PNBP ESDM Ditargetkan Tembus Rp165 Triliun, Lampaui Target APBN 2026

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta, ruangenergi.com – Pemerintah menaikkan ambisi penerimaan negara dari sektor energi dan sumber daya mineral (ESDM) menjadi Rp165 triliun pada 2026. Target tersebut dipasang Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, seiring realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang telah mencapai lebih dari 93 persen dari target hingga September 2026.

Target baru itu disampaikan Bahlil dalam Upacara Hari Jadi Pertambangan dan Energi ke-81 di Jakarta, Jumat (23/10/2026). Ia menegaskan, realisasi penerimaan yang terus meningkat harus menjadi momentum untuk mengoptimalkan kontribusi sektor ESDM terhadap pendapatan negara.

“Saya menargetkan PNBP kita, dari target Rp137 triliun, harus bisa mencapai Rp165 triliun,” tegas Bahlil.

Berdasarkan data hingga September 2026, PNBP sektor ESDM telah mencapai Rp127,71 triliun atau 93,78 persen dari target. Dengan masih tersisa tiga bulan hingga akhir tahun anggaran, pemerintah menilai peluang untuk meningkatkan penerimaan masih terbuka.

Target Rp165 triliun tersebut sekitar Rp29 triliun lebih tinggi dibandingkan target PNBP ESDM dalam APBN 2026 yang ditetapkan sebesar Rp136,18 triliun. Sebagai pembanding, pada 2025 Kementerian ESDM berhasil membukukan PNBP sebesar Rp138,4 triliun atau 108,56 persen dari target Rp127,49 triliun.

Optimalisasi Nilai Tambah Pertambangan

Pencapaian penerimaan negara tersebut berlangsung di tengah kebijakan pemerintah yang menata produksi batu bara pada 2026 agar lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2025, produksi batu bara tercatat melampaui 800 juta ton.

Kebijakan pengendalian produksi ini mencerminkan perubahan orientasi pemerintah, dari sekadar mengejar volume produksi menuju optimalisasi nilai tambah sumber daya alam. Meski produksi ditata lebih rendah, penerimaan negara dari sumber daya alam batu bara tetap menunjukkan kinerja positif.

Hingga September 2026, PNBP sumber daya alam batu bara telah mencapai 92,02 persen dari target APBN. Capaian tersebut menjadi salah satu penopang penerimaan negara dari sektor ESDM.

Selain batu bara, sektor hulu minyak dan gas bumi (migas) turut memberikan kontribusi. Pada 2025, lifting minyak berhasil melampaui target untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun terakhir, dengan realisasi sekitar 605,9 ribu barel per hari.

Keberhasilan tersebut sekaligus membalikkan tren penurunan produksi minyak yang berlangsung selama satu dekade.

Hilirisasi Didorong hingga Industri Baterai

Di sektor hilir, pemerintah terus mempercepat pembangunan industri pengolahan dan pemurnian mineral atau smelter. Dari total 14 smelter terintegrasi yang menjadi bagian dari agenda pengembangan industri, lima di antaranya telah selesai dibangun dengan nilai investasi mencapai 7,8 miliar dolar AS.

Pembangunan tersebut menjadi tahap awal untuk memperluas hilirisasi, yang selanjutnya diarahkan pada pengembangan industri prekursor, katoda, hingga baterai. Melalui langkah ini, pemerintah ingin memastikan nilai tambah komoditas mineral tidak berhenti pada pengolahan bahan mentah, tetapi berlanjut hingga produk industri bernilai tinggi di dalam negeri.

Bahlil juga menaruh perhatian pada pengembangan nikel Indonesia agar menjadi bagian penting dari rantai pasok industri hijau dunia. Untuk itu, pembangunan fasilitas industri di dalam negeri harus terus diperkuat.

Namun, ia menekankan bahwa peningkatan aktivitas pertambangan harus berjalan seiring dengan kepatuhan terhadap kewajiban pemenuhan kebutuhan dalam negeri, reklamasi lahan, serta penerapan keselamatan dan kesehatan kerja.

Dengan demikian, pengembangan industri pertambangan tidak hanya berorientasi pada peningkatan investasi dan penerimaan, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan lingkungan dan keselamatan pekerja.

Investasi ESDM Capai US$31,97 Miliar

Kinerja sektor ESDM juga tercermin dari realisasi investasi sepanjang 2025 yang mencapai 31,97 miliar dolar AS. Capaian tersebut dinilai menjadi modal penting untuk memperkuat pengembangan sektor energi dan sumber daya mineral sekaligus meningkatkan kontribusinya terhadap perekonomian nasional.

“Capaian ini adalah fondasi, bukan garis akhir,” ujar Bahlil.

Ia meminta seluruh jajaran di lingkungan ESDM untuk menjadikan capaian tersebut sebagai pijakan dalam mengejar target yang lebih tinggi. Menurutnya, peningkatan kinerja membutuhkan integritas, keberanian dalam mengambil keputusan, serta kesungguhan untuk menuntaskan setiap program yang telah direncanakan.

Bahlil mengingatkan agar jajaran ESDM tidak terjebak pada penyusunan konsep tanpa pelaksanaan nyata.

“Jangan hanya bikin konsep, konsep, konsep terus, tidak pernah mengeksekusi konsep,” katanya.

Pesan tersebut menegaskan pentingnya pelaksanaan program secara konkret agar berbagai kebijakan yang telah disusun dapat memberikan hasil nyata bagi negara dan masyarakat.

Memasuki usia ke-81, sektor pertambangan dan energi diharapkan tidak hanya berperan menjaga ketahanan pasokan energi nasional, tetapi juga menjadi sumber penerimaan negara yang kuat dan berkelanjutan.

Pada akhirnya, peningkatan PNBP, investasi, dan nilai tambah melalui hilirisasi diharapkan mampu memastikan kekayaan alam Indonesia dikelola untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945.