Kabar Gembira dari Djoko Siswanto: Sumur PHR di Riau Produksi 5,4 Kali Target!

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Riau, ruangenergi.com— Kabar menggembirakan datang dari kegiatan hulu minyak dan gas bumi nasional. PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) berhasil mengoperasikan sumur pengembangan Tiang 00004 di Provinsi Riau dengan produksi awal mencapai 1.246 barel minyak per hari (BOPD). Capaian ini setara 5,42 kali lipat dari target awal yang ditetapkan sebesar 230 BOPD.

Kabar positif tersebut dilaporkan Kepala SKK Migas Djoko Siswanto pada Minggu (25/10/2026), sebagai bagian dari perkembangan kegiatan operasi hulu migas yang diharapkan dapat menopang peningkatan produksi minyak nasional.

Berdasarkan laporan tersebut, Sumur Tiang 00004 resmi put on production (POP) pada 24 Oktober 2026, setelah menjalani rangkaian kegiatan pengeboran dan penyelesaian sumur.

“Alhamdulillah, Sumur Tiang 00004 menghasilkan minyak 1.246 BOPD atau 5 kali dari target di Pertamina Hulu Rokan,” demikian inti laporan Good News PHR yang disampaikan Djoko Siswanto, bercerita kepada ruangenergi.com

Keberhasilan Sumur Tiang 00004 menjadi kabar positif karena produksi awalnya jauh melampaui sasaran yang telah ditetapkan. Dengan target awal 230 BOPD, realisasi produksi sebesar 1.246 BOPD mencapai sekitar 542 persen dari target.

Sumur tersebut menargetkan lapisan reservoir Pematang. PHR memulai pengeboran atau tajak pada 17 September 2026, kemudian menyelesaikan kegiatan pengeboran pada 11 Oktober 2026.

Tahapan berikutnya adalah pekerjaan initial completion yang dilaksanakan pada 19 Oktober 2026. Setelah seluruh rangkaian tersebut, sumur berhasil mulai berproduksi pada 24 Oktober 2026.

Produksi awal itu menjadi modal penting bagi PHR dalam mengoptimalkan potensi lapangan yang dikelolanya di wilayah Riau.

Sumur Tiang 00004 dibor menggunakan metode directional drilling atau pengeboran berarah, dengan kedalaman akhir mencapai 4.770 kaki terukur (feet measured depth/ftMD).

Seluruh rangkaian pekerjaan, mulai dari pemindahan peralatan (move), pengeboran (drilling), hingga penyelesaian awal sumur (initial completion), berlangsung selama 36 hari.

Selain pencapaian produksi, aspek keselamatan kerja juga menjadi perhatian dalam pelaksanaan operasi tersebut. PHR mencatat total safe operations hours mencapai 882 jam sejak pengeboran dimulai hingga pengujian produksi.

Capaian itu mencerminkan upaya menjaga keselamatan, kesehatan kerja, keamanan, dan perlindungan lingkungan atau Health, Safety, Security, and Environment (HSSE), sekaligus menjalankan prinsip operational excellence.

Dalam industri hulu migas, keberhasilan pengeboran tidak hanya diukur dari seberapa cepat sumur diselesaikan, tetapi juga dari kemampuan menjaga keselamatan operasi dan menghasilkan produksi sesuai potensi reservoir.

Keberhasilan Sumur Tiang 00004 menambah kabar positif bagi kegiatan operasi PHR di Riau. Produksi awal yang melampaui target memberikan peluang kontribusi tambahan terhadap produksi minyak dari wilayah kerja yang dikelola perusahaan tersebut.

Meski demikian, produksi awal masih perlu diikuti pemantauan kinerja sumur untuk memastikan tingkat produksi dapat dipertahankan secara berkelanjutan. Stabilitas produksi, perilaku reservoir, serta pengelolaan operasi akan menjadi faktor penting dalam menentukan kontribusi jangka panjang sumur ini.

Dalam laporan tersebut, PHR dan SKK Migas juga menyampaikan harapan agar Sumur Tiang 00004 dapat terus berproduksi dalam jangka panjang.

Pesan yang mengiringi kabar baik ini pun jelas: keberhasilan pengeboran perlu diteruskan dengan konsistensi operasi dan upaya menjaga produksi.

Bagi industri hulu migas nasional, setiap tambahan produksi dari sumur pengembangan menjadi bagian dari ikhtiar memperkuat pasokan minyak dalam negeri. Semangat yang digaungkan dalam laporan itu pun tegas: lifting naik, BISA, BISA, BISA!