Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com— Kementerian ESDM, mengungkapkan bahwa ketergantungan Indonesia terhadap impor energi, khususnya bensin dan LPG, masih tergolong tinggi hingga awal 2026.
Dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI, Rabu (08/04/2026) Dirjen Migas Laode Sulaeman menyampaikan bahwa impor bensin pada 2025 mencapai 60,18 persen dari total kebutuhan nasional. Sementara pada 2026 hingga Februari, angka tersebut masih berada di kisaran 59 persen.
Total kebutuhan bensin nasional tercatat sekitar 100.986 kiloliter (KL) per hari pada 2025 dan sedikit menurun menjadi 99.661 KL per hari pada awal 2026.
Untuk minyak solar, ketergantungan impor relatif lebih rendah. Pada 2025, impor solar mencapai 12,17 persen dan menurun menjadi 6,26 persen pada 2026. Kebutuhan solar sendiri berada di atas 110 ribu KL per hari.
Sementara itu, LPG menjadi komoditas dengan tingkat ketergantungan impor tertinggi. Pada 2025, impor LPG mencapai 80,58 persen dari kebutuhan nasional dan meningkat menjadi 83,97 persen pada 2026 hingga Februari. Kebutuhan LPG nasional tercatat sekitar 25 ribu metrik ton (MT) per hari pada 2025 dan meningkat menjadi 26 ribu MT per hari pada 2026.
Laode juga memaparkan bahwa sebagian besar impor energi Indonesia masih berasal dari negara tertentu, seperti Singapura dan Malaysia untuk BBM, serta Amerika Serikat untuk LPG.
Untuk mengantisipasi risiko gangguan pasokan, pemerintah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi. Di antaranya diversifikasi sumber impor di luar jalur Selat Hormuz, optimalisasi produksi dalam negeri, serta pengalihan ekspor minyak mentah untuk kebutuhan domestik.
Selain itu, pemerintah juga mendorong peningkatan kapasitas kilang dalam negeri dan optimalisasi produksi LPG, termasuk pengalihan pasokan untuk kebutuhan subsidi. Pengendalian konsumsi energi juga menjadi bagian dari strategi untuk menjaga ketahanan energi nasional.
Ditjen Migas menegaskan bahwa langkah-langkah tersebut diperlukan untuk memastikan ketersediaan energi nasional tetap terjaga di tengah dinamika global.

