dalam waktu 31 hari operasi dan dinyatakan rampung pada 30 September 2026.

Tak hanya mengejar tambahan produksi, proyek ini juga mencatat efisiensi biaya.

Berdasarkan field estimate cost, biaya yang telah dikeluarkan mencapai sekitar US$790.650, atau hanya sekitar 86% dari anggaran yang direncanakan sebesar US$916.946.

Artinya, pekerjaan tidak hanya berhasil mengembalikan produksi sumur, tetapi juga dilakukan dengan biaya yang lebih rendah dibandingkan rencana anggaran.

Bagi SKK Migas dan Pertamina EP, keberhasilan SKW-17ST menjadi contoh bagaimana sumur yang sebelumnya dianggap tidak ekonomis masih dapat dioptimalkan melalui pendekatan teknis yang tepat.

Reaktivasi sumur ini sekaligus menunjukkan bahwa optimalisasi produksi tidak selalu harus dilakukan melalui pengeboran sumur baru. Intervensi terhadap sumur existing atau idle well dapat menjadi salah satu jalan untuk menambah produksi secara lebih cepat dan efisien.

“Mohon doa, Insya Allah produksi bisa bertahan lama, dan air tidak banyak yang keluar. Aamiin YRA,” demikian pesan dalam laporan tersebut.

Keberhasilan Sumur SKW-17ST menjadi tambahan kabar positif dari Lapangan Sukowati. Produksi naik, biaya tetap terkendali, sementara sumur yang hampir empat tahun berhenti berproduksi kembali memberikan kontribusi bagi produksi migas nasional.

Produksi naik, efisiensi terjaga, keselamatan tetap utama.

Bagi SKK Migas dan Pertamina EP Regional 4 Zona 11, semangatnya sederhana: mengembalikan potensi yang masih tersimpan di bawah permukaan menjadi produksi nyata untuk mendukung ketahanan energi nasional.