Dari Gurun Sahara ke Cilacap! Oki Muraza Ungkap Strategi Pertamina Amankan Pasokan Minyak

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Diplomasi energi Indonesia dengan Aljazair bukan sekadar urusan bisnis dan kontrak minyak. Di balik kerja sama kedua negara, tersimpan persahabatan panjang yang berakar sejak Konferensi Asia-Afrika di Bandung pada 1955. Kini, hubungan historis itu menjadi modal penting bagi PT Pertamina (Persero) untuk memperkuat ketahanan energi nasional.

Wakil Direktur Utama Pertamina, Oki Muraza, mengungkapkan hal tersebut melalui unggahan di akun Instagram pribadinya setelah melakukan pertemuan dengan Menteri Hidrokarbon dan Pertambangan Aljazair, Mohamed Arkab, di Algiers, pekan ini.

Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kemitraan energi Indonesia dan Aljazair, termasuk pengembangan bisnis hulu minyak dan gas bumi serta pengamanan pasokan minyak mentah untuk kebutuhan dalam negeri.

“Dari Bandung, ke Sahara, hingga Cilacap: terus tumbuh demi ketahanan energi Indonesia,” demikian pesan Oki dalam unggahannya di instagram pribadinya.

Oki mengingatkan, hubungan Indonesia dan Aljazair telah terjalin jauh sebelum kedua negara membangun kerja sama bisnis di sektor energi.

Pada 1955, delegasi Aljazair hadir dalam Konferensi Asia-Afrika di Bandung. Momen bersejarah tersebut menjadi salah satu fondasi hubungan persahabatan kedua negara yang terus berkembang hingga saat ini.

Bagi Pertamina, kedekatan historis itu memiliki arti strategis. Kepercayaan yang dibangun selama puluhan tahun dapat menjadi landasan bagi kemitraan jangka panjang, terutama di sektor energi yang membutuhkan investasi besar, kepastian operasional, serta hubungan yang kuat antara pemerintah dan pelaku usaha.

Dalam industri minyak dan gas, hubungan baik antarpemerintah bukan hanya membuka pintu kerja sama, tetapi juga berpotensi memperkuat akses terhadap sumber daya energi di tengah dinamika pasar global.

Jejak Pertamina di Aljazair bukan cerita baru.

Sejak 2014, Pertamina melalui Pertamina Algeria mengoperasikan lapangan MLN di kawasan Gurun Sahara bersama perusahaan energi nasional Aljazair, Sonatrach, dan Repsol.

Menurut Oki, keterlibatan tersebut menjadi langkah besar bagi Pertamina dalam menjalankan peran sebagai operator di luar negeri.

Pengalaman mengelola lapangan minyak di Aljazair juga memperlihatkan kemampuan para Perwira Pertamina untuk bekerja dalam lingkungan operasi internasional yang memiliki tantangan geografis, teknis, dan bisnis tersendiri.

Kawasan Gurun Sahara bukan lingkungan operasi yang sederhana. Karena itu, keberhasilan menjalankan kegiatan hulu migas di wilayah tersebut menjadi bagian dari perjalanan Pertamina dalam memperluas kompetensi dan memperkuat portofolio bisnis internasionalnya.

Kemitraan dengan Sonatrach dan Repsol sekaligus menunjukkan pentingnya kolaborasi antarperusahaan untuk mengembangkan potensi sumber daya migas.

Salah satu poin penting yang disoroti Oki adalah program Bring the Barrel Home.

Melalui program ini, minyak dari Aljazair dikirim langsung ke Kilang Cilacap, Jawa Tengah, untuk mendukung kebutuhan bahan baku pengolahan minyak di dalam negeri.

Langkah tersebut memiliki arti strategis. Ketahanan energi tidak cukup hanya ditopang oleh kemampuan memproduksi minyak, tetapi juga membutuhkan kepastian akses terhadap pasokan, pengelolaan sumber minyak yang beragam, dan sistem distribusi yang andal.

Di tengah ketidakpastian geopolitik serta perubahan harga minyak dunia, akses terhadap pasokan dari luar negeri melalui aset hulu yang dikelola Pertamina dapat menjadi salah satu instrumen untuk memperkuat rantai pasok energi Indonesia.

Setiap barel minyak yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan domestik berpotensi memberikan fleksibilitas lebih besar dalam pengelolaan pasokan kilang.

Namun, manfaat strategis tersebut tetap perlu dilihat bersama faktor keekonomian, biaya pengiriman, kualitas minyak mentah, dan kesesuaian dengan kebutuhan kilang.

Dengan demikian, keberhasilan Bring the Barrel Home tidak hanya diukur dari jumlah minyak yang dikirim, tetapi juga dari kontribusinya terhadap keandalan pasokan dan efisiensi pengolahan di dalam negeri.

Dalam unggahannya, Oki menyampaikan apresiasi kepada Menteri Mohamed Arkab, Sonatrach, ALNAFT, serta tim Pertamina Algeria atas perjalanan kemitraan selama 12 tahun.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI untuk Republik Demokratik Rakyat Aljazair, Yusron Ambary, serta Menteri Luar Negeri dan Wakil Menteri Luar Negeri RI atas dukungan terhadap hubungan bilateral kedua negara.

Dukungan diplomatik tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga komunikasi dan membuka peluang kerja sama lintas negara.

Bagi Indonesia, penguatan hubungan energi dengan Aljazair juga relevan dalam menghadapi tantangan kebutuhan energi yang terus berkembang. Ketika produksi minyak domestik belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan nasional, strategi diversifikasi sumber pasokan dan penguatan aset hulu di luar negeri dapat menjadi bagian dari upaya menjaga ketahanan energi.

Di sisi lain, optimalisasi lapangan migas luar negeri harus tetap diarahkan pada manfaat nyata bagi perusahaan dan negara, baik melalui produksi, nilai ekonomi, maupun dukungan terhadap kebutuhan kilang domestik.

Perjalanan dari Bandung ke Sahara hingga Cilacap pada akhirnya menggambarkan satu pesan penting: diplomasi, investasi hulu migas, dan pengamanan pasokan harus berjalan beriringan.

Bagi Pertamina, kerja sama dengan Aljazair bukan hanya tentang mengelola lapangan minyak di negeri orang. Lebih dari itu, kemitraan tersebut merupakan bagian dari ikhtiar memperkuat rantai pasok energi Indonesia agar kebutuhan masyarakat dan industri dapat terpenuhi dengan lebih andal.

Sebab, dalam urusan energi, persahabatan membuka jalan, investasi menggerakkan usaha, dan ketahanan pasokan menjadi tujuan akhirnya.