IATMI Dorong Kebijakan Migas yang Jaga Investasi dan Percepat Teknologi

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com — Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) mendorong kolaborasi yang lebih erat antara pemerintah, industri, akademisi, dan para profesional migas untuk memperkuat ketahanan energi nasional.

Ketua Umum IATMI Andre Wijanarko mengatakan, kolaborasi lintas pemangku kepentingan menjadi salah satu fokus utama dalam Simposium IATMI ke-18 Tahun 2026.

Berbicara kepada wartawan di sela-sela Simposium IATMI, Selasa (15/9/2026), Andre mengatakan IATMI ingin mengambil peran sebagai katalis yang mempertemukan berbagai kekuatan di sektor energi.

“IATMI menjadi katalis untuk mempersatukan akademisi, industri dan regulator,” kata Andre.

Menurut dia, ruang kolaborasi tersebut penting karena tantangan ketahanan energi Indonesia tidak bisa diselesaikan hanya oleh satu pihak. Diperlukan keterlibatan ahli, pelaku industri, pemerintah, hingga generasi muda untuk menentukan sektor mana yang harus dipercepat.

Simposium IATMI, lanjut Andre, menjadi salah satu wadah untuk membahas berbagai persoalan tersebut, termasuk membuka ruang bagi mahasiswa, profesional, dan pembuat kebijakan untuk bertukar gagasan.

Kebijakan Harus Menjaga Investasi

Salah satu perhatian IATMI adalah arah kebijakan migas nasional. Andre menilai Indonesia membutuhkan kebijakan yang mampu memberikan kepastian dan menjaga keberlanjutan investasi bagi pelaku usaha.

“Kebijakan yang kita perlukan adalah kebijakan yang menjamin sustainability bagi pelaku bisnis di Indonesia,” ujarnya.

Namun, kebijakan tersebut menurut Andre harus mampu menempatkan kepentingan pemerintah dan industri secara proporsional. Ia menyebut diperlukan kebijakan yang berada di tengah untuk memfasilitasi kepentingan kedua pihak dalam menjalankan amanah Pasal 33 UUD 1945.

Pada akhirnya, kata dia, pengelolaan sumber daya migas harus bermuara pada satu tujuan utama, yakni memastikan kekayaan alam Indonesia memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kemakmuran masyarakat.

IATMI juga melihat adanya pekerjaan besar untuk menutup kesenjangan produksi dan teknologi di sektor migas nasional.

Menurut Andre, para profesional IATMI memiliki kompetensi yang dapat disalurkan secara langsung untuk membantu pemerintah maupun industri menyelesaikan berbagai tantangan teknis.

“Gap produksi dan teknologi itu harus kita tutup dengan expertise yang kita punya,” katanya.

IATMI memiliki jaringan ahli yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia maupun di luar negeri. Para ahli tersebut, menurut Andre, siap dilibatkan untuk memberikan kontribusi dalam transformasi energi nasional.

Salah satu yang menjadi perhatian adalah mempercepat penerapan teknologi yang telah terbukti di negara lain agar dapat diterapkan di Indonesia dengan penyesuaian terhadap kondisi lapangan nasional.

“Teknologi yang sudah proven di luar negeri harus bisa kita implementasikan di dalam negeri dengan tepat,” ujarnya.

Transformasi sektor energi juga dinilai harus dimulai dari penguatan sumber daya manusia sejak di bangku perguruan tinggi.

Karena itu, IATMI mendorong pengaktifan kembali seksi mahasiswa agar lebih banyak berinteraksi langsung dengan industri dan pembuat kebijakan.

Andre menilai mahasiswa perlu mendapatkan gambaran nyata mengenai bagaimana teori yang dipelajari di kampus diterapkan di lapangan.

Salah satunya melalui program kunjungan industri, seperti kunjungan mahasiswa ke Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI).

Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya memahami industri migas berdasarkan teori dan buku teks, tetapi juga melihat secara langsung tantangan operasional yang dihadapi industri migas Indonesia.

Menurut Andre, percepatan teknologi juga tidak akan berjalan tanpa peningkatan kemampuan sumber daya manusia.

Karena itu, upskilling menjadi bagian penting dari strategi IATMI untuk memperkecil kesenjangan teknologi.

Alih kelola teknologi maupun bisnis dari perusahaan internasional kepada perusahaan nasional, menurutnya, juga harus dibarengi dengan kemampuan talenta Indonesia untuk mengambil peran secara maksimal.

Ia mencontohkan proses alih kelola yang melibatkan perusahaan nasional seperti Pertamina. Menurut Andre, talenta Indonesia tetap dapat memberikan kontribusi terbaik bagi perekonomian nasional, terlepas dari bendera perusahaan tempat mereka bekerja.

“Yang penting adalah talentanya Indonesia dan memberikan kontribusi terbaik untuk ekonomi Indonesia,” ujarnya.

Soal BUK Migas, IATMI Tunggu Forum Diskusi

Sementara terkait wacana pembentukan Badan Usaha Khusus (BUK) Migas, Andre memilih tidak masuk terlalu jauh ke dalam substansi pembahasannya.

Menurut dia, isu tersebut akan lebih tepat dibahas secara mendalam melalui forum diskusi yang disiapkan dalam rangkaian simposium.

Namun, ia menegaskan posisi IATMI tetap jelas: organisasi profesi tersebut akan mendukung upaya pemerintah memperkuat ketahanan energi nasional.

“IATMI secara profesional akan terus mendukung ketahanan energi nasional, dalam bentuk organisasi atau regulasi apa pun yang nantinya ditetapkan pemerintah,” kata Andre.

Bagi IATMI, bentuk kelembagaan maupun regulasi dapat berubah mengikuti kebutuhan zaman. Yang tidak boleh berubah adalah tujuan akhirnya, yakni memastikan sektor energi nasional memiliki fondasi teknologi, sumber daya manusia, investasi, dan kebijakan yang mampu menjamin ketahanan energi Indonesia.