Jakarta Pusat, Jakarta,ruangenergi.com-Kabar menggembirakan datang dari kegiatan pengeboran migas di Sumatera Selatan. PT Pertamina EP Regional 1 bersama mitra Kerja Sama Operasi (KSO) Bass Oil Sukananti Limited (KSO BOSL) berhasil menemukan zona hidrokarbon baru melalui pengeboran Sumur Pengembangan BNN-6 di Struktur Bunian, Desa Tanjung Miring, Kabupaten Ogan Ilir.
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menyampaikan kabar tersebut dalam laporan Good News KSO pada Kamis (17/9/2026).
“Alhamdulilah, PT Pertamina EP Regional 1 bersama mitra KSO Bass Oil Sukananti Limited berhasil menyelesaikan kegiatan pengeboran Sumur Pengembangan BNN-6,” demikian laporan Djoko seperti diceritakan kepada ruangenergi.com
Sumur BNN-6, yang sebelumnya ditajak dengan nama BNN-F, mulai dibor pada 5 Juni 2026. Pengeboran ini merupakan bagian dari pelaksanaan Program Komitmen Pasti KSO BOSL.
Sumur dibor secara directional hingga mencapai kedalaman akhir sekitar 1.807 meter measured depth (MD), dengan target reservoir pada Formasi Talang Akar.
Hasil pengeboran dan evaluasi formasi kemudian mengidentifikasi zona hidrokarbon baru pada salah satu interval target yang sebelumnya belum pernah diproduksikan.
Temuan tersebut tidak berhenti pada hasil logging. Kemampuan produksi interval baru itu selanjutnya dikonfirmasi melalui serangkaian well testing.
Pada pengujian awal 8–10 September 2026, interval tersebut mencatat laju alir sementara sebesar 1.257 barel minyak per hari (BOPD) pada bukaan choke 10,5 mm atau 26/64 inci. Tubing Head Pressure (THP) rata-rata tercatat sekitar 440 psi.
Pengujian dilanjutkan pada 14–15 September 2026 dengan beberapa variasi bukaan choke. Masing-masing kondisi diuji selama delapan jam.
Hasilnya cukup menarik.
Pada bukaan choke 8,3 mm, Sumur BNN-6 menghasilkan 1.329 BOPD, dengan water cut 0 persen, Gas Oil Ratio (GOR) 508 scf/stb, dan THP 449 psi.
Ketika bukaan choke diperbesar menjadi 12,7 mm, laju alir meningkat menjadi 1.765 BOPD, dengan water cut 5 persen, GOR 368 scf/stb, dan THP 422 psi.
Angka 1.765 BOPD tersebut menjadi capaian tertinggi sementara dari rangkaian pengujian. Jika dibandingkan dengan target 1.250 BOPD, hasil uji alir itu sekitar 41 persen lebih tinggi dari target.
Namun, angka tersebut belum serta-merta ditetapkan sebagai laju produksi permanen.
SKK Migas dan KSO masih akan mengevaluasi hasil pengujian untuk menentukan laju produksi optimum dengan mempertimbangkan karakteristik reservoir dan keberlanjutan produksi dalam jangka panjang.
Menariknya, Sumur BNN-6 tidak hanya menyimpan satu peluang.
Dari evaluasi sumur, masih teridentifikasi dua interval potensial lainnya yang dapat diuji pada tahapan berikutnya.
Desain komplesi BNN-6 memungkinkan pengujian masing-masing interval secara terpisah melalui pengoperasian Sliding Side Door (SSD).
Dengan skema tersebut, kemampuan produksi setiap interval dapat dievaluasi secara individual sebelum ditentukan strategi produksi, termasuk kemungkinan commingling apabila dinilai sesuai.
Bagi pengembangan Struktur Bunian, keberhasilan BNN-6 memiliki arti penting. Temuan zona hidrokarbon baru berpotensi menambah produksi sekaligus membuka peluang pengembangan reservoir yang selama ini belum memberikan kontribusi terhadap produksi.
Data hasil pengeboran, logging, dan well testing selanjutnya akan menjadi dasar untuk memperbarui pemahaman kondisi subsurface dan menyusun strategi pengurasan reservoir.
Operasi berikutnya akan difokuskan pada evaluasi menyeluruh hasil well test, pengujian dua interval potensial secara bertahap, serta penentuan operating choke dan laju produksi optimum.
Tujuannya satu: memperoleh tambahan produksi dengan tetap menjaga perilaku tekanan (pressure behavior) dan kualitas reservoir agar produksi dapat berkelanjutan.
“Mohon doa sumur segera diproduksikan, Aamiin YRA,” tulis Djoko dalam laporan tersebut.
Dari Ogan Ilir, kabar BNN-6 menambah deretan optimisme baru di tengah upaya meningkatkan produksi minyak nasional: menemukan minyak adalah langkah awal, mempertahankan produksinya dalam jangka panjang adalah tantangan berikutnya.


