Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com – Investasi kegiatan eksplorasi minyak dan gas bumi di wilayah perbatasan Indonesia kembali bergerak. Kontrak bagi hasil atau Production Sharing Contract (PSC) Wilayah Kerja (WK) Eksplorasi Arwana III resmi ditandatangani pada 10 Agustus 2026.
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengatakan, PSC tersebut ditandatangani oleh SKK Migas bersama KKKS Prima Natuna Eksploitasi & Produksi, setelah wilayah kerja tersebut ditetapkan sebagai pemenang lelang WK Migas Reguler dan memperoleh persetujuan Menteri ESDM pada 19 Mei 2026.
“Alhamdulillah, tanda tangan PSC WK Eksplorasi Arwana III telah selesai dilakukan oleh SKK Migas dan KKKS Prima Natuna Eksploitasi & Produksi pada 10 Agustus 2026,” kata Djoko kepada ruangenergi.com, Rabu (12/8/2026).
WK Arwana III berada di Laut Natuna, kawasan strategis yang berdekatan dengan wilayah Vietnam dan Malaysia. Luas wilayah kerja ini mencapai sekitar 5.552 kilometer persegi.
Menurut Djoko, kontrak tersebut membawa komitmen pasti investasi sebesar US$7,7 juta untuk kegiatan eksplorasi awal. Program kerja tersebut antara lain mencakup kegiatan geologi dan geofisika (G&G) serta akuisisi sekitar 300 kilometer seismic.
Selain komitmen pasti tersebut, terdapat pula sejumlah kewajiban finansial dalam kontrak, yakni signature bonus sebesar US$200.000, komitmen kerja sebesar US$200.000, serta bonus produksi (PB) sebesar US$1,5 juta.
Bagi SKK Migas, percepatan penandatanganan PSC menjadi salah satu kunci agar investasi migas tidak berhenti terlalu lama di meja administrasi.
Djoko berharap, ke depan proses penandatanganan PSC dapat dilakukan maksimal satu minggu setelah pengumuman pemenang lelang.
“Kontrak PSC sudah tersedia format bakunya dan tinggal memasukkan angka-angka dalam dokumen lelang,” ujarnya.
Menurut dia, kecepatan tersebut penting karena berhubungan langsung dengan masuknya investasi, penciptaan lapangan kerja, pertumbuhan ekonomi, peningkatan lifting migas, sekaligus menjaga keekonomian wilayah kerja.
“Hal ini penting untuk mempercepat investasi, ketersediaan lapangan kerja, pertumbuhan ekonomi, target peningkatan lifting dan menjaga keekonomian WK itu sendiri,” kata Djoko.
Djoko menyebut pesan Menteri ESDM yang kerap disampaikan kepada jajaran sektor energi menjadi salah satu semangat dalam mendorong percepatan tersebut.
“Pak Menteri sering berpesan bahwa ke depan bangsa yang maju adalah bangsa yang cepat dalam segala hal,” katanya.
Setelah PSC ditandatangani, pekerjaan eksplorasi Arwana III akan memasuki tahapan penting. Akuisisi data seismic diharapkan mampu memberikan gambaran lebih jelas mengenai potensi hidrokarbon yang tersimpan di bawah permukaan Laut Natuna.
Djoko berharap hasil kegiatan seismic tersebut memberikan prospek positif sehingga dapat dilanjutkan menuju pengeboran eksplorasi.
“Kami mohon doa, hasil seismic-nya nanti bagus sehingga dapat dilanjutkan dengan ngebor eksplorasi. Aamiin YRA,” tutur Djoko.
Dengan luas wilayah mencapai 5.552 kilometer persegi dan lokasinya yang berada di kawasan strategis Laut Natuna, WK Arwana III menjadi salah satu bagian dari upaya pemerintah membuka frontier baru eksplorasi migas nasional.
“Bagi Indonesia, keberhasilan eksplorasi di wilayah tersebut bukan hanya soal menemukan cadangan baru. Lebih jauh, kegiatan eksplorasi di kawasan perbatasan juga menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan investasi migas, ketahanan energi, serta optimalisasi potensi sumber daya alam nasional, dan juga sekaligus menjaga keutuhan dan kedaulatan wilayah teritorial NKRI agar tidak diakui sebagai wilayah negara lain,” tegas Djoko.

