Tarakan, Kaltara, ruangenergi.com-Jejak eksplorasi minyak dan gas bumi di Kalimantan Utara sejatinya bukan cerita yang lahir kemarin sore. Di balik bentang laut Bunyu, rimba Nunukan, hingga pesisir utara Kalimantan yang berbatasan langsung dengan Malaysia, PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) diam-diam telah menanam jejak panjang pencarian energi nasional selama hampir satu dekade terakhir.
Dari satu sumur ke sumur lain, dari rig yang berdiri di tengah laut hingga pengeboran lapisan bumi terdalam, Kalimantan Utara perlahan menjelma menjadi “halaman depan” baru eksplorasi migas Indonesia.
Semua itu bermula pada Desember 2016. Saat sebagian besar perhatian industri migas nasional masih tertuju pada blok-blok besar di Sumatera atau Jawa, PHE Nunukan Company (PHENC) justru menancapkan langkah awal di perairan Pulau Bunyu melalui pengeboran sumur eksplorasi Parang-1.
Di tengah ombak Laut Sulawesi dan cuaca utara Kalimantan yang tak selalu ramah, pengeboran Parang-1 menjadi salah satu tonggak penting eksplorasi intensif Pertamina di wilayah administratif Kalimantan Utara. Kawasan itu kala itu masih relatif sepi pengembangan dibanding daerah penghasil migas lain di Indonesia.
Namun bagi Pertamina, wilayah utara Kalimantan menyimpan harapan besar.
Potensi migas yang belum sepenuhnya terpetakan membuat kawasan ini dipandang sebagai frontier exploration—wilayah pencarian cadangan baru yang akan menentukan masa depan ketahanan energi nasional.
Waktu berjalan. Aktivitas eksplorasi terus bergerak senyap di balik peta seismik dan data bawah permukaan. Hingga memasuki 2025, agresivitas pencarian cadangan baru kembali ditingkatkan.
Pada Maret 2025, PT Pertamina EP Tarakan Field yang berada di bawah Zona 10 PHI memulai pengeboran sumur eksplorasi Sembakung Deep-001 (SBKD-001) di Kabupaten Nunukan.
Nama “Deep” yang disematkan bukan tanpa alasan.
Pengeboran diarahkan menuju lapisan bumi yang lebih dalam—formasi yang diyakini menyimpan potensi hidrokarbon baru di wilayah perbatasan utara Indonesia. Operasi itu menjadi simbol keberanian eksplorasi baru: masuk lebih dalam, lebih mahal, sekaligus lebih berisiko.
Namun risiko itu mulai membuahkan hasil.
Juni 2025 menjadi momentum penting ketika Pertamina mengumumkan temuan aliran gas dari sumur Sembakung Deep-001. Bagi industri hulu migas, kabar itu bukan sekadar data teknis. Temuan tersebut menjadi sinyal bahwa Kalimantan Utara masih menyimpan harapan besar sebagai lumbung energi masa depan.
Di tengah tren penurunan produksi migas nasional dan kebutuhan menjaga ketahanan energi, penemuan baru di frontier area seperti Kaltara memiliki arti strategis.
Kini, memasuki 2026, langkah eksplorasi itu kembali diperluas.
PHI Regional 3 Zona 10 mulai menyiapkan agenda pengeboran baru di kawasan Mangkupadi dan Wilayah Kerja Maratua yang dikelola PHE Lepas Pantai Bunyu. Aktivitas tersebut menjadi penanda bahwa wilayah utara Kalimantan semakin mendapat posisi penting dalam peta energi nasional.
Momentum itu juga mendapat dukungan politik dan administratif dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara.
Komitmen tersebut ditegaskan Gubernur Kalimantan Utara, Zainal A. Paliwang saat menerima audiensi jajaran PHI Regional 3 Zona 10 di Kantor Gubernur Kaltara, Kamis (7/5/2026).
Pertemuan itu bukan sekadar agenda formal birokrasi. Ia menjadi simbol bertemunya kepentingan negara, daerah, dan industri dalam satu tujuan: membuka potensi energi baru sekaligus menggerakkan ekonomi Kalimantan Utara.
General Manager PHI Regional 3 Zona 10, Darmapala, memaparkan kesiapan perusahaan menjalankan agenda eksplorasi beberapa tahun ke depan, termasuk pengeboran di Wilayah Kerja Maratua.
“Kami hadir untuk bersilaturahmi sekaligus menyampaikan rencana kegiatan utama Zona 10 tahun ini dan beberapa tahun ke depan, termasuk pengeboran eksplorasi di Wilayah Kerja Maratua,” ujar Darmapala.
Tak hanya Maratua, pengeboran di kawasan Mangkupadi juga disiapkan sebagai bagian dari strategi menemukan cadangan migas baru di wilayah utara Pulau Kalimantan.
Bagi PHI, tantangan eksplorasi di Kaltara bukan hanya soal menemukan cadangan baru, tetapi juga menaklukkan persoalan logistik dan infrastruktur. Mobilisasi rig, peralatan berat, hingga akses jalan dan jembatan menjadi faktor krusial dalam operasi di kawasan yang sebagian masih minim konektivitas.
Karena itu, dukungan pemerintah daerah dinilai menjadi kunci.
Gayung pun bersambut. Gubernur Zainal menegaskan Pemprov Kaltara siap memberikan dukungan penuh terhadap aktivitas hulu migas, termasuk koordinasi lintas sektor dan percepatan administrasi investasi.
“Kami menyambut baik rencana kegiatan PHI di Kaltara. Pemerintah daerah tentu mendukung penuh agar prosesnya berjalan lancar, termasuk hal-hal yang berkaitan dengan administrasi,” kata Zainal.
Namun di balik eksplorasi migas, ada agenda yang lebih besar sedang dibangun: transformasi ekonomi Kalimantan Utara.
Pemerintah daerah berharap geliat industri energi turut mendorong pembangunan infrastruktur dan konektivitas, termasuk akses menuju kawasan industri Tanah Kuning yang diproyeksikan menjadi motor ekonomi baru provinsi termuda di Indonesia tersebut.
Karena pada akhirnya, pengeboran migas bukan hanya tentang mencari minyak atau gas di perut bumi. Ia juga tentang membuka jalan baru bagi investasi, pekerjaan, infrastruktur, dan harapan ekonomi di wilayah perbatasan negeri.
Dan dari Bunyu, Sembakung, hingga Maratua, jejak panjang eksplorasi itu kini terus bergerak ke utara—mencari energi baru untuk masa depan Indonesia.


