Industri Migas Butuh “Mesin Besar”, Desakan Hidupkan Kembali Eksplorasi Menguat

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com — Mantan Deputi Direktur Hulu Pertamina dan mantan Deputi BPMigas, Haposan Napitupulu, menilai kebangkitan industri minyak dan gas bumi (migas) Indonesia hanya dapat dicapai jika “mesin eksplorasi besar” kembali dihidupkan, terutama melalui kehadiran pemain global dengan kapasitas finansial dan teknologi tinggi.

Produksi minyak Indonesia yang pernah mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari kini turun drastis menjadi sekitar 600 ribu barel per hari. Penurunan ini dinilai tidak lepas dari berkurangnya aktivitas eksplorasi, khususnya di wilayah berisiko tinggi dan berbiaya besar.  

Pada masa lalu, eksplorasi masif didorong oleh kehadiran perusahaan migas global dengan kemampuan finansial dan teknologi tinggi. Namun dalam beberapa tahun terakhir, struktur operator bergeser ke perusahaan nasional dan independen, yang dinilai memiliki keterbatasan dalam menggarap wilayah frontier.

Akibatnya, penemuan cadangan baru mengalami penurunan signifikan.

Pengamat menilai, Indonesia perlu kembali menarik minat investor global dengan menciptakan iklim investasi yang kompetitif. Hal ini mencakup kepastian fiskal, stabilitas regulasi, ketersediaan data geologi, serta percepatan perizinan.

Selain itu, pembukaan wilayah eksplorasi baru secara agresif, khususnya di kawasan Indonesia Timur dan laut dalam, dinilai menjadi langkah penting untuk meningkatkan daya tarik investasi.

Di tengah persaingan global dengan negara-negara seperti Guyana dan Brazil, Indonesia dituntut menawarkan skema investasi yang lebih menarik agar tidak kehilangan arus modal internasional.

“Kapital global akan selalu bergerak ke wilayah yang paling menjanjikan,” jelas Haposan.

Dengan kondisi saat ini, pemerintah dinilai perlu segera mengambil langkah strategis untuk memastikan sektor migas kembali menjadi motor penggerak ekonomi nasional.