Gas Domestik Digenjot: SKK Migas Paparkan Deretan Proyek LPG Nasional hingga 2027

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Selatan, Jakarta, ruangenergi.com— Kepala Djoko Siswanto memaparkan perkembangan terbaru proyek-proyek LPG nasional dalam rapat bersama Komisi XII DPR RI, Selasa (8/4/2026).

Dalam paparannya, pemerintah menargetkan peningkatan pasokan LPG domestik melalui sejumlah proyek strategis yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia hingga 2027.

Djoko menegaskan bahwa pengembangan fasilitas LPG menjadi bagian penting dalam mengurangi ketergantungan impor sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan gas bumi dalam negeri.

“Beberapa proyek sudah mendekati tahap operasi, sementara lainnya masih dalam proses konstruksi dan evaluasi. Ini bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional,” ujarnya di hadapan anggota dewan.

Dua proyek yang paling dekat dengan tahap produksi adalah LPG Plant Cilamaya dan Tuban. Proyek Cilamaya yang dikelola PT Energi Nusantara Perkasa mencatat progres hampir 93 persen, dengan target onstream pada akhir April 2026. Fasilitas ini diproyeksikan menghasilkan 163 metrik ton LPG per hari atau setara sekitar 1.891 barel minyak per hari (BOPD).

Sementara itu, LPG Plant Tuban yang dioperasikan PT Sumber Aneka Gas juga ditargetkan mulai beroperasi pada periode yang sama. Dengan kapasitas lebih kecil, yakni 30 metrik ton per hari (sekitar 348 BOPD), proyek ini kini memasuki tahap commissioning fasilitas.

Jambi Merang dan Senoro Menyusul

Untuk tahap berikutnya, proyek LPG Plant Jambi Merang menjadi salah satu yang terbesar dengan kapasitas mencapai 320 metrik ton per hari atau sekitar 3.712 BOPD. Proyek ini ditargetkan onstream pada kuartal II 2027. Saat ini, proses telah memasuki tahap penunjukan pemenang tender dan evaluasi akuisisi kilang eksisting.

Adapun LPG Plant Senoro, dengan kapasitas 54 metrik ton per hari (626 BOPD), juga ditargetkan beroperasi pada 2027. Saat ini, pembangunan fasilitas Flare Gas Recovery tengah berlangsung dan dijadwalkan selesai pada kuartal II 2026, sebagai bagian dari integrasi proyek.

Selain proyek-proyek yang sudah berjalan, SKK Migas juga mengungkap potensi pengembangan LPG Plant di Jawa Timur oleh PT ARSynergy. Proyek ini diperkirakan memiliki kapasitas 50 metrik ton per hari (580 BOPD), namun masih dalam tahap evaluasi skema dan komersialisasi.

Djoko menekankan bahwa seluruh proyek ini dirancang untuk menjawab tantangan defisit LPG nasional yang selama ini masih ditutup melalui impor.

“Kalau semua ini berjalan sesuai target, kita bisa signifikan mengurangi impor LPG. Ini bukan hanya soal energi, tapi juga soal kemandirian ekonomi,” tegasnya.

Paparan ini mendapat perhatian serius dari Komisi XII DPR RI, yang mendorong percepatan realisasi proyek sekaligus memastikan aspek keekonomian dan keberlanjutan tetap terjaga.

Dengan pipeline proyek yang cukup agresif hingga 2027, pemerintah berharap Indonesia bisa beranjak dari importir besar LPG menjadi negara yang lebih mandiri dalam pemenuhan energi rumah tangga dan industri.