Dari Sumur Tua ke Energi Masa Depan, Mahakam Terus Menyala untuk Indonesia

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com– Di industri hulu migas, ada satu keyakinan yang sering terdengar: semakin tua sebuah lapangan, semakin besar tantangan untuk mempertahankan produksinya. Namun di perairan Kalimantan Timur, keyakinan itu terus diuji oleh Blok Mahakam.

Lapangan migas yang telah beroperasi sejak 1974 tersebut kini memasuki usia lebih dari setengah abad. Banyak yang menganggap lapangan tua identik dengan penurunan produksi. Namun bagi Pertamina Hulu Mahakam (PHM), usia bukan alasan untuk menyerah. Justru dari lapangan yang telah menghasilkan energi bagi Indonesia selama puluhan tahun itu, lahir berbagai inovasi, investasi, dan kerja keras untuk memastikan Mahakam tetap menjadi salah satu tulang punggung energi nasional.

Di hadapan Komisi XII DPR RI dan SKK Migas, General Manager Pertamina Hulu Mahakam Setyo Sapto Edi dan didampingi Yoseph Agung Prihartono VP Development & Drilling Pertamina Hulu Indonesia, menyampaikan optimisme tersebut. Hingga pertengahan tahun 2026, produksi minyak PHM telah mencapai 114 persen dari target, sementara produksi gas dari sisi wellhead telah mencapai 103 persen.

Angka tersebut bukan sekadar statistik. Di baliknya terdapat aktivitas pengeboran yang berlangsung tanpa henti, pembangunan fasilitas baru di tengah laut, hingga pencarian cadangan migas baru untuk memastikan keberlanjutan produksi.

“Kami berkomitmen terus merealisasikan target produksi tahun 2026 sesuai yang telah ditetapkan pemerintah,” kata Setyo Sapto Edi.

Bagi industri migas Indonesia, Mahakam bukan lapangan biasa. Selama puluhan tahun, lapangan ini menjadi pemasok utama gas bumi nasional. Ketika pengelolaannya beralih kepada Pertamina pada 2018, tantangan besar langsung menghadang: bagaimana mempertahankan produksi dari lapangan yang sudah mature namun tetap menjadi andalan pasokan energi nasional.

Jawabannya adalah investasi berkelanjutan.

Sepanjang 2026, PHM menargetkan pengeboran 32 sumur baru. Hingga saat ini sekitar separuh target tersebut telah direalisasikan. Di saat yang sama, perusahaan juga menjalankan proyek pembangunan enam platform baru untuk menopang produksi masa depan.

Dua platform telah berproduksi. Platform ketiga segera menyusul. Platform keempat dijadwalkan mulai beroperasi pada awal Juni, sementara dua platform lainnya akan onstream pada Juli dan Agustus 2026.

Bagi sebagian orang, pembangunan platform mungkin terdengar seperti aktivitas rutin. Namun di industri offshore, setiap platform baru merupakan investasi besar yang menjadi simbol keyakinan bahwa lapangan tersebut masih memiliki potensi ekonomi yang layak dikembangkan.

Tidak hanya fokus mempertahankan produksi eksisting, PHM juga terus berburu sumber energi baru.

Prospek Manpatu

Salah satu kabar menggembirakan datang dari temuan prospek Manpatu, yang kini memasuki tahap pembangunan fasilitas produksi. Platformnya telah terpasang dan ditargetkan mulai mengalirkan migas pada kuartal pertama 2027.

Penemuan ini menjadi bukti bahwa wilayah kerja Mahakam masih menyimpan peluang besar.

Di tengah tren penurunan alamiah lapangan migas tua, eksplorasi menjadi kunci untuk memperpanjang umur produksi dan menjaga kontribusi Mahakam terhadap ketahanan energi nasional.

Keberhasilan PHM sejatinya merupakan bagian dari cerita yang lebih besar.

Kinerja 2025

Di tingkat regional, induk usaha PHM yakni PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) baru saja melaporkan kinerja yang mencerminkan keberhasilan strategi pengelolaan hulu migas di Kalimantan. Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025, PHI mencatat produksi minyak rata-rata 44,42 ribu barel per hari, atau sekitar 107,29 persen dari target RKAP, sementara produksi gas mencapai 536,72 MMSCFD atau 101,34 persen dari target. Pencapaian ini menjadi yang pertama dalam lima tahun terakhir di mana produksi migas berhasil melampaui target perusahaan.

Keberhasilan tersebut tidak datang secara instan.

Sepanjang 2025, PHI berhasil menambah cadangan migas terbukti (1P) lebih dari 70 juta barel setara minyak, atau sekitar 193 persen dari target RKAP. Pencapaian itu didukung penyelesaian pengeboran 146 sumur pengembangan, 619 kegiatan workover, dan hampir 9.800 well service.

Direktur Utama PHI, Sunaryanto, menegaskan bahwa keberhasilan tersebut merupakan hasil kombinasi investasi selektif, inovasi operasi, serta optimalisasi produksi dari aset-aset eksisting di Kalimantan. Dalam lima tahun terakhir, PHI telah mengebor 13 sumur eksplorasi dan 517 sumur pengembangan untuk menjaga keberlanjutan produksi migas regional.

Di balik angka produksi, terdapat aspek lain yang menjadi perhatian utama perusahaan: keselamatan operasi dan keberlanjutan lingkungan.

PHI mencatat lebih dari 32 juta jam kerja selamat, tanpa kecelakaan kerja yang menyebabkan kehilangan waktu kerja (NoA), serta tingkat TRIR yang berada di bawah batas toleransi perusahaan. Selain itu, perusahaan juga berhasil mendukung pengurangan emisi karbon lebih dari 215 ribu ton CO₂ ekuivalen selama 2025.

Komitmen tersebut sejalan dengan arah transformasi industri energi global yang menuntut keseimbangan antara kebutuhan energi dan keberlanjutan lingkungan.

Tak hanya itu, sepanjang 2025 PHI juga menjalankan 65 program Community Involvement and Development (CID) yang mencakup bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, lingkungan, hingga pengembangan infrastruktur masyarakat di sekitar wilayah operasi Kalimantan Timur.

Bagi masyarakat Kalimantan Timur, keberadaan Mahakam tidak hanya soal produksi migas. Melalui skema Participating Interest (PI) 10 persen, daerah turut memperoleh manfaat ekonomi dari pengelolaan wilayah kerja tersebut.

Di sisi lain, bagi Indonesia, keberhasilan PHM dan PHI mempertahankan produksi dari lapangan-lapangan mature menjadi bukti bahwa ketahanan energi nasional tidak hanya bergantung pada penemuan raksasa baru, tetapi juga pada kemampuan mengelola aset yang sudah ada secara cerdas dan berkelanjutan.

Saat banyak lapangan migas dunia menghadapi fase penurunan produksi, Mahakam justru menunjukkan cerita berbeda. Dengan puluhan sumur baru, enam platform yang terus dibangun, penemuan prospek Manpatu, serta dukungan investasi berkelanjutan dari PHI, lapangan yang telah berusia lebih dari 50 tahun itu masih terus menghasilkan energi bagi negeri.

Di tengah tantangan transisi energi dan meningkatnya kebutuhan domestik, Mahakam kembali mengingatkan bahwa usia sebuah lapangan migas mungkin menua, tetapi semangat untuk menjaga pasokan energi Indonesia tidak pernah ikut menua.