Sumsel, ruangenergi.com-Kabar menggembirakan datang dari Lapangan Limau, Sumatera Selatan. Upaya perawatan sumur yang dilakukan PT Pertamina EP (PEP) Zona 4 berhasil mendongkrak produksi minyak hingga 600 barel minyak per hari (BOPD), jauh melampaui target awal sebesar 40 BOPD.
Kabar keberhasilan tersebut disampaikan Kepala SKK Migas Djoko Siswanto dalam laporan Good News Well Service/Perawatan Sumur pada Sabtu, 31 Oktober 2026.
Sumur TMB-028 menjadi bukti bahwa optimalisasi sumur-sumur eksisting masih menyimpan peluang besar untuk meningkatkan produksi minyak nasional.
“Alhamdulillah, kegiatan intervensi PT Pertamina EP Asset 2 (PEP Zona 4) yang telah berhasil melaksanakan kegiatan Well Service (Perawatan Sumur) pada sumur TMB-028 dengan hasil melebihi target,” demikian laporan Djoko Siswanto seperti diceritakan kepada ruangenergi.com
Sumur TMB-028 mencatatkan hasil uji produksi sebesar 600 BOPD pada lapisan B, atau meningkat sekitar 1.400 persen dibandingkan target awal 40 BOPD.
Dengan capaian tersebut, produksi sumur ini mencapai 15 kali lipat dari target yang ditetapkan.
Keberhasilan ini diperoleh melalui pekerjaan well service berupa reparasi dan stimulasi acidizing atau pengasaman. Metode ini dilakukan dengan menginjeksikan bahan kimia bersifat asam ke dalam sumur untuk membantu melarutkan material penyumbat pori-pori batuan reservoir di sekitar lubang sumur.
Material penyumbat tersebut dapat berupa endapan, parafin, maupun kotoran lain yang menghambat aliran minyak.
Melalui proses pengasaman, hambatan aliran diharapkan berkurang sehingga minyak dapat mengalir lebih leluasa menuju lubang sumur dan kemudian diproduksikan.
Sumur langsung siap berproduksi
Pekerjaan perawatan sumur TMB-028 dimulai pada 20 Oktober 2026 dengan menggunakan Rig EPI-08 berkapasitas 350 HP.
Hingga laporan disampaikan, pekerjaan telah berlangsung selama 10 hari, sesuai dengan rencana operasional.
Yang menarik, setelah memperoleh hasil uji produksi yang melampaui target, sumur tersebut dapat langsung diproduksikan atau put on production (PoP).
Pengoperasian kembali sumur ini menjadi tambahan produksi minyak dari Lapangan Limau, sekaligus memperkuat upaya PEP Zona 4 dalam mengoptimalkan potensi sumur-sumur yang telah ada.
Dari sisi biaya, estimasi pengeluaran pekerjaan tercatat sebesar US$96.721,31 atau sekitar 60,06 persen dari rencana anggaran sebesar US$161.039,60.
Artinya, pekerjaan ini tidak hanya menghasilkan peningkatan produksi yang signifikan, tetapi juga masih berada di bawah anggaran yang direncanakan.
Sebelum dilakukan intervensi, sumur TMB-028 merupakan sumur aktif yang berproduksi dari lapisan K1 pada kedalaman terukur 1.570–1.573 meter.
Berdasarkan catatan produksi pada 6 September 2026, sumur tersebut menghasilkan minyak sebesar 10,96 BOPD, dengan total cairan 562 barel per hari dan kadar air mencapai 98 persen.
Setelah dilakukan perawatan dan stimulasi, produksi minyak kini mencapai 600 BOPD dari lapisan B pada interval kedalaman 1.380,5–1.386,5 meter.
Perubahan tersebut menunjukkan besarnya peluang peningkatan produksi melalui penanganan masalah sumuran dan optimalisasi lapisan reservoir yang masih memiliki potensi.
Keberhasilan ini menambah daftar capaian kegiatan intervensi sumur di wilayah kerja PEP Zona 4, khususnya Lapangan Limau.
Djoko Siswanto berharap produksi sumur TMB-028 dapat bertahan dalam jangka panjang dan keberhasilan serupa bisa diterapkan pada sumur-sumur lain yang memiliki permasalahan sejenis.
Menurut laporan tersebut, masih terdapat ribuan sumur yang berpotensi mendapatkan penanganan melalui metode perawatan dan stimulasi serupa.
Penggunaan bahan kimia produksi dalam negeri juga menjadi salah satu harapan agar kegiatan intervensi sumur dapat memberikan manfaat lebih luas bagi industri hulu migas nasional.
Keberhasilan TMB-028 menjadi pengingat bahwa peningkatan lifting minyak tidak hanya bergantung pada penemuan lapangan baru dan pengeboran sumur eksplorasi.
Optimalisasi sumur eksisting melalui teknologi perawatan yang tepat juga dapat menjadi salah satu jalan untuk menjaga dan meningkatkan produksi minyak Indonesia.
“Mohon doa produksi dapat bertahan lama dan pekerjaan serupa dapat dikerjakan pada ribuan sumur lainnya yang mempunyai problem sumuran yang sama dan bahan kimianya menggunakan produk dalam negeri,” demikian harapan dalam laporan tersebut.
Bagi SKK Migas dan Pertamina, capaian ini menjadi tambahan semangat dalam mendorong peningkatan lifting minyak nasional.
Dari Lapangan Limau, satu sumur yang semula hanya menghasilkan sekitar 11 barel minyak per hari kini mampu mencatatkan produksi 600 barel per hari. Sebuah kabar baik yang diharapkan dapat menjadi awal dari lebih banyak keberhasilan serupa di lapangan-lapangan migas Indonesia.


