Geng North hingga Geliga Bikin Indonesia Nomor 1 Dunia, Djoko Siswanto: Hulu Migas Belum Sunset!

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Industri hulu minyak dan gas bumi (migas) Indonesia ternyata masih menyimpan potensi besar. Di tengah anggapan bahwa industri migas nasional mulai memasuki masa senja atau sunset industry, data global justru memperlihatkan fakta yang berbeda: Indonesia masih menjadi salah satu kawasan paling menjanjikan dalam penemuan cadangan migas dunia.

Kabar menggembirakan ini disampaikan Kepala SKK Migas Djoko Siswanto kepada RuangEnergi.com, Jumat (30/10/2026). Ia membagikan data Rystad Energy yang memperlihatkan posisi Indonesia dalam peta penemuan besar migas global.

“Data-data dari Rystad Energy mengenai peringkat-peringkat potensi Indonesia. Untuk temuan big fish offshore dalam satu dekade terakhir, Indonesia hanya di bawah hotspot Senegal dan Guyana,” ujar Djoko,mengutip laporan dari stafnya dan diceritakan kepada ruangenergi.com, Jumat (30/10/2026).

Pernyataan tersebut bukan tanpa dasar. Dalam grafik Rystad Energy bertajuk Global Discoveries Offshore Above 100 Million BOE, 2016–2026, Indonesia masuk dalam jajaran lima negara dengan penemuan besar migas lepas pantai (offshore) di dunia.

Posisi Indonesia berada di bawah Senegal dan Guyana, sekaligus menunjukkan bahwa perairan Indonesia masih memiliki daya tarik eksplorasi yang kuat di tengah persaingan global untuk menemukan sumber daya hidrokarbon baru.

Namun, kejutan yang lebih besar justru terlihat pada penemuan gas dan kondensat.

Djoko mengungkapkan, berdasarkan data Rystad Energy untuk periode 2021–2025, Indonesia menempati posisi nomor satu dunia dalam penemuan sumber daya gas-kondensat.

” Bahkan untuk temuan gas kondensat lima tahun terakhir, Indonesia nomor satu dunia. Geliga, Geng North, Timpan, Layaran dan lain-lain,” ungkap Djoko.

Grafik Top 10 Gas-Condensate Discovery 2021–2025 yang dibagikan SKK Migas memperlihatkan Indonesia berada di posisi teratas, mengungguli China, Brasil, Rusia, Malaysia, Mesir, Kolombia, Siprus, Norwegia, dan Turki.

Sejumlah penemuan besar seperti Geng North, Layaran, Timpan, dan Geliga menjadi bagian dari cerita kebangkitan eksplorasi hulu migas Indonesia.

Temuan-temuan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa potensi sumber daya migas Indonesia tidak hanya bertumpu pada lapangan-lapangan tua yang selama ini menjadi tulang punggung produksi nasional. Peluang penemuan cadangan baru masih terbuka, khususnya dari wilayah laut dalam dan kawasan eksplorasi yang belum banyak tersentuh.

Bagi Djoko Siswanto, data tersebut menjadi sinyal positif bagi masa depan industri hulu migas nasional. Apalagi, di tengah tantangan penurunan produksi alamiah lapangan-lapangan tua, penemuan cadangan baru menjadi salah satu kunci menjaga keberlanjutan pasokan energi Indonesia.

Ia juga menyoroti perubahan pandangan sejumlah pengamat yang sebelumnya menilai industri hulu migas Indonesia telah memasuki masa sunset industry.

Menurut Djoko, perkembangan investasi dan penemuan sumber daya baru semestinya mendorong lahirnya perspektif yang lebih optimistis mengenai masa depan sektor ini.

“Alhamdulillah investasi hulu migas terus meningkat. Dan para pengamat yang sempat menulis industri hulu migas masuk masa sunset, berubah pikiran untuk menulis bagaimana caranya supaya bersinar kembali seperti data-data yang ada tersebut di atas,” tutur Djoko.

Pernyataan tersebut menyiratkan pesan penting: Indonesia bukan negara yang kehabisan potensi migas. Tantangannya adalah bagaimana mengubah potensi sumber daya yang ditemukan menjadi cadangan yang ekonomis, kemudian dikembangkan menjadi produksi nyata.

Dibutuhkan keberlanjutan investasi, kepastian regulasi, percepatan perizinan, teknologi eksplorasi, serta kolaborasi pemerintah dan kontraktor kontrak kerja sama (KKKS).

Sebab, penemuan besar di atas kertas belum otomatis menjadi produksi. Masih ada tahapan panjang mulai dari evaluasi temuan, penetapan rencana pengembangan (Plan of Development/POD), keputusan investasi akhir (Final Investment Decision/FID), hingga pembangunan fasilitas produksi.

Tetapi satu hal mulai terlihat jelas. Peta eksplorasi global masih menempatkan Indonesia sebagai salah satu kawasan yang diperhitungkan.

Jika momentum penemuan besar ini mampu dijaga dan ditindaklanjuti dengan pengembangan lapangan secara konsisten, industri hulu migas Indonesia memiliki peluang untuk kembali bersinar.

Bukan sekadar membantah label sunset industry, melainkan membuktikan bahwa Indonesia masih punya cerita besar dalam perburuan energi dunia.