Prabumulih, Sumsel, ruangenergi.com-Hari jadi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) ke-81 mendapat kado istimewa dari sektor hulu minyak dan gas bumi. Sumur pengembangan GNK-114 yang dibor PT Pertamina EP Asset 2 atau PHR Zona 4 di Struktur Gunung Kemala, Field Prabumulih, Sumatera Selatan, mencatatkan hasil uji produksi jauh di atas target.
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto melaporkan, sumur GNK-114 berhasil menghasilkan potensi produksi gabungan mencapai 5.605,68 barel minyak per hari (BOPD) dan 2,96 juta standar kaki kubik gas per hari (MMSCFD) jika kedua string dibuka secara open flow.
Laporan tersebut disampaikan Djoko pada Selasa, 29 September 2026, bertepatan dengan rangkaian peringatan hari jadi ke-81 KESDM.
“Alhamdulillah, sebagai hadiah ulang tahun, PT Pertamina EP Asset 2 (PT PHR Zona 4) telah melakukan tajak pengeboran sumur pengembangan GNK-114,” ujar Djoko dalam laporan Good News kepada jajaran KESDM dan pimpinan SKK Migas, seperti diceritakan kepada ruangenergi.com
Sumur GNK-114 atau GNK-PD80 ditajak pada 13 Juli 2026. Setelah melalui tahapan pengeboran dan komplesi, sumur tersebut menjalani uji produksi menggunakan metode dual string completion.
Djoko bercerita, pada 27 September 2026, komplesi Long String pada lapisan TAF-K1 dengan interval 1.768–1.769 meter measured depth (mMD) menghasilkan laju alir 2.873,4 BOPD dan 1,49 MMSCFD gas secara natural open flow.
Angka tersebut jauh melampaui target produksi awal sebesar 216 BOPD.
Sehari kemudian, 28 September, giliran komplesi Short String pada lapisan TAF-C1 dan TAF-C2. Hasil uji produksi sementara mencatat 2.731,68 BOPD dan 1,47 MMSCFD gas.
Jika kedua string tersebut dibuka secara open flow, potensi alirannya mencapai sekitar 5.605,68 BOPD minyak dan 2,96 MMSCFD gas.
Meski demikian, angka tersebut masih merupakan potensi hasil uji. PHR Zona 4 masih perlu melakukan evaluasi bean performance pada kedua lapisan untuk mendapatkan konfigurasi produksi yang optimal sebelum aliran minyak dan gas diarahkan menuju EPF#5 Gunung Kemala.
Ditambahkan Djoko, GNK-114 dibor secara directional atau berarah menggunakan Rig PDSI #41.3/N110-UE hingga kedalaman akhir 1.885 meter measured depth (mMD) atau 1.884,66 meter true vertical depth (mTVD).
Yang menarik, seluruh fase pengeboran hingga uji produksi hingga 28 September 2026 dapat diselesaikan dalam 37 hari, lebih cepat dibandingkan program yang ditetapkan selama 55 hari.
Dari sisi keselamatan kerja, operasi GNK-114 juga mencatatkan 52.244 safe man hours sejak tajak. Capaian tersebut dibukukan dengan tetap mengedepankan aspek Health, Safety, Security and Environment (HSSE) serta operational excellence.
Sumur ini berada di Struktur Gunung Kemala, Field Prabumulih, sekitar sebelah barat laut Kota Prabumulih, Sumatera Selatan.
Sementara itu, berdasarkan field estimate, biaya yang telah dikeluarkan untuk kegiatan tersebut mencapai USD 6,424 juta, atau sekitar 74,56% dari Approved for Expenditure (AFE) yang telah disetujui.
Djoko menambahkan, SKK Migas berharap hasil positif GNK-114 dapat segera dikonversi menjadi produksi nyata untuk mendukung peningkatan lifting minyak nasional.
Dengan hasil uji kedua string tersebut, target awal produksi sekitar 5.600 BOPD dan 3 MMSCFD gas menjadi potensi yang tengah dioptimalkan.
“Mohon doa, insya Allah sumur segera diproduksikan sekaligus dual string/tubing supaya produksinya sebesar kurang lebih 5.600 BOPD dan gas 3 juta standar cubic feet per day, dengan aman, lancar dan selamat,” demikian laporan Djoko.
Bagi industri hulu migas, keberhasilan GNK-114 menjadi tambahan amunisi untuk mengejar peningkatan produksi dan lifting. Bagi KESDM, capaian tersebut hadir tepat pada momentum peringatan hari jadi ke-81 kementerian yang membidangi sektor energi dan sumber daya mineral.
Doa dan kerja keras di lapangan kembali menjadi satu paket: lifting naik, produksi meningkat.
“Bersama kita, Doa & BISA. Lifting Naik: BISA, BISA, BISA.”


