Psst…! Djoko Siswanto Ungkap Raksasa Migas Dunia Mulai Melirik Kembali Indonesia

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Industri hulu minyak dan gas bumi (migas) Indonesia mendapat sinyal positif dari para pemain global. Sejumlah perusahaan migas raksasa dunia mulai menunjukkan kembali minatnya untuk berinvestasi di Tanah Air. TotalEnergies bahkan dijadwalkan kembali melakukan pengeboran di Wilayah Kerja (WK) Bobara mulai bulan depan, bersama PETRONAS dan Pertamina.

Tak hanya itu, Shell dan Chevron juga bersiap menjajaki peluang investasi melalui kegiatan joint study di sejumlah wilayah kerja migas Indonesia.

Kabar menggembirakan tersebut disampaikan Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Djoko Siswanto, seusai menutup Forum Ekonomi, Keuangan dan Komersial (FOREK) Hulu Migas 2026 di Jakarta, Kamis (29/10/2026).

“TotalEnergies kembali untuk melakukan pengeboran bulan depan di Bobara, bersama PETRONAS dan Pertamina,” ujar Djoko.

Kembalinya TotalEnergies, ditambah rencana penjajakan investasi Shell dan Chevron, menjadi perkembangan menarik bagi industri hulu migas nasional. Kehadiran perusahaan-perusahaan besar tersebut memperlihatkan bahwa Indonesia masih masuk dalam radar investasi industri migas dunia.

Djoko mengatakan, ketertarikan investor global juga tercermin dari kehadiran sejumlah perusahaan internasional, termasuk Eni dan PETRONAS, dalam rangkaian FOREK Hulu Migas 2026.

Namun, menurutnya, potensi sumber daya migas yang besar saja tidak cukup untuk membuat investor datang dan bertahan. Indonesia perlu memastikan iklim investasi hulu migas semakin kompetitif, terutama melalui pembenahan regulasi dan kebijakan fiskal.

“Yang paling utama adalah bagaimana iklim hulu migas Indonesia semakin menarik. Salah satunya melalui regulasi dan kebijakan fiskal yang lebih fleksibel, sehingga kita bisa memberikan insentif yang sesuai kebutuhan industri,” kata Djoko.

Persoalan daya tarik investasi menjadi salah satu perhatian utama dalam penyelenggaraan FOREK Hulu Migas 2026.

Forum tersebut mempertemukan para pemangku kepentingan dari dalam dan luar negeri untuk membahas serta membandingkan skema fiskal hulu migas yang diterapkan berbagai negara.

SKK Migas ingin mendapatkan gambaran mengenai kebijakan apa saja yang terbukti mampu menarik investasi migas global, sekaligus melihat peluang untuk mengadaptasinya dengan kondisi dan karakteristik industri migas Indonesia.

“Kita bandingkan fiscal terms di berbagai negara, mengapa investor banyak datang ke sana, lalu kita diskusikan apakah kebijakan tersebut bisa ditiru atau diadaptasi agar investor tertarik masuk ke Indonesia,” jelas Djoko.

Bagi Indonesia, persaingan memperebutkan investasi migas global semakin penting. Investor tentu mempertimbangkan berbagai aspek sebelum memutuskan menanamkan modal, mulai dari kepastian hukum, keekonomian proyek, fleksibilitas kontrak hingga besaran insentif yang ditawarkan.

Karena itu, pembenahan kebijakan fiskal menjadi salah satu pekerjaan penting agar proyek-proyek migas nasional tetap menarik di tengah persaingan dengan negara produsen lainnya.

Djoko menegaskan, Indonesia sesungguhnya memiliki potensi sumber daya migas yang besar. Sejumlah penemuan dalam beberapa tahun terakhir juga membuka peluang pengembangan lapangan baru yang dapat memperkuat produksi migas nasional.

Peluang tersebut harus dimanfaatkan dengan kebijakan yang tepat. Pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan perlu memastikan bahwa potensi sumber daya yang ditemukan dapat berlanjut menjadi proyek pengembangan, investasi, dan produksi yang memberikan manfaat nyata bagi perekonomian nasional.

Kembalinya TotalEnergies ke kegiatan pengeboran di Bobara, serta rencana joint study Shell dan Chevron, menjadi perkembangan yang patut dicermati dalam perjalanan industri hulu migas Indonesia.

Pesan Djoko dari penutupan FOREK Hulu Migas 2026 cukup jelas: Indonesia memiliki potensi, tetapi potensi itu harus ditopang regulasi yang adaptif, skema fiskal yang berdaya saing, dan insentif yang tepat.

Sebab, di tengah persaingan global, investor tidak hanya mencari cadangan migas yang besar. Mereka juga mencari kepastian dan keekonomian yang memungkinkan investasi berjalan dalam jangka panjang.