Lifting Tetap BISA! Kemarau Surutkan Sungai, Kondensat Bangkanai Diangkut Truk-LCT

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Bangkanai, Kalteng, ruangenergi.com — Kemarau panjang mulai memberi tekanan terhadap kegiatan operasi hulu minyak dan gas bumi di Kalimantan Tengah. Surutnya debit sungai membuat pengangkutan kondensat dari Lapangan Bangkanai menghadapi kendala karena tongkang atau barge yang selama ini digunakan tidak lagi dapat beroperasi secara optimal.

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) Djoko Siswanto melaporkan kondisi tersebut pada Minggu (23/8/2026). Laporan itu disampaikan kepada Menteri ESDM, Wakil Menteri ESDM, Komwas SKK Migas, serta jajaran pimpinan.

Menurut Djoko, kondensat dari Lapangan Bangkanai, Kalimantan Tengah, selama ini dialirkan melalui pipa sepanjang sekitar 200 kilometer menuju barge atau tongkang. Namun, kemarau panjang menyebabkan sungai-sungai di wilayah tersebut mengalami penyusutan debit sehingga tongkang yang biasa digunakan tidak dapat masuk dan bersandar.

“Sehubungan dengan kemarau panjang, sungai di Kalimantan airnya surut sehingga barge/tongkang yang biasa digunakan untuk menampung kondensat melalui pipa sepanjang kurang lebih 200 kilometer dari Lapangan Bangkanai tidak bisa digunakan,” ujar Djoko dalam laporannya, seperti diceritakan kepada ruangenergi.com.

Kondisi tersebut tidak membuat kegiatan pengangkutan kondensat berhenti. Medco bersama SKK Migas menyiapkan skema alternatif agar produksi tetap dapat disalurkan.

Sekitar 600 BOPD kondensat kini diangkut menggunakan truk tangki. Selanjutnya, kondensat dibawa menggunakan LCT (Landing Craft Tank) menuju lokasi di sekitar sungai atau pelabuhan yang masih memungkinkan kapal tersebut untuk bersandar.

Skema alternatif ini menjadi langkah penting untuk menjaga kelancaran operasi sekaligus mempertahankan lifting di tengah kondisi alam yang tidak bersahabat.

Di balik kabar tersebut, Djoko juga menyampaikan harapan agar kemarau panjang segera berakhir. Hujan dibutuhkan bukan hanya untuk mengembalikan debit sungai sehingga jalur logistik kembali normal, tetapi juga untuk membantu pemadaman kebakaran yang terjadi di sejumlah wilayah.

“Mohon doa kemarau segera berakhir, hujan datang agar sungai-sungai ada airnya lagi dan kebakaran padam,” kata Djoko.

Bagi kegiatan hulu migas, kondisi ini menunjukkan bahwa faktor cuaca dan lingkungan dapat secara langsung memengaruhi rantai logistik dan pengangkutan hasil produksi. Namun, dengan koordinasi Medco dan SKK Migas, jalur alternatif disiapkan agar aktivitas tetap berjalan.

Djoko menutup laporannya dengan semangat optimistis: doa dan kerja nyata harus berjalan bersama untuk menjaga produksi dan lifting migas nasional.

“Bersama kita: Doa & BISA. Lifting naik: BISA, BISA, BISA.”