Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com- Dinamika geopolitik global yang tengah bergejolak dinilai menjadi momentum strategis bagi Indonesia untuk memperkuat ketahanan energi. Melalui kekayaan sumber daya alam dan letak geografis yang strategis, Indonesia berpeluang besar membangun industri hilir minyak dan gas bumi (migas) yang kompetitif.
Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Pembinaan Program Minyak dan Gas Bumi, Hendra Gunawan, saat mewakili Direktur Jenderal Migas dalam acara “Asian Downstream Summit Roadshow 2026”, Selasa (21/4/2026), dikutip dari website MIGAS.
“Tahun ini kita semua menghadapi tantangan geopolitik yang luar biasa dalam memastikan keamanan energi untuk mendukung perekonomian nasional. Oleh karena itu, kita tidak lagi bisa hanya mengandalkan skenario bisnis seperti biasa,” ujar Hendra.
Hendra menekankan bahwa pemerintah kini berfokus pada keamanan energi melalui strategi diversifikasi guna menggeser ketergantungan impor migas dan memperkuat pengelolaan cadangan energi nasional. Langkah ini sejalan dengan tema acara, yakni Peta Jalan Hilir Indonesia: Strategi, Target, dan Visi 2045.
Di hadapan para pemangku kepentingan migas ASEAN, Hendra memaparkan bahwa Pemerintah telah menetapkan Visi Hilir Indonesia 2045 yang ditopang oleh tiga pilar utama.
Pertama, penguatan daya saing sektor hilir melalui pembangunan industri pengolahan berkelas dunia dengan nilai tambah yang tinggi. Kedua, pengamanan pasokan energi nasional melalui strategi diversifikasi dan penyediaan cadangan strategis. Ketiga, peningkatan nilai ekonomi melalui pengolahan dalam negeri (manufaktur) yang berorientasi pada ekspor.
Sebagai bentuk implementasi, pemerintah saat ini tengah menggenjot peningkatan kapasitas pengolahan lewat pembangunan kilang baru (Grass Root Refinery/GRR) dan optimalisasi kilang yang sudah ada (Refinery Development Master Plan/RDMP). Di sektor hilir gas, perluasan infrastruktur pipa transmisi dan distribusi juga terus dipacu.
“Proyek GRR dan RDMP ini bukan sekadar proyek konstruksi besar, melainkan strategi kunci untuk memastikan kedaulatan ekonomi Indonesia,” tegas Hendra.
Pemerintah juga telah menetapkan target jangka menengah menuju tahun 2030, yang mencakup peningkatan kapasitas kilang, penguatan cadangan bahan bakar, perluasan infrastruktur gas, dan pengembangan kawasan industri terpadu.
Untuk merealisasikan target-target tersebut, pemerintah membuka peluang investasi seluas-luasnya di sektor kilang, petrokimia, infrastruktur gas, serta pengembangan bahan bakar terbarukan (biofuel). Guna menarik minat investor, berbagai instrumen kebijakan telah disiapkan, mulai dari insentif fiskal, penyederhanaan perizinan, hingga jaminan kepastian regulasi.
“Kami terus berupaya menciptakan iklim investasi yang kondusif agar sektor hilir migas dapat berkembang secara optimal dan memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian,” kata Hendra.
Ke depan, pengembangan sektor hilir ini akan dijalankan sesuai peta jalan yang terbagi dalam tiga fase: ekspansi infrastruktur (2025–2030), integrasi industri (2030–2040), dan penguatan daya saing global (2040–2045).
Menutup sambutannya, Hendra mengajak komunitas internasional untuk bersinergi mewujudkan visi tersebut. “Indonesia menyambut baik kolaborasi internasional melalui pertukaran pengetahuan dan kemitraan. Bersama-sama, kita dapat mengubah sektor hilir Indonesia menjadi model keamanan energi dan keunggulan industri,” pungkasnya.


