Masela Akhirnya Bergerak! Setelah 27 Tahun Menanti, Mimpi Besar Energi Indonesia Resmi Dimulai

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Saumlaki, Maluku, ruangenergi.com-  Fajar 16 Juli 2026 menyingsing dengan nuansa berbeda di Pulau Yamdena.

Di kawasan Lermatang, tak jauh dari Kota Saumlaki, deretan alat berat, tenda-tenda raksasa, dan lalu lalang pekerja menjadi pemandangan yang selama bertahun-tahun hanya hadir dalam imajinasi masyarakat.

Hari itu, penantian panjang akhirnya menemukan jawabannya.

Pemerintah menjadwalkan seremoni groundbreaking pembangunan fasilitas pengolahan gas alam cair (LNG) di darat untuk Proyek Abadi Blok Masela. Sebuah seremoni yang mungkin hanya berlangsung beberapa jam, tetapi menjadi penutup perjalanan panjang hampir 27 tahun sejak Kontrak Bagi Hasil (Production Sharing Contract/PSC) Blok Masela ditandatangani pada 1998.

Bagi industri migas nasional, ini bukan sekadar peletakan batu pertama. Ini adalah momentum ketika salah satu proyek energi terbesar di Indonesia akhirnya benar-benar keluar dari ruang perencanaan dan memasuki tahap pembangunan.

Berawal dari Laut Dalam Arafura

Kisah Masela dimulai jauh dari daratan.

Blok Masela berada di Laut Arafura, sekitar 150–160 kilometer dari Pulau Yamdena, di kawasan laut dalam yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai wilayah eksplorasi berisiko tinggi.

Namun tantangan itu terbayar ketika eksplorasi menemukan Lapangan Abadi, salah satu cadangan gas terbesar yang pernah ditemukan di Indonesia.

Temuan tersebut langsung mengubah peta industri migas nasional. Lapangan Abadi diproyeksikan mampu memproduksi sekitar 9,5 juta ton LNG per tahun, memasok sekitar 150 MMSCFD gas pipa, serta menghasilkan kondensat dalam jumlah signifikan setiap harinya.

Dengan nilai investasi yang diperkirakan mencapai sekitar US$20 miliar, Proyek Abadi Masela menjadi salah satu investasi hulu migas terbesar dalam sejarah Indonesia.

Ironisnya, besarnya potensi justru membuat perjalanan proyek semakin panjang.

Selama bertahun-tahun, Masela menjadi arena perdebatan mengenai konsep pengembangan. Pilihannya sederhana, tetapi dampaknya sangat besar: membangun kilang LNG terapung (Floating LNG/FLNG) di tengah laut atau memindahkan fasilitas pengolahan ke darat agar memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat Maluku.

Perdebatan itu berlangsung bertahun-tahun sebelum pemerintah akhirnya menetapkan konsep onshore LNG.

Keputusan tersebut membawa konsekuensi besar. Hampir seluruh desain proyek harus disusun ulang, termasuk kajian teknik dan Front End Engineering Design (FEED). Jadwal pembangunan kembali bergeser, sementara berbagai proses perizinan dan evaluasi harus dimulai dari awal.

Masela pun kembali menjadi simbol proyek besar yang seolah tak kunjung bergerak.

Perjalanan panjang itu juga diwarnai perubahan komposisi mitra.

Operator proyek tetap berada di tangan INPEX Masela Ltd bersama PT Pertamina Hulu Energi, sementara Petronas bergabung sebagai mitra strategis menggantikan Shell yang melepas kepemilikannya.

Masuknya mitra baru membawa optimisme baru.

Pemerintah kemudian menetapkan Proyek Abadi Masela sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN), menegaskan posisinya sebagai salah satu proyek kunci dalam menjaga ketahanan energi Indonesia sekaligus meningkatkan pemanfaatan sumber daya gas nasional.

Ketika berbagai persoalan teknis mulai menemukan jalan keluar, tantangan baru muncul di daratan.

Pembangunan fasilitas LNG membutuhkan lahan seluas ratusan hektare. Proses pembebasan lahan, penyelesaian ganti tanam tumbuh, dialog dengan masyarakat, hingga penataan kawasan membutuhkan waktu yang tidak singkat.

Namun memasuki pertengahan 2026, satu per satu hambatan tersebut berhasil diselesaikan.

Kepastian itu membuka jalan bagi dimulainya pembangunan fisik proyek yang selama ini dinantikan.

Kepemimpinan yang Mempercepat Langkah

Banyak pelaku industri migas menilai percepatan menuju groundbreaking tidak terjadi begitu saja.

Di balik penyelesaian berbagai persoalan yang selama bertahun-tahun menghambat proyek, terdapat koordinasi intensif antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, SKK Migas, kontraktor kontrak kerja sama, dan masyarakat.

Di garis depan proses tersebut, Kepala SKK Migas Djoko Siswanto bersama Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia memainkan peran penting dalam mengawal percepatan Proyek Abadi Masela.

Melalui koordinasi lintas kementerian, penyelesaian berbagai aspek perizinan, pembebasan lahan, hingga sinkronisasi antar-pemangku kepentingan, keduanya berhasil mendorong proyek yang selama bertahun-tahun berjalan lambat menuju tahap konstruksi.

Bagi banyak kalangan, keberhasilan menghadirkan groundbreaking bukan sekadar pencapaian administratif. Ia menjadi bukti bahwa mimpi lama yang sempat tertunda akhirnya mulai diwujudkan melalui kerja nyata.

Saumlaki Bersiap Menjadi Kota Energi

Menjelang seremoni groundbreaking, denyut kehidupan Saumlaki berubah.

Puluhan ton logistik dikirim melalui laut dan udara. Peralatan konstruksi mulai berdatangan. Tenda-tenda besar, generator listrik, pendingin ruangan, hingga berbagai fasilitas pendukung dipersiapkan untuk menyambut dimulainya pembangunan.

Di balik kesibukan itu tersimpan harapan masyarakat.

Masela diyakini akan menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi baru bagi Kepulauan Tanimbar. Aktivitas pelabuhan diperkirakan meningkat. Infrastruktur jalan berkembang. Sektor perhotelan, jasa logistik, transportasi, hingga pelaku UMKM lokal diproyeksikan ikut menikmati efek berganda dari investasi bernilai miliaran dolar tersebut.

Groundbreaking 16 Juli 2026 bukanlah garis akhir perjalanan Proyek Abadi Masela.

Justru dari titik itulah pekerjaan sesungguhnya dimulai.

Pembangunan fasilitas LNG darat, jaringan pipa bawah laut, fasilitas produksi lepas pantai, FPSO, hingga berbagai infrastruktur pendukung akan berlangsung dalam beberapa tahun ke depan sebelum Lapangan Abadi mulai mengalirkan gas sesuai target pemerintah pada akhir dekade ini.

Namun satu hal kini telah berubah.

Blok Masela tidak lagi dikenal sebagai proyek yang terus tertunda.

Untuk pertama kalinya dalam hampir tiga dekade, sejarah panjang proyek itu memasuki fase pembangunan nyata.

Dari dasar Laut Arafura hingga daratan Saumlaki, Indonesia sedang menulis babak baru industri migas nasional. Sebuah babak yang diharapkan bukan hanya menghadirkan pasokan energi bagi negeri, tetapi juga menggerakkan investasi, membuka ribuan lapangan kerja, mempercepat pembangunan kawasan timur Indonesia, serta memperkuat ketahanan energi nasional untuk puluhan tahun ke depan.

Setelah 27 tahun menunggu, mimpi besar bernama Blok Masela akhirnya tidak lagi berhenti di atas kertas. Di Saumlaki, mimpi itu mulai dibangun menjadi kenyataan.

16 Juli 2026 akan ada cerimonial groundbreaking yang menurut rencana dihadiri oleh Presiden Prabowo Subianto dan sejumlah menteri di Kabinet Merah Putih, Mesdm Bahlil Lahadalia, Kepala SKK Migas Djoko Siswanto, Dirjen Migas Laode Sulaeman, PLT Kepala BLU Lemigas M Ikhsan Kiat dan sejumlah petinggi SKK Migas dan Migas.