Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com- Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia secara terbuka meminta maaf atas penyesuaian kontrak ekspor LNG Indonesia pada 2025. Permintaan maaf itu ia sampaikan di hadapan pelaku usaha hulu migas, disertai jaminan bahwa kontrak 2026 berjalan penuh dan 2027 tengah disiapkan.
Pernyataan tersebut disampaikan Bahlil saat menutup sambutannya dalam forek hulu migas, Rabu (28/10/2026), di Jakarta.
“Untuk kontrak ekspor di 2025, saya harus minta maaf,” ujarnya.
Bahlil menjelaskan, penyesuaian terjadi karena kebutuhan gas dalam negeri melampaui perkiraan. Kelebihan permintaan domestik tercatat sekitar 60 kargo LNG, sehingga pemerintah mengalihkan sebagian pasokan yang semestinya diekspor.
“Waktu itu terjadi kelebihan permintaan domestik sekitar 60 kargo, sehingga sebagian kita sesuaikan,” kata Bahlil.
Pengakuan ini menegaskan pilihan pemerintah memprioritaskan pasokan dalam negeri ketika terjadi kekurangan, meski berisiko terhadap komitmen kepada pembeli luar negeri.
Bahlil memastikan situasi serupa tidak terulang tahun ini. “Kontrak gas tahun ini clear, LNG juga clear,” katanya. Ia mengaku telah mengeceknya bersama Kepala SKK Migas Djoko Siswanto) dan Kathy Wu, bp regional president Asia Pacific, gas and low carbon energy.
Untuk 2027, Bahlil mengatakan sudah memerintahkan SKK Migas mempersiapkan langkah agar pembeli dan pasar yang telah menandatangani kerja sama dengan pihak luar negeri tetap terjaga. Langkah ini penting untuk menjaga kepercayaan mitra dagang terhadap Indonesia sebagai pemasok LNG.
Di akhir sambutan, Bahlil meminta tidak ada keraguan di kalangan pelaku usaha. “Insya Allah semuanya berjalan. Kalau ada masalah, kita bicarakan baik-baik, jangan di luar. Kita selesaikan secara adat dan aturan yang sama-sama kita sepakati,” tuturnya.


