Masela, Danantara, PHE, dan Trustee Borrowing Scheme: Proyek US$20 Miliar yang Tidak Bisa Dibiayai dengan Uang Receh

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Wacana keterlibatan Danantara dalam mendukung pembiayaan Proyek LNG Abadi di Blok Masela memunculkan beragam spekulasi. Sebagian publik membayangkan Danantara akan menjadi penyandang dana utama proyek senilai sekitar US$20 miliar tersebut. Namun, mantan Deputi BPMigas Haposan Napitupulu menegaskan bahwa kenyataannya jauh lebih kompleks.

Menurut Haposan, Danantara bukanlah pihak yang akan mengambil alih kepemilikan ataupun risiko proyek Masela. Perannya lebih tepat diposisikan sebagai fasilitator pembiayaan melalui skema trustee borrowing scheme atau mekanisme pinjaman terpusat di tingkat grup perusahaan.

“Danantara dapat membuka akses terhadap sumber pembiayaan global, tetapi pemilik investasi sekaligus penanggung risiko tetap Pertamina Hulu Energi (PHE) melalui PHE Masela sebagai pemegang participating interest (PI) sebesar 20 persen,” ujarnya.

Haposan mengingatkan bahwa Proyek LNG Abadi bukanlah proyek migas biasa. Dengan estimasi investasi mencapai US$19–20 miliar atau sekitar Rp330 triliun, proyek tersebut mencakup pembangunan fasilitas produksi lepas pantai, sistem bawah laut, jaringan pipa, kilang LNG darat, hingga fasilitas Carbon Capture and Storage (CCS).

Sebagai mitra dengan PI 20 persen, PHE diperkirakan membutuhkan pendanaan sekitar US$4 miliar. Nilai itu pun belum memasukkan potensi kenaikan biaya proyek, bunga selama masa konstruksi, kebutuhan modal kerja, maupun pengembangan sumur tambahan untuk menjaga tingkat produksi.

“Persoalannya bukan hanya menyediakan US$4 miliar, tetapi memastikan dana selalu tersedia setiap kali operator mengeluarkan cash call,” kata Haposan.

Dalam pandangan Haposan, muncul persepsi yang keliru bahwa Danantara akan menjadi investor langsung di Blok Masela. Ia menegaskan bahwa Danantara tidak memiliki participating interest, bukan operator, tidak mengebor sumur, dan tidak menerima bagian LNG yang diproduksi.

Peran Danantara lebih menyerupai penggalang dana di tingkat grup yang kemudian menyalurkan pembiayaan kepada Pertamina, diteruskan ke PHE hingga akhirnya digunakan oleh PHE Masela untuk memenuhi kewajiban investasi.

“Kalau dianalogikan, PHE memegang tiket pertandingan dan turun bermain. Danantara hanya membantu membayar ongkos perjalanan menuju stadion,” jelasnya.

Haposan menilai pembiayaan melalui Danantara berpotensi memberikan sejumlah keuntungan. Entitas dengan neraca yang lebih besar dinilai memiliki daya tawar lebih kuat di hadapan bank internasional, sehingga bisa memperoleh pinjaman dengan tenor lebih panjang dan biaya dana yang lebih kompetitif.

Selain itu, risiko pembiayaan dapat dilihat dari keseluruhan portofolio grup, bukan hanya satu proyek yang belum menghasilkan arus kas.

Namun ia mengingatkan, biaya pinjaman murah di tingkat awal belum tentu tetap murah ketika diteruskan kepada PHE. Masih ada bunga, biaya lindung nilai, biaya pengaturan pinjaman (arrangement fee), hingga risiko fluktuasi nilai tukar yang harus dihitung secara transparan.

Haposan juga mengingatkan bahwa skema pembiayaan terpusat membawa sejumlah risiko yang perlu diantisipasi, mulai dari risiko kurs, ketidaksesuaian jatuh tempo pinjaman dengan jadwal produksi, pembengkakan biaya proyek (cost overrun), hingga potensi subsidi silang antar-BUMN.

Karena itu, ia menekankan pentingnya transparansi mengenai siapa peminjam resmi kepada bank, siapa yang menanggung risiko pembayaran, bagaimana skema bunga diterapkan, serta bagaimana pengawasan dilakukan terhadap penggunaan dana.

“Transparansi menjadi kunci agar pembiayaan Masela benar-benar memperkuat proyek, bukan sekadar memindahkan utang dari satu kantong ke kantong lainnya,” katanya.

Di penghujung analisanya, Haposan menilai keberhasilan pembiayaan Masela tidak ditentukan oleh istilah finansial yang digunakan, melainkan oleh kemampuan menyediakan dana tepat waktu ketika proyek membutuhkannya.

Ia menegaskan bahwa Danantara memang dapat menjadi pintu masuk pembiayaan, tetapi seluruh hak, kewajiban, dan risiko proyek tetap berada di tangan PHE Masela sebagai pemegang PI 20 persen.

“Pada akhirnya, dalam proyek migas sebesar Masela, yang paling penting bukan siapa yang mengumumkan pinjaman, melainkan apakah ketika operator mengirim cash call, dananya benar-benar sudah tersedia,” pungkas Haposan.