BP: Indonesia Kini Bersaing dengan Guyana, Brasil hingga Namibia Rebut Investasi Migas

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com — Indonesia tidak lagi hanya bersaing dengan negara-negara tetangga dalam menarik investasi minyak dan gas bumi (migas). Di tengah disiplin baru industri hulu migas global, Indonesia kini harus berhadapan dengan Brasil, Guyana hingga Namibia untuk memperebutkan modal.

Pesan itu disampaikan Vice President Subsurface BP Asia Pacific, Raihan Mahfoedz, dalam Simposium Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI), Selasa (15/9/2026).

Menurut Raihan, tantangan industri hulu migas saat ini bukan semata-mata menemukan cadangan besar. Persoalan yang tak kalah penting adalah bagaimana mempercepat perjalanan dari data dan penemuan menuju produksi.

“Waktu kita harus lebih cepat, lebih cepat lagi,” ujar Raihan.

Raihan mengatakan, BP saat ini bertanggung jawab atas operasi di kawasan Asia Pasifik dan India, dengan portofolio yang mayoritas merupakan aset gas. Kapasitas produksi yang dikelola mencapai sekitar 5.000 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD), dengan hampir separuhnya berasal dari fasilitas Tangguh di Indonesia.

Tiga Prinsip Mengelola Aset

Dalam pengelolaan aset hulu migas, Raihan menyebut ada tiga prinsip yang menjadi perhatian BP.

Pertama, menahan laju penurunan produksi (rest decline) sekaligus meningkatkan recovery factor secara sistematis.

Pengalaman di Irak menjadi salah satu contoh. Ketika BP mulai menangani aset tersebut, tingkat base decline berada di sekitar 17 persen. Namun, melalui berbagai intervensi, tren produksi berhasil berbalik menjadi pertumbuhan sejak 2010.

Pendekatan serupa kini diterapkan di India.

BP bekerja sama dengan ONGC sebagai konsultan untuk membantu mengatasi penurunan produksi yang telah berlangsung selama delapan hingga sembilan tahun.

“Hampir dua tahun lalu kita ada kerja sama dengan ONGC. Produksi mereka sudah decline selama delapan sampai sembilan tahun dan alhamdulillah tahun ini sejak BP masuk bukan sebagai partner, tapi sebagai consultant untuk menahan produksi, sekarang sudah flat production,” kata Raihan.

Keberhasilan tersebut bahkan membuat ONGC kembali mempercayakan pengelolaan sejumlah lapangan lainnya kepada BP.

Discovery Tak Boleh Berlama-lama Menunggu Produksi

Prinsip kedua adalah mempercepat jarak antara discovery menuju produksi.

Raihan menilai, menambah produksi dalam waktu cepat terkadang lebih strategis dibandingkan sekadar menambah cadangan.

Ia mencontohkan keberhasilan Exxon di Guyana yang mampu membawa sebuah penemuan menuju produksi hanya dalam waktu sekitar tiga tahun.

“Best in class-nya mungkin sekarang malah dipegang Exxon kemarin di Guyana, tiga tahun dari discovery to production,” ujarnya.

Untuk mengejar kecepatan tersebut, BP mengembangkan konsep standardized design.

Prinsipnya sederhana: design once, build many.

Konsep tersebut telah diterapkan BP di Gulf of Mexico, Amerika Serikat. Desain yang telah terbukti dapat digunakan kembali untuk proyek-proyek berikutnya sehingga waktu dan biaya pengembangan bisa ditekan.

Menurut Raihan, pendekatan tersebut mulai diterapkan di Tangguh melalui proyek Tangguh Ubadari dan fasilitas terkait offshore compression yang ia sebut sebagai salah satu periode transisi tercepat dalam sejarah Tangguh.

Desain platform yang relatif kecil menjadi bagian dari strategi tersebut. Ke depan, desain yang telah tersedia diharapkan dapat direplikasi tanpa harus kembali memulai basic design dari awal.

Eksplorasi Harus Berubah: Bukan Saat Butuh, Tapi Terus-Menerus

Prinsip ketiga adalah perubahan pola pikir dalam eksplorasi.

Menurut Raihan, eksplorasi tidak boleh lagi dilakukan hanya ketika perusahaan membutuhkan tambahan cadangan. Eksplorasi harus berjalan terus-menerus karena produksi masa depan ditentukan oleh aktivitas eksplorasi hari ini.

“Future production starts with exploration today,” tegasnya.

BP sendiri mulai kembali memperkuat fokus upstream dalam dua tahun terakhir. Hasilnya, perusahaan mencatat 12 penemuan sepanjang tahun lalu.

Salah satu penemuan terbesar berada di Brasil, yakni Angue, dengan skala potensi mencapai miliaran barel.

Strategi agresif tersebut juga dibawa BP ke Indonesia.

Raihan menyebut BP kini memiliki tiga blok baru di Jawa Timur bersama mitra serta empat blok baru di kawasan Tangguh.

Kegiatan seismik di blok-blok tersebut ditargetkan dapat diselesaikan pada 2027.

“Jadi kita harus tetap agresif eksplorasi,” katanya.

Modal Global Makin Selektif

Di balik kebutuhan mempercepat eksplorasi dan produksi, terdapat tantangan yang lebih besar: kompetisi mendapatkan modal.

Raihan mengatakan industri hulu migas global kini jauh lebih disiplin dalam mengalokasikan modal.

Ia mengutip data Wood Mackenzie yang menunjukkan belanja eksplorasi global turun drastis, dari sekitar US$90 miliar pada 2014 menjadi sekitar US$25 miliar saat ini.

Artinya, modal yang tersedia untuk eksplorasi semakin terbatas, sementara negara-negara penghasil migas berlomba menawarkan proyek terbaik.

Di sisi lain, situasi geopolitik global justru membuat isu ketahanan energi kembali mengemuka.

Konflik dan ketegangan geopolitik mendorong banyak negara memperkuat ketahanan energinya. Kondisi ini membuat perebutan investasi migas semakin sengit.

“Saingannya Indonesia saat ini bukan diri sendiri saja, bukan negara tetangga, tapi kita saingannya untuk mendapatkan capital dengan Brazil, dengan Guyana, dengan Namibia,” ujar Raihan.

Dalam kondisi tersebut, peran tim subsurface juga ikut berubah.

Raihan mengatakan, ahli subsurface tidak lagi sekadar menjadi kelompok teknis yang membaca data geologi dan geofisika.

Mereka ikut menentukan ke mana modal perusahaan akan ditempatkan.

“Saya sebagai orang subsurface sebenarnya bukan teknikal saja, tapi sebenarnya sebagai chief investment officer karena kita yang menentukan di mana duit ini taruh,” katanya.

Dengan kata lain, keputusan investasi bernilai miliaran dolar dapat dimulai dari satu pertanyaan sederhana: seberapa meyakinkan data bawah permukaan yang tersedia?

Karena itu, kualitas data menjadi faktor fundamental.

Tiga Kunci Agar Indonesia Menang

Raihan menyebut sedikitnya ada tiga hal yang harus diperkuat Indonesia jika ingin memenangkan kompetisi modal global.

Pertama adalah kepastian dan konsistensi kerangka investasi serta regulasi.

Investor migas, menurut dia, sudah menghadapi ketidakpastian yang sangat besar dari sisi bawah permukaan, geopolitik dan harga minyak. Karena itu, ketidakpastian di atas permukaan harus ditekan.

“Kalau kita punya stability di hal-hal yang surface dan hal-hal di regulasi, itu adalah nilai yang sangat, sangat plus untuk investor,” katanya.

Kedua adalah kecepatan akses dan eksekusi.

Raihan menyoroti panjangnya waktu yang dibutuhkan sejak perusahaan mengakses data dari National Data Repository (NDR) hingga dapat menjalankan kegiatan seismik.

Dalam pengalaman sebelumnya, rentang waktunya bisa mencapai empat hingga tujuh tahun.

Menurut dia, waktu tersebut harus dipangkas secara signifikan agar perusahaan bisa lebih cepat mengambil keputusan dan bergerak ke aktivitas lapangan.

“Jadi kita lebih cepat untuk make decision and move on,” ujarnya.

Bahkan, ia membuka kemungkinan proses dari joint study menuju aktivitas eksplorasi dapat dibuat lebih ringkas apabila pihak yang melakukan studi tersebut telah menunjukkan kelayakan dan menjadi pemenang wilayah kerja.

Data NDR Jangan Jadi Hambatan

Kunci ketiga adalah ketersediaan data.

Raihan menegaskan bahwa seluruh keputusan investasi pada akhirnya kembali kepada data geologi.

“It all started with the rocks,” katanya.

Ia memberikan contoh Malaysia. Negara tersebut menawarkan skema di mana kegiatan seismik dilakukan oleh negara melalui Petronas, sehingga perusahaan calon investor dapat memilih dan memanfaatkan data yang telah tersedia.

India bahkan memberikan insentif yang lebih agresif dengan membiayai program seismik negara serta memberikan dukungan hingga sekitar 50 persen untuk biaya pemboran eksplorasi.

Raihan menyadari Indonesia memiliki keterbatasan fiskal untuk meniru sepenuhnya skema tersebut.

Namun, menurut dia, langkah pertama yang jauh lebih realistis adalah memastikan data di NDR tersedia secara lengkap dan aksesnya tidak berbelit-belit.

Dengan data yang lengkap, perusahaan dapat segera melakukan reprocessing menggunakan teknologi terbaru.

Semakin cepat data diproses, semakin cepat perusahaan dapat menentukan prospek, mengajukan kegiatan seismik, hingga melanjutkan ke pemboran.

“Menurut saya step satu adalah data, data availability,” tegas Raihan.

Pada akhirnya, pesan BP kepada Indonesia cukup jelas: cadangan migas saja tidak cukup untuk memenangkan investasi.

Indonesia harus mampu menawarkan kombinasi antara batuan yang menarik, regulasi yang pasti, data yang siap pakai, dan proyek yang bisa bergerak cepat.

Di tengah Brasil, Guyana, Namibia dan negara-negara lain yang terus memperbaiki daya saingnya, kecepatan bukan lagi sekadar keunggulan.

Kecepatan sudah menjadi syarat untuk memenangkan modal hulu migas global.