Jakarta, ruangenergi.com — Pengembang pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di India mulai menambahkan sistem penyimpanan energi berbasis baterai ke dalam proyek fotovoltaik (PV). Langkah tersebut dilakukan untuk menarik pembeli listrik sekaligus mengurangi pemangkasan pasokan listrik (curtailment) akibat jaringan listrik yang belum mampu menyerap seluruh produksi energi surya.
Sekretaris Kementerian Energi Baru dan Terbarukan India, Santosh Sarangi, mengatakan sekitar 42 gigawatt (GW) proyek PLTS saat ini masih kesulitan mendapatkan pembeli (offtaker). Dari jumlah tersebut, sekitar 18 GW merupakan proyek PLTS tanpa baterai yang dinilai paling berisiko terus menghadapi kesulitan untuk mendapatkan pembeli.
Sarangi menyampaikan hal tersebut dalam BNEF Summit di New Delhi, seperti dikutip pada Minggu (23/8),
Selain itu, terdapat hingga 15 GW proyek energi surya yang telah diberikan melalui lelang dengan harga tinggi yang juga berpotensi gagal mendapatkan pembeli listrik.
Jaringan Listrik Tertinggal dari Pertumbuhan Energi Terbarukan
Persoalan utama yang dihadapi India adalah pertumbuhan jaringan transmisi dan sistem kelistrikan yang belum mampu mengimbangi pesatnya pembangunan pembangkit energi terbarukan.
Tanpa dukungan penyimpanan energi, proyek PLTS menghadapi risiko curtailment, terutama pada periode musim panas ketika produksi listrik surya meningkat tajam pada siang hari.
Kondisi tersebut semakin menjadi perhatian karena kapasitas energi terbarukan India terus bertambah, sementara kemampuan jaringan untuk menyalurkan dan menyerap listrik berkembang lebih lambat.
Lembaga kajian energi bersih Ember mencatat 300 GWh energi terbarukan mengalami pemangkasan pada kuartal I 2026. Kendala jaringan dan transmisi menyumbang hampir dua pertiga dari total curtailment tersebut.
Ember juga memperingatkan bahwa keterbatasan fleksibilitas sistem kelistrikan dapat menjadi hambatan bagi fase berikutnya dari pertumbuhan energi terbarukan India.
India Butuh Penyimpanan Energi
Dalam analisis yang diterbitkan pada Juni 2026, Ember memperkirakan India membutuhkan sekitar 10 GWh kapasitas penyimpanan baterai secara segera untuk mengurangi pemborosan energi terbarukan.
Kebutuhan tersebut berkaitan dengan keterbatasan fleksibilitas pembangkit listrik, termasuk pembangkit batu bara. Ketika pembangkit batu bara tidak dapat menurunkan produksinya di bawah batas teknis minimum, listrik dari energi terbarukan berpotensi tidak terserap oleh sistem.
“Tanpa fleksibilitas yang memadai, termasuk penyimpanan energi, kondisi ini dapat menjadi kendala bagi fase berikutnya dari pertumbuhan energi terbarukan,” kata Neshwin Rodrigues, Senior Energy Analyst di Ember.
11 Persen Produksi Surya Terpangkas
Masalah tersebut terlihat jelas selama periode April hingga Juni 2026, yang merupakan bulan-bulan terpanas di India.
Di tengah lonjakan permintaan listrik hingga mencapai rekor baru, jaringan listrik nasional India justru tidak mampu menyerap sebagian produksi energi surya.
Sekitar 11 persen produksi listrik surya dipangkas selama periode tersebut. Menteri Negara di Kementerian Energi Baru dan Terbarukan India, Shripad Yesso Naik, mengatakan sekitar 8 miliar kilowatt-jam (kWh) energi surya tidak terserap jaringan, sementara sekitar 63 miliar kWh berhasil masuk ke jaringan listrik.
Situasi ini menunjukkan adanya paradoks dalam transisi energi India: produksi energi terbarukan meningkat pesat, tetapi keterbatasan jaringan dan fleksibilitas sistem menyebabkan sebagian energi bersih justru terbuang.
Baterai Jadi Bagian Penting Proyek PLTS
Penambahan baterai pada proyek PLTS menjadi salah satu solusi yang mulai ditempuh pengembang. Dengan sistem penyimpanan energi, listrik yang dihasilkan pada saat produksi surya melimpah dapat disimpan dan disalurkan ketika jaringan membutuhkan tambahan pasokan.
Model tersebut juga dapat meningkatkan nilai proyek di mata pembeli karena pembangkit tidak hanya menawarkan listrik surya pada jam produksi puncak, tetapi juga kemampuan menyediakan listrik pada waktu yang lebih fleksibel.
Bagi India, pengembangan penyimpanan energi menjadi semakin strategis untuk menjaga momentum ekspansi energi terbarukan sekaligus mengurangi risiko listrik bersih terbuang akibat keterbatasan jaringan.
Dengan pertumbuhan PLTS dan pembangkit energi terbarukan yang terus berlangsung, pembangunan jaringan transmisi, peningkatan fleksibilitas pembangkit, serta percepatan investasi baterai akan menjadi faktor penting agar ambisi India dalam memperbesar bauran energi bersih tidak terhambat oleh persoalan penyerapan listrik.


