Laut Jawa Timur dan Madura Kaya Hidrokarbon, Oki Muraza Dorong Konsep “Shared Processing”

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Oki Muraza mendorong perubahan cara pandang dalam mengelola kekayaan hidrokarbon di Jawa Timur. Menurutnya, cadangan migas yang relatif kecil atau marginal tetap bisa dikomersialkan jika didukung infrastruktur pengolahan yang digunakan secara bersama.

Gagasan tersebut disampaikan Oki Muraza melalui akun Instagram pribadinya dalam tulisan bertajuk “Ecosystem Orchestration toward stronger Energy Resilience.”

Oki menyoroti potensi hidrokarbon yang berada di Laut Jawa Timur dan Madura. Menurut dia, diperlukan pemanfaatan platform bersama agar pengelolaan sumber daya tersebut lebih efisien dibandingkan setiap bisnis berjalan sendiri-sendiri.

“Dengan kekayaan hydrocarbon yang ada di Laut Jawa Timur dan Madura, kita perlu memikirkan bagaimana menggunakan Platform Bersama agar lebih efisien daripada bisnis yang terpisah,” tulis Oki.

Menurut Oki, konsep tersebut juga dapat membuka jalan bagi resource commercialization atau monetisasi cadangan hidrokarbon yang selama ini dinilai tidak terlalu besar.

Ia mengingatkan, pola pembangunan fasilitas pengolahan pada masa lalu cenderung terpisah. Satu lapangan memiliki operator dan profil produksinya sendiri, kemudian dibangun fasilitas pengolahan masing-masing.

Ke depan, pola tersebut dinilai perlu diubah.

Oki menawarkan konsep Shared Processing Infrastructure, khususnya untuk kawasan Jawa Timur. Dengan konsep ini, fasilitas pengolahan dapat dimanfaatkan secara bersama oleh sejumlah lapangan sehingga investasi tidak harus dibebankan kepada satu lapangan saja.

“Memaksimalkan utilization dari existing processing infrastructure adalah cara bijaksana untuk mengatasi keterbatasan CAPEX dan cadangan hydrocarbon yang marginal,” tulisnya.

Bukan Sekadar Pabrik LPG

Oki juga menjelaskan bahwa pabrik LPG pada dasarnya bukan sekadar fasilitas untuk menghasilkan LPG. Di dalamnya terdapat rangkaian proses yang mengolah aliran hidrokarbon dari lapangan menjadi produk bernilai ekonomi.

Secara umum, fasilitas tersebut mencakup gas conditioning, seperti dehidrasi dan sweetening, untuk menghilangkan uap air serta mengurangi risiko korosi. Jika diperlukan, proses ini juga memisahkan komponen seperti CO₂ dan H₂S.

Tahap berikutnya adalah NGL extraction, yang dapat menggunakan teknologi refrigeration atau turbo-expander untuk mendinginkan aliran gas sekaligus memisahkan hidrokarbon yang lebih berat, seperti propana, butana, dan pentana, dari metana.

Selanjutnya terdapat jajaran kolom fraksinasi, seperti deethanizer, depropanizer, dan debutanizer, yang berfungsi memisahkan produk berdasarkan fraksi hingga menghasilkan propana, butana, maupun campuran LPG C3+C4.

Produk yang dihasilkan kemudian membutuhkan fasilitas penyimpanan, yang umumnya menggunakan storage spheres.

Oki mengungkapkan, pemikiran mengenai optimalisasi fasilitas tersebut muncul setelah dirinya berkunjung ke Pabrik LPG di Pangkah, Jawa Timur, pekan lalu.

Gagasan Oki ini sejalan dengan dorongan Pertamina untuk memperkuat sinergi lintas bisnis dan mengoptimalkan aset yang sudah tersedia. Sebelumnya, Oki juga menekankan pentingnya semangat One Pertamina agar berbagai entitas di dalam Pertamina dapat menyelesaikan persoalan secara bersama-sama demi memperkuat ketahanan energi nasional. 

Intinya, bagi Oki, cadangan marginal bukan berarti tidak bernilai. Dengan orkestrasi ekosistem, berbagi infrastruktur dan memaksimalkan fasilitas yang sudah ada, sumber daya yang sebelumnya sulit ekonomis bisa memiliki peluang untuk dikomersialkan.