Dirjen Minerba

Mengimbangi Peran Batubara untuk Kebutuhan Energi dan Pertumbuhan Global

Jakarta, Ruangenergi.com – Pemanfaatan energi murah sangat diperlukan dalam menunjang kebutuhan masyarakat, akan tetapi energi bagaimana jika energi murah tersebut berasal dari batubara dan harus mengimbangi dengan pertumbuhan global sesuai kesepakatan Paris.

 

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Dirjen Minerba) Ridwan Djamaluddin, mengungkapkan sebesar 80% batubara dimanfaatkan untuk pembangkit listrik.

Ia mengatakan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) terbesar berasal dari sektor energi. Tercatat pada 2017 emisi GRK yang dihasilkan dari sektor energi sebesar 49% (pembangkit listrik, industri, komersial & rumah tangga, transportasi, dan sektor lainnya) dan sektor kehutanan sebesar 25% (kebakaran hutan).

Diprediksi peningkatan emisi GRK sektor energi akan terjadi pada tahun 2030 menjadi 58% jika tidak ada pengendalian dan upaya untuk menguranginya.

Beberapa negara maju sudah siap mengejar target agar kenaikan suhu muka bumi tidak lebih dari 1,5 derajat celcius pada tahun 2030. Seperti halnya Jerman yang mengatakan pada tahun 2038 sudah tidak ada lagi penggunaan batubara. Sementara Indonesia, China, Afrika Sleatan, India, masih belum menentukan (untuk menghentikan penggunaan batubara).

“Ini memang kondisi dunia yang mau tidak mau harus dilihat sebagai realita. Negara-negara maju sudah siap, mereka sudah selesai dengan urusan keekonomian, kita sedang bergerak menuju kemajuan yang sama tengah mengadapi isu tersebut,” paparnya.

Ia menyebut wilayah Asia Pasifik masih akan berencana menambah kapasitas pembangkit listrik yang bersumber dari batubara. Di mana wilayah Asia Pasifik memiliki kapasitas batubara dan pembangkit terbesar saat ini sekitar 76% termasuk rencana pengembangannya sekitar 94%.

Sementara, wilayah Asia Timur-Selatan memiliki permintaan listrik yang tinggi. Beberapa negara memiliki rencana pengembangan PLTU yang besar padahal kapasitas eksisting juga sudah tinggi.

Tanpa mempertimbangkan rencana pengembangan di wilayah Asia Pasifik saat ini akan terus meningkat sampai tahun setelah 2040 jika tidak ada pengendalian.

“Asia Pasifik dalam tataran global khususnya sebelum Pandemic Covid-19 adalah hotspot-nya pertumbuhan ekonomi dunia. Asia Pasifik adalahbagian bumi yang paling tinggi pertumbuhannya, salah satu isunya adalah adanya energi yang terjangkau, murah dari batubara,” katanya.

Ada beberapa alasan mengapa wilayah Asia Pasifik masih mengembangkan PLTU, yaitu :

Pertama, 60% cadangan batubara berada di Asia Pasifik; Kedua, tingginya ketergantungan pendapatan negara Asia Pasifik akan ekspor batubara seperti di Indonesia yang PNBP batubara tahun 2020 mencapai Rp 26 Triliun, tahun ini pastinya akan lebih banyak lagi); Ketiga,  pengaruh geopolitik negara China, Japan, Korea, dan India yang bergantung pada batubara;

Keempat, realita saat ini terjadi perlambatan pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT).

“Kita yang juga mendukung penggunaan EBT melihat terjadi perlambatan dalam pemanfaatan EBT. Realitanya mengalami keterlambatan dari target yang kita canangkan, dan hal in bertolak belakang dengan keinginan Paris Agreement,” imbuhnya.

Batubara

Pasalnya, pada 2020 realisasi penurunan emisi GRK yang dilakukan oleh Indonesia melebihi target yakni mencapai 64,4 juta ton CO2, sementara targetnya sebesar 58 juta ton CO2. Di mana realisasi itu dicapai melalui pemanfaatan EBT sebesar 53%, penerapan efisiensi energi sebesar 20%, penggunaan BBM rendah karbon sebesar 13%, pemanfaatan teknologi pembangkit bersih sebesar 9%, dan kegiatan reklamasi pasca tambang sebesar 4%.

“Keberhasilan ini (penurunan emisi GRK) harus dilanjutkan pada tahun-tahun berikutnya agar sesuai dengan ratifikasi Paris Agreement tahun 2016,” tegasnya.

Di sisi lain, terang Ridwan, cadangan batubara dalam negeri masih cukup banyak yakni sekitar 143,7 miliar ton sumber daya dan 38,84 miliar ton cadangan), dan diperkirana umur cadangan sekitar 60-65 tahun ke depan dengan asumsi produksi sebesar 600 juta ton per tahun.

BACA JUGA  Pemerintah Tetapkan HBA Bulan September 2020

Sebagian besar cadangan tersebut tersimpan di wilayah Kalimantan sebesar 62,11% (88,31 miliar ton sumberdaya dan 25,84 miliar ton cadangan) dan Sumatera sebesar 37,70% (55,08 miliar ton sumberdaya dan 12,96 miliar ton cadangan).

“Ini adalah sebuah kontensi besar yang mau tidak mau masih menjadi andalan Indonesia dalam menyediakan energi yang harganya terjangkau,” tuturnya.

Untuk itu, salah satu upaya pemerintah saat ini yaitu mendorong agar batubara dimanfaatkan dengan cara yang lebih bersih, salah satunya dengan melakukan hilirisasi.

“Bagus niatnya, tapi tantangannya sebagian besar sudah kita sadari, setidaknya ada dua yaitu yang pertama penguasaan teknologi dan yang kedua keekonomian dalam melakukan itu. Tantangannya besar sekali, sehingga berbagai nilai project nilai tambah batubara yang sudah kita canangkan dan kita dorong sampai saat ini masih berjalan dengan kecepatan yang masih belum sesuai dengan ekpektasi kita,” bebernya.

Menurutnya dengan meggunakan teknologi Carbon, Capture, Utilization, and Storage (CCUS) akan mengurangi emisi CO2 yang dilepas ke atmosfer melalui teknologi pemanfaatan CO2 untuk produksi alga maupun injeksi Enhanched Oil Recovery (EOR).

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh PT PLN dan Word Bank pada 2015 lalu, teknologi CCUS secara teknis layak untuk dikembangkan. Di mana teknologi ini dapat meningkatkan biaya produksi secara signifikan, akan tetapi masih bersaing dengan pembangkit listrik panasbumi. Untuk itu, insentif dan dukungan kebijakan dari Pemerintah sangat diperlukan untuk pengembangan teknologi CCUS ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *