Fantastis! Target Cuma 0,8 MMSCFD, Sumur Limau Justru Semburkan Gas 4,8 MMSCFD

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Palembang, Sumsel, ruangenergi.com-PT Pertamina Drilling Services Indonesia (Pertamina Drilling) kembali menunjukkan bahwa kecepatan dan ketepatan eksekusi di lapangan mampu menjadi kunci peningkatan produksi migas nasional. Melalui Rig PDSI#34.1 berkapasitas 350 HP, perusahaan berhasil menyelesaikan pekerjaan workover Sumur L5A-309 di Lapangan Limau, Sumatera Selatan, hanya dalam lima hari—setengah dari waktu yang direncanakan—dengan hasil produksi gas yang melonjak hingga enam kali lipat dari target.

Pencapaian ini menjadi kabar menggembirakan bagi industri hulu migas. Sebab, selain memangkas durasi pekerjaan hingga 50 persen, strategi teknis yang diterapkan juga berhasil mengubah sumur yang sebelumnya nyaris tidak ekonomis menjadi penghasil gas baru dengan performa tinggi.

Pekerjaan workover untuk mendukung operasi PT Pertamina EP (PEP) Zona 4 dimulai pada 29 Juni 2026 dan rampung pada 4 Juli 2026. Tim Rig PDSI#34.1 melakukan perpindahan lapisan produksi dengan memasang plug guna mengisolasi lapisan TAF-W4, kemudian membuka lapisan baru TAF-W3 melalui perforasi pada interval 1.594–1.600,5 meter measured depth (mMD).

Langkah tersebut terbukti tepat sasaran. Berdasarkan uji produksi pada 6 Juli 2026, Sumur L5A-309 mampu menghasilkan gas sebesar 4,8 juta kaki kubik standar per hari (MMSCFD), jauh melampaui target awal yang hanya 0,8 MMSCFD. Dengan hasil tersebut, sumur dapat langsung dioperasikan (Put on Production/PoP) tanpa kendala.

Keberhasilan ini sekaligus menjadi contoh bagaimana rekayasa reservoir melalui workover dapat menghidupkan kembali sumur-sumur tua yang produktivitasnya telah menurun. Sebelum dilakukan pekerjaan tersebut, Sumur L5A-309 hanya menghasilkan minyak sekitar 2,6 barel per hari (BOPD) dari lapisan TAF-W4 menggunakan Electric Submersible Pump (ESP), dengan tingkat kandungan air (water cut) mencapai 98 persen. Kondisi itu membuat produksi minyak tidak lagi optimal sehingga diputuskan untuk mengalihkan target produksi ke lapisan gas yang memiliki potensi lebih besar.

Tak hanya meningkatkan produksi, pekerjaan ini juga menghasilkan efisiensi biaya yang signifikan. Realisasi biaya workover tercatat hanya sekitar 67,8 persen dari anggaran yang telah disiapkan, menunjukkan bahwa efisiensi waktu turut berdampak langsung terhadap penghematan biaya operasi.

Direktur Utama Pertamina Drilling, Avep Disasmita, mengatakan keberhasilan tersebut menjadi bukti komitmen perusahaan dalam menghadirkan layanan pengeboran dan well services yang mampu mendukung target peningkatan produksi migas nasional.

“Penyelesaian pekerjaan yang lebih cepat dari rencana, disertai peningkatan produksi yang melampaui target, merupakan hasil kolaborasi, kompetensi Perwira Pertamina Drilling, serta penerapan standar keselamatan dan operasional yang konsisten. Kami akan terus memberikan kinerja terbaik untuk mendukung keberhasilan operasi Pertamina Group dan ketahanan energi nasional,” ujar Avep di kantornya, Jumat (10/7/2026).

Menurutnya, keberhasilan Rig PDSI#34.1 bukan hanya menunjukkan kemampuan teknis perusahaan dalam menyelesaikan pekerjaan secara aman dan efisien, tetapi juga memperlihatkan bagaimana inovasi di sektor well intervention mampu memberikan nilai tambah yang nyata bagi pelanggan.

Avep menambahkan, Pertamina Drilling akan terus mengedepankan inovasi, efisiensi, serta keunggulan operasional dalam setiap proyek agar mampu memperkuat posisinya sebagai penyedia jasa pengeboran dan layanan energi berkelas dunia.

Keberhasilan di Lapangan Limau menjadi bukti bahwa peningkatan produksi migas nasional tidak selalu bergantung pada penemuan lapangan baru. Melalui optimalisasi sumur eksisting dengan teknologi, strategi reservoir yang tepat, dan eksekusi operasi yang efisien, potensi cadangan yang sebelumnya belum tergarap dapat diubah menjadi sumber energi baru bagi Indonesia.

Di tengah tantangan mempertahankan produksi migas nasional, pencapaian Pertamina Drilling ini menjadi contoh nyata bagaimana efisiensi operasi, inovasi teknis, dan kolaborasi antar-entitas di lingkungan Pertamina mampu menghadirkan hasil yang berdampak langsung terhadap penguatan ketahanan energi nasional.