Djoko Siswanto: Sumur Rakyat Kini Lebih Aman, Produksi Terus Naik

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jambi, ruangenergi.com— Gelombang optimisme baru muncul dari sektor hulu migas nasional. Kepala SKK Migas Djoko Siswanto melaporkan lonjakan produksi minyak dari pengelolaan sumur masyarakat yang kini mulai menunjukkan hasil signifikan, terutama setelah terbitnya Permen ESDM Nomor 14 Tahun 2025.

Dalam laporan yang disampaikan Sabtu (23/5/2026), Djoko mengungkapkan bahwa UMKM PT Batanghari Sinar Energi di Jambi berhasil mencatat produksi hingga 2.724 barel minyak per hari (BOPD) hanya dalam satu hari pengiriman minyak dari sumur masyarakat.

“Produksi ini akan terus diupayakan meningkat. Saat ini sedang dilakukan perluasan kapasitas penampungan dengan membangun kontainer-portabel agar dapat menampung produksi yang lebih besar,” ungkap Djoko dalam laporannya kepada Menteri ESDM, Wakil Menteri ESDM, Komwas SKK Migas, dan para pimpinan industri migas nasional.

Capaian tersebut dinilai menjadi sinyal kuat bahwa keterlibatan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), koperasi, dan UMKM dalam pengelolaan sumur masyarakat mulai memberikan dampak nyata terhadap peningkatan lifting minyak nasional.

Tak hanya di Jambi, geliat serupa juga mulai terlihat di Sumatera Selatan dan Jawa Tengah. Produksi minyak yang dikelola BKU — akronim dari BUMD, koperasi, dan UMKM — disebut telah rata-rata mencapai lebih dari 300 BOPD dan ditargetkan terus meningkat hingga ribuan barel per hari.

Yang menarik, keberhasilan ini bukan hanya soal tambahan produksi migas nasional. Menurut Djoko, aktivitas sumur masyarakat kini mulai menciptakan sumber pendapatan baru bagi masyarakat daerah.

“Dalam satu hari, BUMD, koperasi, dan UMKM memperoleh income puluhan ribu dolar AS, halal dan menyejahterakan rakyat banyak,” tulisnya.

Kebijakan ini disebut sebagai buah dari regulasi baru yang diteken Menteri ESDM melalui Permen Nomor 14 Tahun 2025, yang membuka ruang legal dan tata kelola lebih baik bagi pengusahaan sumur masyarakat.

Di tengah euforia peningkatan produksi, aspek keselamatan kerja dan lingkungan juga mulai mendapat perhatian serius. Djoko menyebut para pekerja BKU kini mulai menggunakan APD secara lebih tertib dan profesional.

Area sekitar sumur pun perlahan dibenahi. Tanggul semen mulai dipasang untuk mencegah pencemaran minyak, sementara rambu-rambu keselamatan mulai terlihat di lokasi operasi.

“Safety dan lingkungan bertahap semakin baik,” ujarnya.

Langkah ini penting untuk mengubah citra sumur masyarakat yang selama bertahun-tahun identik dengan aktivitas informal dan minim standar keselamatan.

Momentum ini menjadi bagian dari upaya besar pemerintah dan industri migas nasional untuk mengejar target lifting minyak yang dalam beberapa tahun terakhir terus menjadi tantangan.

Kolaborasi antara BKU, SKK Migas, Pertamina, dan MedcoEnergi kini disebut mulai membuahkan hasil di lapangan.

Menutup laporannya, Djoko menyampaikan pesan optimistis yang kini menjadi semangat baru para pelaku sektor migas rakyat:

“Bersama kita BISA. Lifting naik, BISA BISA BISA.”