Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com– Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan pemerintah tidak akan lepas tangan dalam upaya mengejar target lifting minyak nasional tahun 2026 dan 2027. Dalam rapat bersama DPR, Bahlil mengakui tantangan besar masih membayangi sektor hulu migas, mulai dari sumur tua hingga persoalan pasokan listrik di wilayah produksi.
Menurut Bahlil, sekitar 60 persen blok minyak existing saat ini dikelola oleh Pertamina. Karena itu, tanggung jawab menjaga produksi migas tetap menjadi kewajiban bersama antara pemerintah dan BUMN.
“Karena ini BUMN, tetap tanggung jawab pemerintah. Tidak boleh pemimpin lepas tanggung jawab,” tegas Bahlil.
Ia menjelaskan, salah satu persoalan utama penurunan lifting nasional berasal dari sumur-sumur tua yang sudah beroperasi puluhan tahun, khususnya di wilayah Sumatera dan Riau, termasuk blok Pertamina Hulu Rokan.
Bahlil mengungkapkan penurunan produksi di wilayah Rokan saat ini mencapai sekitar 80.000 barel per hari. Menariknya, ia menilai akar persoalannya bukan semata teknologi, melainkan keterbatasan pasokan listrik yang menghambat optimalisasi sumur.
“Masalahnya bukan teknologi, tapi listrik. Ini yang sedang kita selesaikan,” ujarnya.
Selain itu, pemerintah juga menyoroti penurunan produksi di lapangan yang dioperasikan ExxonMobil. Dari sebelumnya mencapai sekitar 185 ribu barel per hari, kini produksinya turun ke kisaran 110–120 ribu barel per hari.
Untuk menahan laju penurunan tersebut, strategi pemerintah adalah membuka sumur-sumur baru dan mengoptimalkan sumur existing dengan penerapan teknologi enhanced recovery.
Bahlil optimistis target lifting minyak nasional pada 2026 sebesar 610 ribu barel per hari masih realistis untuk dicapai.
“Insya Allah kita akan berjuang mencapai target 610 ribu barel per hari,” katanya.
Dalam waktu dekat, pemerintah bersama SKK Migas juga akan menggelar rapat intensif guna merumuskan langkah cepat percepatan reformasi dan strategi peningkatan lifting nasional. Fokusnya adalah memastikan hasil konkret bisa segera diambil untuk menopang target produksi tahun depan.


