Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com— Proyek LNG Abadi di Blok Masela memasuki fase yang semakin menentukan. Bukan hanya soal menyelesaikan desain dan menyiapkan konstruksi, INPEX Masela Ltd. kini mengejar dua kunci menuju Final Investment Decision (FID): kepastian pembeli gas dan kepastian pendanaan.
Ruangenergi.com mendapatkan cerita dari lingkup Kementerian, proses komersialisasi gas Abadi terus bergerak. Head of Agreement (HOA) telah disepakati dengan PLN, PGN, BP, dan Shell untuk rencana penjualan LNG sekitar 5,9 juta ton per tahun (MTPA).
Volume tersebut setara sekitar 80 persen dari target kapasitas pemasaran LNG sebesar 8 MTPA. Sementara untuk pasar domestik, HOA juga telah dilakukan dengan Pupuk Indonesia untuk pasokan gas pipa sebesar 150 MMSCFD.
Bagi proyek LNG bernilai investasi besar seperti Abadi, HOA baru merupakan langkah awal. Tantangan berikutnya adalah mengubah kesepakatan awal tersebut menjadi kontrak jual beli gas yang mengikat.
Karena itu, INPEX bersama para calon pembeli kini melanjutkan negosiasi menuju Sales and Purchase Agreement (SPA).
Negosiasi LNG SPA dengan PGN telah dilakukan pada 24 September 2026. Sementara pembahasan dengan PLN EPI dijadwalkan pada 29 September 2026.
Dengan demikian, pasar mulai dibentuk bersamaan dengan persiapan proyek. Kepastian mengenai alokasi dan harga gas menjadi salah satu bagian penting yang terus dinegosiasikan bersama para calon pembeli.
Setelah pembeli, giliran bank diyakinkan
Namun, mendapatkan pembeli belum cukup untuk membawa proyek US$20,9 miliar ini menuju FID.
Pendanaan menjadi pekerjaan rumah berikutnya.
Sumber ruangenergi.com bercerita, INPEX telah menandatangani LNG Development Agreement (LDA) pada Mei 2026. Saat ini pembahasan Financing Term Sheet dengan calon pemberi pinjaman serta proses Lender’s Due Diligence masih berlangsung. Targetnya, Lender Commitment Letter sudah diperoleh pada November 2026.
Dalam proses tersebut, SKK Migas juga telah menyampaikan kepada INPEX surat dari Kementerian ESDM mengenai dukungan pemerintah terhadap Proyek LNG Abadi.
Meski demikian, masih diperlukan konfirmasi Menteri Keuangan terkait regulasi yang berlaku pada saat LDA ditandatangani.
Di tengah upaya mengunci pembeli dan pendanaan, terdapat satu faktor lain yang tidak kalah penting: keekonomian proyek.
Sumber ruangenergi.com bercerita SKK Migas dan INPEX pun masih melakukan pembahasan mengenai keekonomian Lapangan Abadi. Targetnya, kepastian keekonomian proyek dapat diperoleh pada November 2026.
Dengan perkiraan biaya dan keekonomian yang ada saat ini, proyek masih membutuhkan upaya efisiensi untuk menekan nilai CAPEX sekaligus memperpendek waktu pelaksanaan proyek.
Dengan demikian, November 2026 bakal menjadi bulan yang sangat menentukan bagi Abadi LNG.
Dalam waktu yang relatif berdekatan, proyek ditargetkan mendapatkan tiga kepastian sekaligus: SPA dengan pembeli LNG, Lender Commitment Letter dari pemberi pinjaman, dan kepastian keekonomian proyek.
Semua itu akan menjadi bahan penting sebelum INPEX dan para pemegang kepentingan mengambil FID pada Desember 2026. Target proyek selanjutnya adalah mencapai Ready for Start Up atau RFSU pada Desember 2029.
Abadi kini bukan lagi sekadar cerita tentang cadangan gas besar di Maluku. Proyek ini tengah memasuki fase ketika gas harus punya pembeli, proyek harus punya pembiayaan, dan angka keekonomian harus benar-benar masuk akal.


