Kinerja Emiten MIND ID 2025: ANTM Bersinar, PTBA Tertekan, Siapa Jawara 2026?

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta, ruangenergi.com– Tahun 2025 menjadi panggung yang menunjukkan wajah berbeda bagi emiten-emiten tambang di bawah naungan holding BUMN pertambangan MIND ID. Di tengah gejolak harga komoditas global, ada yang melesat tajam memanfaatkan momentum pasar, namun ada pula yang harus berjuang menghadapi tekanan harga dan margin.

Bintang utama tahun lalu tak lain adalah PT Aneka Tambang Tbk. Emiten tambang mineral ini mencatat lonjakan pendapatan 22% menjadi Rp84,64 triliun, sementara laba bersihnya meroket lebih dari dua kali lipat atau 106% menjadi Rp7,92 triliun. Kinerja impresif tersebut terutama ditopang oleh bisnis emas yang menyumbang hampir 80% pendapatan perusahaan.

Tak hanya emas, bisnis nikel ANTM juga menunjukkan performa gemilang. Pendapatan dari segmen feronikel dan bijih nikel melonjak 56%, sedangkan bisnis bauksit dan alumina tumbuh 62% sepanjang tahun. Kombinasi harga komoditas yang menguntungkan dan peningkatan volume penjualan menjadi mesin penggerak utama pertumbuhan perusahaan.

“Capaian ini memperkuat posisi ANTM sebagai perusahaan pertambangan mineral terintegrasi yang berorientasi pada penciptaan nilai jangka panjang,” ujar Direktur Utama ANTM, Untung Budiharto.

PTBA: Penjualan Naik, Laba Justru Turun

Di sisi lain, cerita berbeda dialami PT Bukit Asam Tbk. Meski volume penjualan batubara meningkat 6% menjadi 45,42 juta ton, perusahaan harus menghadapi realitas penurunan harga batubara global.

Pendapatan PTBA turun tipis menjadi Rp42,65 triliun, sementara laba bersih anjlok 42,55% menjadi Rp2,93 triliun. Koreksi ini mencerminkan berakhirnya era “supercycle” batubara yang sempat mendongkrak keuntungan sektor tersebut pada 2022–2023.

Direktur Utama PTBA, Arsal Ismail, menegaskan bahwa perusahaan tetap mampu menjaga operasional yang solid di tengah tekanan pasar. Optimalisasi pasar ekspor dan efisiensi biaya menjadi strategi utama untuk menjaga profitabilitas.

INCO Menikmati Stabilitas Nikel

Sementara itu, PT Vale Indonesia Tbk berhasil membukukan kinerja positif. Pendapatan naik 4,18% menjadi US$990,19 juta, sedangkan laba bersih melonjak hampir 32% menjadi US$76,06 juta.

Kinerja INCO didukung oleh stabilisasi harga nikel dan berbagai upaya efisiensi operasional yang dijalankan sepanjang tahun.

Harga Komoditas Jadi Penentu

Analis menilai perbedaan kinerja emiten-emiten MIND ID merupakan cerminan langsung dari dinamika harga komoditas global. Menurut analis Pilarmas Investindo Sekuritas, Arinda Izzaty, lonjakan laba ANTM sangat terkait dengan kuatnya harga emas dan nikel sepanjang 2025.

Sebaliknya, pelemahan laba PTBA mencerminkan normalisasi harga batubara yang terjadi setelah periode harga tinggi beberapa tahun sebelumnya. Sedangkan INCO menikmati manfaat dari harga nikel yang lebih stabil dan peningkatan efisiensi operasional.

Hilirisasi Jadi Kunci Masa Depan

Memasuki 2026, perhatian pasar mulai bergeser dari sekadar harga komoditas menuju proyek hilirisasi. Kepala Riset KISI, Muhammad Wafi, menilai pembangunan smelter dan proyek pengolahan mineral akan menjadi game changer bagi emiten-emiten MIND ID.

Hilirisasi dinilai mampu menciptakan margin yang lebih tinggi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap fluktuasi harga komoditas mentah. Namun, proyek-proyek tersebut membutuhkan investasi besar sehingga kebutuhan pendanaan eksternal menjadi tantangan tersendiri.

Siapa Pemenang 2026?

Pandangan analis terhadap prospek tahun ini pun beragam. Wafi melihat PTBA berpeluang menjadi emiten dengan kinerja terbaik berkat potensi pemulihan harga batubara global dan valuasi saham yang masih menarik. Sebaliknya, Arinda menilai ANTM dan INCO tetap menjadi tulang punggung pertumbuhan MIND ID karena eksposur mereka terhadap nikel, komoditas strategis dalam rantai pasok kendaraan listrik dunia.

Satu hal yang pasti, perjalanan emiten-emiten MIND ID pada 2026 akan sangat ditentukan oleh tiga faktor utama: arah harga komoditas global, keberhasilan program efisiensi, dan kemajuan proyek hilirisasi. Di tengah ketidakpastian pasar dunia, ketiga faktor itu akan menjadi penentu siapa yang mampu keluar sebagai juara berikutnya.